Kilau Berlian

Kilau Berlian
Bab 84. Sempurna!!


__ADS_3

Berlian mengurungkan niatnya mau menapaki anak tangga menuju kamar pribadinya begitu melihat bayangan suaminya berjalan menuju taman samping rumah.  Berlian pun bergerak mengikuti bayangan suaminya. 


"Aku bukan pembunuhnya Bulan. Aku bukan pembunuhnya om reza, bukan..." Bintang berkali-kali mengucapkan kalimat yang sama. 


"Aaaaarrggghhh" Bintang berteriak sambil memegangi kepalanya. 


"Bintang" suara perempuan menyapa halus dan menyentuh pundaknya dengan lembut. 


"Pergi dari sini, jangan sentuh aku" tepis Bintang dengan kasar tangan perempuan yang menyentuh pundaknya. 


"kamu kenapa?" Berlian kaget bercampur bingung melihat suaminya bertingkah layaknya orang frustasi. 


"Pergi kamu dari sini. Kamu pasti mau balas dendam padaku" 


"Siapa yang mau balas dendam?" Berlian di buat tak mengerti dengan perilaku bintang dan tak tahu apa maksud ucapannya barusan. Berlian juga tak tega melihat bintang yang seolah berhalusinasi .


"Bin...kamu lihat aku" Berlian cepat menangkup wajah suaminya dan terasa dengan jelas peluh keringat di wajah Bintang menetes membasahi telapak tangannya. Sorot mata Bintang juga menyiratkan sebuah kegamangan yang menyentil perih lubuk hati berlian karna belum sepenuhnya bisa memecahkan misteri apa yang di pendam suaminya selama ini. 


"Ini aku Berlian, istri kamu" katanya lirih dengan sorot mata teduh dan menenangkan. 


"Lian ..." ulang bintang mulai bisa menenangkan diri. 


Berlian tersenyum membenarkan, kemudian memeluk bintang dengan hangat. 


"Lian, janji sama aku kalau kamu ngga akan pernah ninggalin aku" pinta bintang getir. 


"Aku ga akan pernah ninggalin kamu seumur hidup aku. Aku akan selalu setia mendampingi kamu dalam hal sesulit apa pun yang datang menghantam biduk rumah tangga kita" janji Berlian tanpa bosan. Dan janji itu bisa melegakan pernafasan bintang yang sempat tersendat. Bintang juga tak bisa mengelak dari ketenangan batin saat berlian membelai bagian rambut belakang kepalanya. Begitu juga dengan kecupan di keningnya. Semua perlakuan Berlian bisa mengembalikan semangat jiwanya yang rapuh. 


"Kita masuk, ya?. Kamu belum makan malam kan?" bujuk berlian begitu bintang tenang dalam pelukannya. 


"Aku mau tidur saja di kamar" kata bintang pelan. 


"Aku akan temani kamu" senyum manis berlian kian menguatkan Bintang. Sepasang suami istri itu pun jalan bergandengan. 


...****************...


"Sekarang kamu istirahat" 


Berlian membantu bintang berbaring dan tak lupa menyelimutinya. Kemudian dia menunduk mengecup kening bintang sepenuh hatinya. 


"Katanya kamu mau tidur. Kamu kenapa belum tidur juga?" kata berlian melihat mata Bintang belum juga terpejam. 


"Kamu ga ikut tiduran temani aku?" 

__ADS_1


"Aku mau menemui mama dulu, setelah itu baru aku temani kamu istirahat" janji Berlian sambil tersenyum.


"Kamu mau ngapain lagi?. Bukannya tadi sudah?" bintang duduk dan bertanya. 


"mama tadi minta..." Berlian diam dan tak mau melanjutkan kata-kayanya sebab dia tak mau membebani bintang yang mulai tenang setelah sempat frustasi entah karna apa. 


"mama memangnya minta apa sama kamu?. mama ga minta yang aneh-aneh kan sama kamu ?" 


"Ish... kamu bawaannya curiga mulu, sih?" Berlian dengan jengkel memukul pundak Bintang.


"Nyebelin" sungut berlian manyun. Dan itu bisa membuat bintang kembali ceria dan tersenyum lagi. 


"mama pasti meminta supaya kita mau menghadiri pesta pernikahan kan?" tebak bintang jitu. 


"Kamu kok tahu?" tanya berlian heran. 


"Sebelum bicara sama kamu, mama sudah lebih dulu meminta aku menggantikan beliau menghadiri acara tersebut" jelasnya. 


"Dan kamu pasti menolaknya kan?" 


"kok tahu?" giliran bintang yang heran berlian bisa menebak keputusannya. 


"Kalau ngga , ngapain mama nekat mau pergi biarpun keadaannya masih lemas begitu?. Kamu ga kasihan gitu?" 


Bintang awalnya diam, tak lama kemudian dia pun beranjak dan berjalan menuju ruang ganti pakaian. 


"Mau menghadiri undangan pernikahan itu, lah. Memangnya mau kemana lagi" jawabnya. 


Berlian diam tertegun dan makin di buat tak mengerti dengan perubahan sikap suaminya yang tadinya terpuruk, kini begitu semangat seolah tak terjadi apa-apa.


 


"Kamu kenapa diam?. Ayo kamu juga siap-siap temani aku kesana" 


"Bin, lebih baik kamu istirahat saja. Soal undangan itu kita omongin lagi baik-baik dengan mama. Mama pasti mengerti dan ngga akan memaksakan diri" ucap Berlian tak yakin kalau suaminya dalam keadaan baik-baik saja. 


"Kamu jangan kebanyakan mikir. Kamu tahu sendiri mama bagaimana orangnya kalau sudah nekat?. Mama ngga akan peduli dengan keadaannya kalau sudah bulat dengan keputusannya!" sembur bintang mulai mengacak mencari baju yang pas untuk ke pesta. 


Berlian akhirnya mendekat dan membantu suaminya mencarikan baju yang sesuai. 


"Bagaimana dengan kamu , apa kamu juga ngga memikirkan kondisi kamu?. Kenapa aku merasa kalau kamu menyembunyikan beban berat yang kamu pikul sendiri?" 


Bintang diam seribu bahasa. 

__ADS_1


"Dugaan aku benar kan?" tanya berlian hati-hati.


"Lian, kita harus bergegas pergi sebelum pestanya usai" bintang mengelak dari topik pembahasan dan menyambar jas beserta kemeja yang di pilihkan istrinya.  Berlian hanya bisa menarik nafas kecewa. 


"Bin, kita sudah 6 bulan menikah, tapi aku merasa aku belum bisa memahami kamu dan banyak hal yang belum aku ketahui tentang kamu. Aku merasa gagal" Lirih berlian getir.  Bintang cepat berbalik dan memeluk istrinya.


"kamu ngga boleh bicara seperti itu lagi. Kamu adalah orang yang paling mengerti aku . Kamu istri yang sempurna, hanya aku yang bodoh sering menyakiti mu dan membiarkan mu larut dalam kebingungan tak menentu seperti ini" 


"Bin, aku hanya ingin kita saling terbuka. Apa permintaan aku terlalu berlebihan?" Berlian menengadah meminta kepastian. 


"Saatnya nanti kamu akan tahu semua tentang aku. Aku siap menerima penilaian buruk dari kamu" Bintang tersenyum getir .


"Penilaian aku terhadap kamu ngga akan pernah berubah. Meski kenyataan mencap kamu buruk" Berlian bergumam  lirih.


 


...****************...


Bintang hilir mudik tak tentu menunggu Berlian turun. Dia takut kalau berlian tak mau menemaninya karna pembahasan mereka yang tidak menemui titik temu. Bisa saja Berlian kecewa dengan sikap tertutupnya. 


"Lian..." 


Bintang terkesima begitu matanya menangkap sosok anggun di balut gaun merah yang elegan. Semakin berlian mendekat, semakin nyata kecantikannya yang natural terpancar dan bintang merasa detak jantungnya tak bisa di kendalikan dengan normal.


"kita jadi pergi, kan?" senyum Berlian melengkung indah menyadarkan bintang.


"Lian... kamu cantik sekali. Sempurna!!" puji bintang tanpa menunggu berlian meminta pendapatnya. 


Berlian menunduk malu menyembunyikan gemuruh jiwanya, karna pujian dari Bintang di sertai dengan senyuman juga tatapan mata yang tak berkedip menatapnya dari ujung kaki hingga rambut. 


"Rangga,sepertinya Mama tak jadi pergi" cetus wanita paruh baya tersenyum dari depan pintu kamarnya mengamati dua sejoli tak jauh berdiri dari hadapannya. 


Rangga ikut menatap lurus ke depan dan saat yang bersamaan Bintang sedang mengecup kening Berlian lalu perlahan turun. 


"Rangga, kamu bantu mama masuk ke kamar lagi" ucap mama Farida tak mau mengganggu kebahagian buah hatinya. 


"iya ma" turut Rangga terpaksa. Namun matanya sempat menangkap bagaimana Bintang dengan mesra dan leluasa menguasai bibir Berlian dengan sempurna. 


"Brengsek, ngapain juga aku melihat mereka. Bodoh" kutuk Rangga dalam hati. 


"Kita kapan perginya. Make-up aku bisa luntur lama-lama di sini" kata Berlian begitu Bintang berhasil menguasai hasratnya. Berlian tak lupa membersihkan noda lipstik yang menempel di sudut bibir Bintang.


"Tanpa make up pun kamu terlihat sangat cantik" Bintang tersenyum dan menurunkan tangan istrinya kemudian berjalan bergandengan tangan.

__ADS_1


"Seperti waktu kamu tertidur menggunakan gaun itu. Kamu tetap sangat cantik meski di poles make up tipis" sambungnya. 


Langkah Berlian tertahan, perasaannya di buat melambung menyadari kalau Bintang sebenarnya memperhatikannya waktu itu. Dianya saja yang tak tahu dan salah sangka. Berlian hanya bisa tersenyum dan kembali melangkah seiring sejalan dengan Bintang.


__ADS_2