Kilau Berlian

Kilau Berlian
Bab 44. Salah tingkah


__ADS_3

Arya mengantar adiknya hingga parkiran. Bintang dengan cepat menarik tangan istrinya tanpa mau memberi kesempatan lagi untuk Arya dan Berlian berduaan. 


"Bin, aku mau pamit dulu sama kak Arya" kata Berlian.


"Kamu pulang saja, kamu tidak usah hiraukan kakak" ujar arya menenangkan adiknya. 


"Kita pulang" Bintang mendorong paksa tubuh istrinya masuk kedalam mobil. 


"Bin, jaga adikku baik-baik jika kamu tidak mau kehilangan dia" ancam arya serius. 


"Kamu tidak akan bisa menghancurkan ku lagi" balas Bintang sengit. Berlian yang berada dalam mobil hanya bisa bingung dengan maksud perdebatan suami dan kakaknya. 


...****************...


Perjalan pulang, keduanya diam tak bersuara. Berlian yang dari tadi gelisah dan ingin mengungkapkan rasa terima kasihnya di buat salah tingkah menguasai perasaan aneh yang tiba-tiba saja menggetarkan hatinya berdekatan dengan Bintang.


"Kita sudah sampai" kata Bintang dan membuyarkan lamunan Berlian. Bintang turun lebih dulu di susul berlian.


"Bintang..." Berlian menahan tangan suaminya saat mereka sudah berada di luar mobil. 


"Ada apa?"tanya Bintang.


 


Berlian tak menjawab, dia dengan cepat meraih wajah suaminya dan mencium pipi Bintang cukup lama. Bintang di buat mematung dan terkesima merasakan hangatnya sentuhan bibir Berlian di pipinya. 


"Terima kasih karna kamu sudah mempertemukan aku dengan kak arya" ucap Berlian malu-malu menyudahi mencium pipi suaminya. 


Bintang merasa jiwanya terbang melayang dan dia tak hentinya memegang pipinya yang merona bekas di cium Berlian. 


"Tunggu" Bintang sadar dan menarik istrinya dan ciuman balasan menyentuh bibir ranum milik Berlian dan tangan Berlian spontan mengalun manja pada leher suaminya. Ada dorongan hasrat dalam diri Berlian membalas sentuhan bibir suaminya yang makin berani memberi kejutan-kejutan mesra di bibirnya. 

__ADS_1


"Kalian ngapain di sini?" tegur Rangga yang dari tadi duduk gelisah di taman dan berjalan menghampiri dua insan yang tengah kasmaran. 


Bintang dan Berlian terpaksa menyudahi kemesraannya dan Berlian menunduk, mengatur nafasnya yang memburu. Berlian lalu bergegas masuk dengan wajah merah merona dan senyum malu tanpa mempedulikan bagaimana cemburunya Rangga memergoki kemesraan dia dan suaminya. 


"Ternyata kehadiran Berlian bisa membuat kamu jadi laki-laki yang dulunya cemen mendekati perempuan berubah jadi laki-laki penuh gairah seperti ini" sengit Rangga sinis. 


"Setidaknya aku bukan laki-laki buaya seperti kamu yang tidak punya pegangan dan arah hidup yang jelas. Kamu hanya bisa jadi benalu bagi setiap perempuan yang ingin kamu dekati" balas Bintang dengan bibir tersungging keatas mengejek sepupunya sendiri. Untung saja hatinya lagi berbunga-bunga, kalau tidak, bogem mentah di pastikan melayang menghantam muka Rangga.


...****************...


Sepasang suami istri itu tiba-tiba jadi salah tingkah saat keduanya berada dalam kamar pribadi mereka. Bintang yang tadinya berani berlaku romantis terhadap istrinya bingung sendiri bagaimana cara membangkitkan keberaniannya lagi mendekati Berlian.


Berlian yang dari tadi menunduk malu sambil memainkan ujung-ujung jarinya tak mampu melirik atau pun berhadapan dengan suaminya karena ada debaran aneh yang mengetuk pintu hatinya tiap kali harus menantang melihat pemilik mata tajam itu. 


"kamu belum tidur?" pertanyaan tak penting keluar dari mulut Bintang karna saking bingungnya dia tak tahu harus membahas topik apa dengan istrinya.


 


"Aku tidak bisa tidur" jawab Berlian.


"Kenapa?" Berlian memberanikan diri menatap suaminya. 


"Kamu sendiri kenapa tidak bisa tidur?" Bintang balik bertanya dengan sorot mata mendebarkan. 


Berlian kembali menunduk malu sambil menggigit bibir bagian bawahnya menghindari tatapan suaminya. 


"A...a... aku belum ngantuk"jawabnya gugup. 


"Aku juga belum ngantuk" ujar Bintang yang kian mendekat dan merapat duduk di samping istrinya. 


"Bin, besok kamu kan harus kerja. Kamu sebaiknya istirahat, nanti kamu kecapekan di kantor karena kurang istirahat" kata Berlian mengingatkan suaminya sambil menengadah menantang sorot mata suaminya yang terus memperhatikannya tanpa bosan. 

__ADS_1


"Kamu tidur,ya?" Berlian membelai lembut wajah Bintang bukti dari sebuah perhatiannya. 


Jantung Bintang berdegup kencang, usapan tangan Berlian di wajahnya sangat memanjakan dan menghidupkan kembali rasa percaya dirinya. Perlahan dan pasti Bintang menunduk dan mendekati wajah Berlian.


 


Dalam hitungan detik, Bintang berhasil menguasai kembali bibir Berlian yang di ciumi nya penuh kelembutan dan berubah gairah karna Berlian membuka peluang baginya untuk bertindak lebih dan lebih. Berlian tak menolak atau pun melawan ketika Bintang merebahkan tubuhnya dengan hati-hati dan mulai bergerak menuntut kepekaan naluri Berlian sebagai seorang istri. Berlian terbuai dan tenggelam bersama kedamaian yang di tawarkan suaminya lewat sentuhan melewati tahap demi tahap merajut keintiman yang mereka ciptakan atas kesadaran hak dan kewajiban masing-masing. Namun, perasaan justru menuntun mereka pada titik kebahagian dalam getar-getar tersembunyi yang sebenarnya membimbing mereka saling mengasihi seperti ini. 


...****************...


Senyum merekah dari sudut bibir Bintang begitu cahaya matahari merambat masuk melewati celah-celah ventilasi kamar dan tepat mengetuk kelopak matanya. 


Bintang tak lantas beranjak dari tempat tidur. Dia di buat kagum dan terkesima dengan perempuan yang tidur lelap memeluk tubuhnya. 


"Lian..." desah Bintang berat mau membangunkan istrinya karna dia tidak pernah bosan dan puas memandangi wajah polos istrinya jika sedang tertidur. 


"Lian,apa benar yang kita lakukan hanya semata karna hak dan kewajiban kita sebagai suami istri?. Kenapa aku merasa ada yang lebih indah dan membahagiakan dari pada itu?. Apa itu hanya perasaanku saja karna kamu bisa begitu tulusnya menunaikan kewajiban kamu sebagai istri aku?" berbagai pertanyaan menghinggapi pemikiran Bintang akan sensasi keindahan yang dia tuai bersama istrinya semalam. 


Bintang membuang jauh-jauh rasa penasarannya dan kembali fokus mengagumi paras cantik Berlian.


"Cantik..." 


Hanya satu kata itu yang bisa di ungkapkan Bintang memuji paras istrinya secara diam-diam. Bintang pun sedikit menunduk dan mencium tipis bibir istrinya yang merah alami tanpa olesan lipstik. 


Bintang seketika kaget dan melonjak bangun karna saat bersamaan dia menyentuh bibir itu, Berlian tiba-tiba saja terbangun. 


"Kamu kenapa jadi kaget begitu?" tanya Berlian heran sambil berusaha duduk dan menutupi sebagian tubuhnya dengan selimut. 


"ngga apa-apa" Bintang menggeleng gugup dengan keringat membasahi dahinya. 


Berlian menggeleng geli sambil memakai bajunya kembali. Berlian tampak lebih tenang di banding dengan Bintang menghadapi pagi mereka setelah melewati malam panjang mereka yang indah. Tapi, siapa yang tahu gemuruh yang di rahasiakan Berlian agar suaminya tenang dan tak panik kalau dia sebenarnya juga sama gugupnya dengan dia.

__ADS_1


 


"Semalam kamu bisa melakukan hal yang lebih indah dan berani dari pada sekedar mencium aku pagi ini. Kita sudah 2 kali seperti ini, harusnya tidak ada rasa sungkan di antara kita. Selama kamu memperlakukan aku layaknya seorang suami pada muhrimnya, aku tidak akan pernah menyudutkan tindakan kamu sebagai hal negatif. Aku sangat menghargai setiap tindakan manis kamu terhadap aku. Tapi aku minta maaf, jika seandainya aku sebagai istri kamu tidak bisa sepenuhnya bisa memberi kebahagian utuh seperti yang kamu mau" tutur Berlian di dasari kesadarannya atas tugas seorang istri. 


__ADS_2