
"Jangan pernah berkata seperti itu" Bintang sedikit mendekat duduk di sebelah berlian.
"Saat kamu bisa begitu tulus menunaikan kewajiban kamu, aku sudah sangat merasa bahagia. Aku tak menuntut lebih dari kamu karna kamu sangat tahu bagaimana memerankan peran kamu sebagai istriku"
"Ini baru awal pernikahan kita, akan ada banyak hal yang menyenangkan juga menyakitkan yang akan kita lalui ke depan dan kita tidak bisa berpatokan pada kebahagian ragawi saja. Jika kamu bisa tulus membahagiakan, apa kamu bisa kuat berjalan bergandengan tangan denganku melewati berbagai terjangan yang akan datang menghadang perjalanan rumah tangga kita?" Bintang menggenggam tangan istrinya dan menatapnya sungguh-sungguh.
"Aku tidak bisa kuat sendiri melalui semua itu, Bin. Aku butuh kamu di sampingku. Aku butuh dukungan dan kepercayaan mu agar aku bisa tetap tegak berdiri saat ada orang yang mungkin dengan sengaja ingin memisahkan hubungan kita"
"Tidak akan ada orang yang bisa memisahkan kita" Bintang spontan memeluk istrinya. Apa yang di katakan Berlian pada kalimat terakhirnya bagai sesuatu yang menakutkan sebab hati kecilnya tidak bisa menerima adanya perpisahan antara dia dan berlian.
"Kita akan bersama selamanya dan selamanya kamu akan tetap jadi istriku satu-satunya" tandas Bintang.
Berlian menatap suaminya dengan seribu tanda tanya. Begitu banyak hal yang tak terduga dari sisi Bintang yang dingin. Bintang yang kadang menyebalkan dan sering mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan bisa mengatakan hal yang membuat Berlian merasa begitu penting dan di butuhkan oleh suaminya.
"Aku juga ingin bersama kamu selamanya dan menjadikan pernikahan kita adalah pernikahanku yang pertama dan terakhir. Tidak akan ada laki-laki lain yang bisa membebaskan aku dari kamu"
Bintang tersenyum lebar dan lega mendengar ketegasan juga kesungguhan istrinya membina mahligai rumah tangga bersamanya. Senyum seperti itu sangat jarang di perlihatkan oleh Bintang di depan siapapun.
"Kamu sangat tampan jika tersenyum seperti ini" puji Berlian tanpa sungkan, membuat paras Bintang langsung memerah.
"Ternyata benar dugaan ku, kamu itu sebenarnya pemalu. Baru di puji begitu saja muka kamu langsung memerah gitu" ujar Berlian dengan senyum menggoda.
"Aku bukan pemalu, aku..."
"cuppp"
Bintang terkesima, Berlian tiba-tiba saja memotong protesnya dengan mengecup lembut pipi kanannya.
"Aku mau mandi dulu"
Berlian cepat beranjak dari tempat tidur dan bergegas menuju kamar mandi.
Bintang langsung rebahan, tatapannya menerawang jauh menatap langit-langit kamar dengan senyum yang tak mau lepas dari bibirnya.
...****************...
__ADS_1
Bintang sudah begitu baik mau mempertemukan dia dengan kakaknya. Sebagai ucapan rasa terimakasihnya, Berlian sengaja memasak masakan kesukaan suaminya dan berniat mengantarkannya langsung kekantor.
"Lian, kamu ngapain di dapur sendirian?" tegur mama Farida melihat menantunya sibuk mempelajari resep masakan dari YouTube dan mempraktekannya langsung di dapur.
"Lian mau masak makanan kesukaan Bintang, ma" kata Berlian.
"Kamu kan bisa minta bibi yang masakin. Kamu tidak perlu repot-repot turun ke dapur segala" ujar mama Farida.
"maunya Lian yang masakin sendiri buat Bintang, selama ini kan Lian ngga pernah turun langsung masak buat bintang karna ada bibi" jelasnya.
"Memangnya kamu mau masak apa buat Bintang?"
"Itu ma, beef teriyaki kesukaan Bintang. Lian belum pernah masak beef teriyaki makanya sambil lihat tutorial nya di YouTube " ujar Lian karna memang benar adanya karna yang dia tahu paling sayur bening, lalapan,sop ayam dan masakan yang simpel saja.
"Biar mama yang ajarin bagaimana memasak beef teriyaki yang enak sesuai dengan selera suami kamu" mama Farida menawarkan bantuannya karna melihat kesungguhan di mata menantunya mau melayani suaminya dengan sempurna.
"Lian senang banget kalau mama mau mengajarkan cara memasaknya" ucapnya senang.
"Kita mulai saja memasaknya"
"Nak, ini sudah masuk bulan ketiga pernikahan kalian. Apa kalian tidak berniat mau memberi mama cucu?"
"uhuk...uhuk...uhuk" Berlian yang sedang mencicipi rasa masakan buatannya hampir saja tersedak mendengar pertanyaan mama mertuanya.
"Kamu minum dulu" mama Farida mengambilkan segelas air putih untuk menantunya dan langsung habis di teguk oleh Berlian.
"makasih mama" ucap berlian begitu air putih itu habis di minumnya karena bingung mau menjawab pertanyaan mama mertuanya.
"Kamu dan Bintang tidak menunda rencana memiliki momongan,kan?" selidik mama Farida.
"Kami belum pernah membahas masalah itu. Mama doakan saja supaya Lian cepat hamil dan mama bisa segera menimang cucu"
"mama tidak pernah berhenti mendoakan kalian,nak" ucap mama Farida.
__ADS_1
"Tapi kalau kalian memang belum siap beri mama cucu, mama juga enggak memaksa kok" nada suara mama Farida terdengar sendu menahan keinginan yang begitu dia harapkan.
"Mama yang sabar. Semoga Allah segera mendengarkan doa' kita semua " hibur Berlian yang tak tega melihat raut kecewa di wajah wanita paruh baya yang sudah di anggapnya sebagai mama kandungnya sendiri. Harapannya untuk hamil masih sangat tipis karna dia dan Bintang baru dua kali berhubungan dan belum tentu saat itu dia berada dalam kondisi subur.
...****************...
Kehadiran Berlian yang di awal baginya sebuah kesialan justru berbanding terbalik saat Berlian resmi di nikahi nya. Banyak perubahan yang di rasakan Bintang terhadap dirinya secara pribadi yang mungkin tidak bisa di lihat dengan kasat mata.
Bintang merasa dirinya jauh begitu berharga menjadi seorang laki-laki karna begitu di hormati oleh Berlian yang begitu detail memperhatikannya dari hal-hal terkecil yang ternyata sangat bermakna dalam bagi Bintang. Salah satu contoh kecil yang membuat Bintang merasa tersanjung adalah waktu sarapan pagi dia diperlakukan bak raja, Berlian selalu melayani urusan perutnya dengan baik.
"Lian, kamu sekarang lagi ngapain?" gumam Bintang menerawang pulang dan membayangkan bagaimana manisnya sambutan istrinya.
"Aku kangen sekali sama kamu,sayang" ucapnya tanpa sadar.
"Lho,kok aku manggil Lian jadi sebutan sayang. Enggak benar nih otak" gerutu Bintang pada dirinya sendiri begitu sadar atas ucapannya.
"Sadar Bintang..." berkali-kali pemuda bermata coklat itu memukul sendiri kepalanya.
"Untung saja ini di kantor. Coba saja kalau di rumah dan Berlian dengar, bisa ngga tidur dia 3 hari 3 malam" lanjutnya bicara sendiri.
"Lian..." seru Bintang saat pintu ruang kerjanya terbuka dan seorang perempuan masuk menghadapnya.
"Kamu karina!. Ada apa?" semangat Bintang runtuh seketika saat sadar yang masuk bukan istrinya melainkan sekretarisnya.
"Maaf pak, di luar ada orang yang mau bertemu dengan bapak" kata Karina.
"Bilang saya sibuk dan tidak bisa terima tamu" ucap Bintang tak bersemangat bertemu dengan siapapun kecuali Berlian.
"Berlian lagi" gerutu Bintang dalam hati karna bayang-bayang Berlian tak juga mau pergi.
"Saya sudah bilang seperti itu,pak. Tapi, orang itu tetap bersikeras dan dia juga mengaku kakak iparnya pak Bintang" terang Karina.
"Pasti itu Arya" gumam Bintang menebak pasti orang yang mau menemuinya.
__ADS_1
"Kamu suruh dia masuk" perintah Bintang pada sekretarisnya.
"Baik pak"