
Dari beberapa lapak kios penjual buku-buku bekas yang di datanginya bersama sahabatnya Kartika , Berlian belum juga mendapatkan buku yang dia cari.
"Ngapain mesti susah-susah cari bukunya , kamu tinggal browsing internet saja , semua yang kamu cari ada di sana" ujar Kartika memberi solusi.
"Tapi Tika, aku belum puas sebelum aku mendapatkan bukunya. Susah banget sih nyari bukunya"
"Ya jelas susah. Buku yang kamu cari terbitnya zaman belanda gitu" sahut Kartika mulai kepanasan dan lelah mengikuti Berlian yang hilir mudik dari kios satu ke kios lainnya.
"Sudah sore ,kita pulang yuk "
Tak perlu menunggu persetujuan Berlian , Kartika menarik tangan sahabatnya menuju parkiran.
...****************...
Mama Farida menangkap ada yang aneh antara anak dan keponakannya yang tidak saling sapa di meja makan saat makan malam bersama. Kedua laki-laki tampan itu memilih diam dan menghabiskan makanannya masing-masing.
"Bintang , Rangga ,kenapa dengan kalian?. Mama perhatikan, sejak pulang dari kantor kalian tidak pernah bertegur sapa. Kalian ada masalah di kantor?" tegur mama Farida.
"Maaf ma, aku sudah kenyang, aku mau ke kamar duluan" Rangga menghentikan sendokannya dan pergi begitu saja.
"Bintang, adik kamu kenapa?" tanya Mama Farida pada putranya yang hilang nafsu makannya di tatap sedemikian rupa oleh Rangga saat melewati kursi makannya.
"aku capek ma, aku mau istirahat dulu " jawab Bintang menghindar dari pertanyaan mamanya.
"Ya sudah. Kamu masuk kamar sana. Besok kamu jangan lupa pergi memantau perkebunan" ujar Mama Farida mengingatkan putranya.
"Kita lihat saja besok" jawab Bintang sambil berdiri dan melangkah meninggalkan mamanya sendirian dalam kebingungan mempertanyakan hubungan keponakan dan putranya yang merenggang.
...****************...
"Jadi, kamu belum pasti di terima kerja di perusahaan Pratama , Lian?" tanya kakek Dharma sedikit kecewa mendengar penjelasan cucunya.
"Bukan begitu, kek. Pesaing Lian untuk bisa di terima kerja di sana sangat banyak. Mereka juga memiliki kemampuan juga pengalaman yang lebih baik dari Berlian. Kemungkinan Berlian di terima kerja cukup kecil" jelas Berlian hati-hati agar kakek dan neneknya tidak terlalu kecewa dan berharap.
"Sekecil apa pun, yang namanya kesempatan, harapan itu masih ada. Nenek sama kakek yakin, kamu pasti di terima kerja di sana. Yang penting kamu terus berusaha dan berdoa" kata nenek Aminah tak cepat putus asa.
__ADS_1
"Mudah-mudahan ya, nek" ucap Berlian tersenyum hambar. Dia sudah tidak tahu lagi bagaimana menjelaskan nasibnya pada kakek dan neneknya. Berlian tidak mau mereka kecewa.
"Nek, nenek sama kakek istirahat, ya. Kondisi nenek kan lagi kurang sehat" ujar Berlian sambil bangkit dari tempat duduknya dan bantu memapah tubuh tua neneknya masuk menuju kamar. Setelah itu, Berlian pun masuk ke kamarnya.
...****************...
Suara adzan subuh membangunkan Berlian dari tidurnya. Seperti kebiasaan keluarganya setiap subuh selalu shalat berjamaah di imami oleh kakeknya. Setelah shalat, barulah Berlian sibuk di dapur, lalu mandi.
"Lho,nenek mana,kek?" tanya Berlian bingung begitu mau sarapan, hanya ada kakeknya di meja makan. Sedangkan neneknya tidak kelihatan.
"Nenek kamu sudah pergi memetik teh" jawab kakek Dharma setelah meminum kopi bikinan istrinya tadi.
"Kek, nenek itu lagi sakit. Kenapa di biarin kerja, sih?" protes Berlian.
"Kakek sudah melarang nenek mu, tapi nenek kamu tetap saja keras kepala mau kerja memetik daun teh" jawab kakek Dharma.
"Enggak bisa di biarin, Lian harus menyusul nenek" katanya sejurus kemudian.
"Kamu sarapan dulu, baru nyusul nenek kamu"
"Nanti saja, kek. Lian mau nyusul nenek dulu. Assalamualaikum"
"Nek... nenek..." panggil Berlian dari atas sepedanya ketika melihat barisan ibu-ibu sibuk memetik teh dengan memikul keranjang dan menggunakan topi camping.
"Lian, kamu ngapain ke sini?" seru nenek Aminah dari tempatnya berdiri memetik pucuk daun teh yang segar.
Berlian meletakkan sepedanya dan berjalan mendekati neneknya.
"Nenek ngapain berangkat kerja, sih?. Nenek kan lagi sakit"
"Nenek sudah mendingan, nggak sakit lagi" kata nenek Aminah.
"uhuk....uhuk...uhuk..." nenek Aminah tiba-tiba batuk, membuat Berlian cemas.
"Nenek belum sembuh, nek. Nenek pulang saja, biar Lian yang melanjutkan memetik tehnya" ujar Berlian.
__ADS_1
"Enggak usah, biar nenek saja" tolak nenek Aminah.
"Pokoknya nenek harus pulang, istirahat , biar Lian yang kerja" paksa nya.
Nenek Aminah tidak bisa berbuat apa-apa. Cucunya sangat keras kepala. Saat Berlian meminta keranjang dan topi camping nya, dengan terpaksa nenek Aminah menurutinya. Nenek Aminah pun harus pulang sesuai dengan perintah cucunya.
Berlian pun mulai beraksi. Tangan mungilnya mulai menari-nari memetik pucuk daun teh yang masih segar dan hijau . Tapi kerjanya masih lambat di banding dengan pemetik teh lainnya yang begitu mahir memilih dan memetik daun teh, lalu memasukkannya dalam keranjang yang mereka pikul. Tak heran, isi keranjang milik Berlian belum juga sampai separuh dibandingkan yang lain.
...****************...
Bintang sampai di perkebunan teh milik keluarganya. Laki-laki berpostur tinggi tegap itu berkeliling melihat langsung proses pemetikan daun teh di temani oleh mandor yang mengawasi kerja para pemetik daun teh. Bintang tampak puas dan bangga melihat hamparan perkebunan teh milik keluarganya yang tumbuh subur dan berkembang dengan baik.
Namun tatapannya berubah sangar saat pandangan matanya tertumpu pada sosok gadis yang tak asing lagi baginya . Bintang pun mendekati gadis itu.
"Hhmmm, katanya lebih baik menjadi pengangguran dari pada jadi bawahan ku"
Gerak tangan Berlian memetik teh langsung terhenti mendengar sebuah sindiran yang sepertinya di tujukan untuknya. Berlian pun memutar tubuhnya.
"Kamu?" ujarnya terbelalak kaget melihat siapa yang berdiri berpangku tangan memperhatikannya dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Di tolak bekerja di bagian perkantoran, kamu beralih jadi gadis pemetik teh seperti ini, kasihan" ejek Bintang.
"aku bukan bawahan mu dan aku bukan gadis pemetik teh, aku hanya menggan..."
"Siapa pun yang bekerja di sini , dia harus giat dan bekerja keras. Tapi, ku perhatikan kerja kamu sangat lambat sekali" sela Bintang memotong penjelasan Berlian.
"Kalau kerja ku memang lambat, kamu bisa gantiin aku memetik daun teh ini. Aku ingin tahu, segesit apa kamu bekerja" tantang Berlian seenaknya.
"Tidak ada satu orang pun yang boleh memerintah ku, apa lagi orang bawahan seperti kamu" makinya, membuat Berlian tersulut emosinya.
"kamu itu manusia atau bukan sih?. Kata-kata yang kamu lontarkan dari dulu tidak ada sopan nya. Apa kamu tidak pernah di didik untuk menghargai sesama?" tukas Berlian meradang menahan emosinya. Dia tidak mempedulikan peringatan dari beberapa ibu-ibu pemetik teh yang dari tadi jadi penonton setia perseteruan anak majikannya dengan Berlian yang bukan siapa-siapa.
"Ternyata orang miskin seperti kamu belagu juga" sengit Bintang yang mendekati Berlian dengan sorot matanya yang tajam.
"Hanya ini hasil kerja kamu?" Bintang memperhatikan isi keranjang Berlian dan menurunkannya dengan paksa.
__ADS_1
"Apa-apaan ini..." Dengan sengaja dan tanpa perasaan, Bintang menendang keranjang tersebut, hingga sebagian daun teh yang sudah di petik berserakan di atas tanah.
"Kamu...."geram Berlian.