
"Berlian..." panggil suara laki-laki dari arah belakangnya. Berlian pun berbalik memastikan siapa pemilik suara berat itu.
"Mas Satria!"
Satria tersenyum dan mempercepat langkahnya mendekati Berlian yang berdiri cantik di tengah lorong rumah sakit yang sama-sama mereka datangi.
"Selamat ya" satria mengulurkan tangannya.
"Selamat... untuk?" Berlian bingung dan ragu mau membalas uluran tangan satria.
"Kamu hamil,kan?"
"Lho, mas kok tahu?" Berlian makin bingung.
"Tadi aku sempat menguping pembicaraan kamu di ruangan itu" satria menunjuk kearah belakang. Tepatnya,ruang Dokter spesialis kandungan di rumah sakit itu.
"Selamat ya, karna sebentar lagi kamu akan jadi seorang ibu" ucap satria sekali lagi.
"Ohh... terima kasih Mas" Berlian tersenyum hangat membalas uluran tangan Satria.
"Mas satria kenapa ada di rumah sakit ini?. Bukannya hari ini mas harus mendampingi bintang wajib lapor?" Berlian bertanya setelah ingat masalah hukum suaminya.
"Kamu jangan panik begitu. Biarpun aku ngga ikut mendampingi suami kamu, masih ada tim kuasa hukum aku yang mengawakili"
Berlian baru bernafas lega.
"Aku kesini juga karna ada beberapa keterangan lagi yang aku butuhkan dari pihak rumah sakit ini mengenai kronologis kematian pak Reza yang sebenarnya"ungkap satria.
"Semoga usaha mas menemukan hasil yang positif dan kebenaran bisa dengan cepat terungkap" harap Berlian.
"Kamu banyak berdoa saja" kata satria.
"Pasti mas" jawabnya.
"Lian, maaf ya, aku harus menemui pihak rumah sakit dulu"
"Oh, silahkan mas. Aku juga mau pulang"
"Perlu ku antar?" tawar satria.
"Nggak usah, mas. Aku udah pesan taksi online " tolaknya halus.
"Kalau begitu aku duluan. Kamu pulangnya hati-hati dan jaga calon keponakan aku dengan baik"
Berlian tersenyum dan mengangguk pasti. Dia pun kembali berjalan setelah satria lebih dulu berjalan.
"Sayang, sekarang kita pulang ya. Kamu pasti mau bertemu sama papa kamu, kan?. Kamu yang sabar ya" Berlian bicara sendiri sambil terus mengelus perutnya.
...****************...
Bintang di buat cemas. Berkali-kali dia menghubungi ponsel istrinya tidak ada yang mengangkat. Saat menghubungi nomor rumah pun, Bi sumi yang mengangkat telponnya bilang kalau Berlian keluar dan tidak tahu pergi kemana.
Bintang mencoba menghubungi mamanya yang langsung pulang selesai menemaninya wajib lapor. mamanya sama panik dan cemasnya karna mendapati Berlian tidak ada di rumah begitu dia sampai.
"Sebenarnya kamu pergi kemana, sayang?. Apa kamu pergi ke rumah kakek?" duganya.
"Kalau memang mau pergi, harusnya kamu bilang dulu. Aku ga bakal cemas begini." rutuk nya.
...****************...
"Assalamualaikum..." ucapan salam yang sangat melegakan bagi mama Farida.
"Waalaikumsalam..." balas ibu cantik itu.
"kamu dari mana aja, nak?. Mama dari tadi cemas begitu tahu kamu tidak ada di rumah"
Berlian mencium tangan mama mertuanya dan tersenyum sopan.
"Maaf ma, lian perginya ngga bilang-bilang dulu"
__ADS_1
"Memangnya kamu pergi kemana?" tanya mama Farida ingin tahu.
"Lian cuma menemui kartika, ma" Berlian terpaksa berbohong. Dia sengaja melakukannya karna dia ingin Bintang orang yang pertama kali tahu tentang kehamilannya. Biar pun pada kenyataannya Satria yang lebih dulu tahu , Tapi berita kehamilan itu tidak keluar dari mulutnya langsung.
"mama, bisa kita bicara sebentar" pintanya .
"Kamu mau bicara apa?"
"Ini masalah hubungan lian dan rangga yang sebenarnya" ucap Berlian ragu.
"Bintang sudah cerita semuanya sama mama. Kita ngga usah membahas masalah ini lagi"
"Tapi,ma..." sela Berlian tak tenang.
"Sudah. Lebih baik kamu hubungi suami kamu. Dari tadi Bintang menghubungi mama menanyakan keadaan kamu. Kamu kenapa ngga mengangakat telpon dari suami kamu?"
"Astaghfirullah, hp nya mode silent setelah pesan taksi online, Lian ga buka lagi "
Berlian menepuk jidatnya sendiri lalu pamit sama mertuanya mau melakukan panggilan telepon ke Bintang di kamar nya.
...****************...
Perasaan Berlian di penuhi rasa bersalah ketika membuka hpnya dan melihat panggilan tak terjwab dari nomor suaminya segitu banyaknya.
Berlian bergegas menghubungi nomor suaminya. Sayang, nomor itu tidak aktif.
"kamu marah ya sama aku karna aku ngga mengangkat telpon kamu. Maafin aku.." sesal Berlian tak tenang.
Berlian pun meraba perutnya. Itu ampuh menenangkan hatinya yang tengah gelisah.
...****************...
Jalanan nya yang macet, di tambah baterai hpnya habis dan charger yang biasa tersedia di mobil nya entah dimana, membuat Bintang mengumpat tak jelas. Bunyi klakson mobil yang panjang jadi pelampiasan kekesalannya.
...****************...
"Sayang, ini sudah jam 7 malam, tapi kenapa papa kamu belum pulang juga" gelisah nya terus melihat ke arah pagar rumah dan tangannya tak pernah lepas meraba perutnya.
5 menit kemudian, senyum Berlian mengembang lega melihat cahaya lampu mobil dari luar pagar.
"Itu dia Papa kamu sudah pulang"
Bintang turun dari mobil dengan tampang kusut. Begitu melihat Berlian berdiri menyambutnya, wajahnya berubah ceria.
"Sayang..." Bintang menarik dan memeluk tubuh istrinya dengan erat.
"kamu itu kemana saja sih yank?. Dari tadi aku cemas mikirin kamu, telpon aku juga ngga di angkat" oceh Bintang .
Berlian melepaskan diri dari pelukan suaminya.
"maafin aku. Tadi aku keluar sebentar dan aku lupa handphonenya mode silent" katanya.
"Bikin orang cemas saja"
"Maaf" kata Berlian dengan senyum manjanya.
"Memangnya tadi kamu pergi kemana?. Kenapa kamu ngga bilang dulu sama aku? mana pakai taksi online lagi, kenapa ga minta di antar mang Asep?"
"Udah donk...aku kan udah dirumah. Kita masuk dulu. Mama lagi menunggu kita buat makan malam" Berlian menarik manja lengan suaminya. Bintang ikut saja, meski Berlian belum menjawab pertanyaannya.
...****************...
Di meja makan, mama Farida diam-diam mencurigai perubahan pola makan Berlian yang lebih lahap dan banyak dari biasanya.
"Gitu donk, sayang. Kalau kamu makan itu harus banyak biar kamu makin sehat dan segar lagi" Bintang senang tanpa ada rasa curiga seperti mamanya.
"Iya donk. Aku makan bukan untuk diri aku sendiri"
"Maksudnya?" Bintang tak mengerti arah pembicaraan istrinya. Sementara mama farida batuk-batuk tidak jelas.
__ADS_1
"Mama kenapa?" Bintang bertanya pada mamanya.
"Sepertinya kita akan kedatangan anggota baru di keluarga kita"
"Siapa?" Bintang masih saja tak mengerti.
Mama Farida melirik kearah Berlian. Berlian tersenyum dan mengangguk. Mama Farida ingin melonjak kegirangan, namun gelengan dan tatapan memohon dari Berlian bisa di pahami dengan jelas. Mama Farida memilih bersikap seoalah tak tahu.
...****************...
Selesai makan malam dan kembali ke kamar mereka, Berlian memeluk manja tubuh kekar suaminya.
"Sayang, kamu coba deh raba perut aku" pintanya.
"Untuk apa?" tanya Bintang heran.
Berlian yang tak sabar menarik tangan suaminya dan meletakkannya di perutnya.
"Perut kamu kenapa?. Kamu lapar?"
"Bukan!!... Kita kan baru saja makan malam. Masa aku lapar lagi" ujar Berlian manyun.
"Kalau bukan lapar, lalu perut kamu kenapa?. perut kamu sakit?" panik Bintang tiba-tiba.
"Kita ke rumah sakit, biar jelas perut kamu kenapa"
Bintang mau turun dari tempat tidur, namun Berlian cepat menarik wajahnya dan memberi sebuah kejutan tak terduga. Bintang cepat membalas kejutan itu dengan indah. Kesempatan itu tak terbuang sia-sia dan keduanya menikmati sampai Berlian lebih dulu melepaskan bibirnya dari pagutan suaminya.
"Sayang, terima kasih untuk hadiah terindah yang pernah kamu berikan untukku" ucap Berlian pelan.
"Hadiah?" kening Bintang mengernyit. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang di katakan Berlian.
"Cinta kamu" jelas Berlian singkat saja.
Senyum Bintang mengembang. Tangan kekarnya menarik lembut tubuh istrinya masuk kedalam dekapannya. Berlian dengan manja merebahkan kepalanya di dada suaminya yang bidang.
"Tidak terasa kita sudah hampir setahun menikah. Aku merasa begitu bahagia bisa hidup berumah tangga dengan kamu. Tapi kebahagian dalam rumah tangga kita akan jauh lebih lengkap dan sempurna jika aku bisa hamil dan melahirkan anak kita" Berlian menerawang bahagia.
Bintang yang bermaksud mencium ubun-ubun istrinya, mendadak menjauhkan bibirnya begitu mendengar impian Berlian seperti apa.
"Kamu coba bayangkan kalau kita punya anak?. Rumah ini pasti akan ramai dengan suara tawa anak kita yang menggemaskan. Dia akan berlari, tersenyum dan memanggil kamu papa,aku mama dengan suara dan mimik muka yang lucu"
Bintang tak mau menanggapi khayalan istrinya.
"Memang benar kata orang, kehadiran seorang anak akan membuat rumah tangga yang di bina akan terasa lengkap dan sempurna" Berlian melirik suaminya dengan harapan Bintang bisa terketuk pintu hatinya.
"Rumah tangga kita akan tetap lengkap dan sempurna karna kita berdua saling mencintai. Kenapa harus ada anak?. Bagi aku, cukup kamu seorang dalam hidup aku. Tidak perlu ada anak" Bintang memberi tanggapan yang berlawanan dengan istrinya.
Berlian jengah dan menjauh dari pelukan suaminya.
"kenapa sih kamu sebegitu antipatinya kalau kita punya anak?"
"Lian, kita pernah membahas masalah ini sebelumnya. Ngga perlu di ungkit lagi" nada suara Bintang sedikit meninggi, membuat Berlian terperangah.
"Bagaimana bisa kita ga membahas masalah ini?. Kamu dan aku itu suami istri dan aku ngga perlu menjelaskan sedalam apa ikatan kita dalam berhubungan. Kemungkinan untuk aku hamil itu sangat besar. Besok, lusa atau satu bulan lagi aku bisa saja hamil. Kalau Tuhan berkehendak, sekarang aku bisa saja hamil"
"Lian, cukup!" sela Bintang mulai tak suka dengan arah pembicaraan istrinya.
Mata Berlian berair. Hatinya sakit dan teriris dengan sikap suaminya. Apa jadinya kalau Bintang tahu kalau sebenarnya dia sekarang tengah mengandung?. Apa Bintang akan mengabaikan anaknya sendiri?. Berlian tak sanggup membayangkannya. (Ah... Bintang masa kamu bercocok tanam semangat tapi ga mau buahnya... 😏.)
"Aku benci sama kamu" Berlian menarik selimut dan tidur membelakangi suaminya. Berlian menangis tanpa suara.
"Sayang,maafin mama, maafin papa kamu juga. Harusnya papa dan mama ga bertengkar di saat kamu sudah hadir dalam rahim mama. Maafkan mama yang belum bisa memberitahu tentang kehadiran kamu. Mama butuh waktu memberi pengertian pada papa mu. Kamu jangan membenci papa ya karna ucapannya tadi. Bantu mama meluluhkan hati nya. Papa pasti sayang sama kamu" Berlian berusaha kuat dan tegar, tangannya tak lepas meraba perutnya guna memberi kekuatan pada janin yang baru berumur 6 minggu di kandungnya.
Sementara itu, Bintang termenung. Dia ingin merapat memeluk istrinya. Tapi nalarnya menangkap kekecewaan yang mendalam di rasakan oleh Berlian. Dia pun tak berani untuk memeluk.
Selama berhubungan dengan Berlian, Bintang berusaha melakukan nya dengan aman. Seringnya dia menggunakan "sarung" saat berhubungan dengan Berlian. Tapi memang beberapa kali kadang Bintang pun lupa memakainya. Terlebih beberapa Minggu terakhir, yang mana hubungan mereka yang makin harmonis seperti tak terpisahkan.
Kematian Bulan membuat Bintang trauma jika kelak dia punya anak. Sampai malam itu Bintang tak peka sama sekali akan kode-kode yang diberikan Berlian.
__ADS_1