
Entah angin dari mana yang mendorong Arya datang ke rumah sakit . Dia sendiri sudah tahu kalau hari ini adiknya sudah di perbolehkan pulang . Tapi yang jelas kakinya kini menuntunnya berjalan menuju sebuah ruang rawat seseorang.
"Satria" Arya membelalak kaget melihat sahabatnya sudah lebih dulu datang dan mengendap-endap masuk seperti maling. Arya buru-buru menghampiri.
"Eiitttsss... kamu mau kemana?" Arya menarik krah baju temannya dari belakang.
"Arya... kamu di sini juga?" Satria kaget sambil cengengesan.
"Kamu ngapain di sini?. Bukannya adik kamu sudah pulang?"
"Kamu sendiri ngapain di sini?" Arya balik bertanya sambil memperhatikan seikat bunga mawar putih yang di pegang Satria.
"Ya, mau bertemu Kartika lah. Memangnya kamu pikir aku mau menemui siapa?. Adik kamu?. Yah, nggak mungkinlah!"
"Hei, semprul. Kamu jangan coba-coba main api di belakang aku. Kamu pikir aku ga bisa membaca jalan pikiran kamu" sambar Arya.
"Sebenarnya kamu mau menemui Lian, kan?. Cuma karna dia sudah pulang dan kamu datangnya terlambat, makanya kamu beralih mau menemui Kartika" tebak Arya tepat sasaran.
"Tuh, kamu tahu" ujarnya keceplosan.
Arya langsung melotot.
"Tapi, kamu tahu dari mana kalau aku mau menemui Lian?" herannya.
"Nih..." Arya merampas bunga mawar putih dari tangannya Satria.
"Bunga mawar putih ini, bunga kesukaan Berlian . Otak mesum kamu gampang kebaca" jelasnya.
"Salah sendiri, ngapain punya adik cantik?. Hati aku kan jadi cenat-cenut trus mikirin adik kamu" Satria ngeyel dan bertingkah.
"Kamu memang dari dulu nggak bisa di ajak bicara baik-baik"
Arya kesal dan dongkol, bunga yang ada di tangannya mau diayunkan memukul kepala sahabatnya.
"Kalian ngapain di luar?" tegur wanita cantik dari depan pintu tempat Arya dan Satria berdebat.
"Tika..." ujar keduanya berbarengan. Arya sontak menurunkan tangannya. Satria senyum-senyum tak jelas menggoda Kartika dan secepat kilat dia kembali merampas bunga miliknya.
"Hai Tika, bagaimana kabar kamu?" tanya Satria basa-basi.
"Baik..." jawab Kartika bengong.
"Trus, keadaan papa kamu?" tanyanya lagi.
"Alhamdulillah, udah baikan"
__ADS_1
"Syukurlah" Satria tersenyum sambil menyisir rambutnya menggunakan telapak tangannya.
Kartika melirik kearah Arya. Dia seperti terganggu dengan tingkah Satria yang aneh.
"Dia memang gitu orangnya, agak-agak... nggak usah di ditanggepin" kata Arya.
"Maksudnya apa?. Agak-agak..." semprot Satria pada temannya.
"Ini, aku bawakan bunga mawar putih spesial buat kamu" ujarnya sembari menyerahkan bunga yang ada di tangannya.
Kartika tersenyum masam dan enggan mau menerima bunga itu.
"Tik, mendingan kamu tolak saja pemberian bunga dari dia dari pada kamu di serang sama fans nya yang bejibun" hasut Arya.
"Bunganya kamu bawa pulang saja, ya. Aku alergi suka alergi" Kartika percaya pada Arya.
"Alergi?" kening Satria mengkerut.
"Hatchu...." Kartika pura-pura bersin.
Satria sontak menjauh.
"Ar, aku pulang duluan ya. Banyak kerjaan di kantor"
"Kak Arya ada perlu apa ke sini?. Bukannya Lian sudah pulang, ya?" Kartika bertanya setelah Satria menghilang.
"Aku..." Arya gugup sendiri tanpa sebab.
"Aku ada keperluan lain di sini" katanya dengan sikap salah tingkah.
"Ohh..." Kartika tersenyum samar.
Jantung Arya berdetak kencang di buatnya.
"Tik, aku pergi dulu" Arya cepat-cepat kabur. Dia tak tahan lama-lama berhadapan dengan Kartika. Menatap matanya yang jernih, senyumnya yang manis, rasanya Arya mau pingsan saja. Hmmm... sepertinya udah move on dari Bella nih. Secepat itu?
...****************...
Begitu sampai di rumah, Berlian langsung di sambut pelukan hangat oleh kakek dan neneknya yang menunggunya dengan sabar.
"Lian, waktu berjalan begitu cepat. Cucu nenek yang dulu masih imut dan nakal, sekarang sudah benar-benar tumbuh menjadi wanita dewasa. Kamu sudah bersuami dan sebentar lagi kamu akan jadi ibu. Jaga baik-baik kandungan kamu." nenek Aminah tersenyum haru sambil mengusap pundak cucunya yang duduk di sampingnya.
"Iya nek!. Berlian pasti akan menjaga calon cucu buyut nenek dengan baik" ujar Berlian semangat.
Obrolan juga kehangatan yang terbina antara kedua keluarga berlanjut hingga malam di ruang makan. Arya yang baru datang, ikut bergabung dan jadi bahan ledekan semuanya karna belum juga menemukan pendamping hidup.
__ADS_1
"Kak Arya kapan nih mau ngasih Lian keponakan?"
"Gimana mau kasih keponakan. jangankan istri , calon nya saja belum ada" celetuk kakek Dharma.
"Aku dengar dari Satria katanya kamu lagi dekat dengan Kartika" ujar Bintang.
"uhuk...uhuk...uhuk" Arya yang sedang makan, tersedak mendengarnya dan cepat-cepat menyambar gelas berisi air putih dan meminumnya.
"Oh ya? beneran ,kakak dekat sama Kartika?" Berlian tampak senang.
"Enggak... kakak sama Kartika cuma temanan, nggak lebih" bantahnya.
"Dari temen kan bisa jadi demen, trus jadi istri" goda mama Farida.
"Kakak tenang saja. Lian bakalan bantu kakak mendekati Tika. Tika itu gadis baik, cocok untuk kakak"
"Nenek setuju sama kamu. Kakak kamu memang mesti di getok dulu baru mau bertindak" ujar nenek Aminah menimpali kata-kata cucunya.
Arya melengos, dia kalah suara. Berlian tersenyum lebar dan memainkan alisnya menggoda kakaknya.
"Puas?" kata Arya jengkel pada adiknya.
"Banget" senyum Berlian makin lebar.
Bintang tersenyum bahagia bisa kembali merasakan kebersamaan sebuah keluarga dalam kehangatan.
...****************...
Beranjak malam, Arya dan kakek juga neneknya pamit pulang. Mereka menolak menginap karna alasan tertentu.
Setelah kepergian mereka, Mama Farida langsung menuju kamar pribadinya yang berada di lantai bawah untuk istirahat. Begitu juga dengan Bintang dan Berlian kembali keruangan pribadi mereka.
"Sayang, terima kasih karna kamu sudah bersedia menjadi ibu untuk anakku" ucap Bintang penuh kesadaran.
Berlian tersenyum penuh makna dan dengan manjanya berbaring di atas dada suaminya yang bidang.
"Terima kasih juga karna kamu sudah membuat aku sempurna sebagai seorang perempuan" balas Berlian.
Bintang sedikit beringsut, lalu menangkup wajah istrinya, kemudian mengecup keningnya. Setelah itu turun mencium hidung mancung istrinya.
"Aku cinta kamu" bisiknya sendu.
"Aku..." bibir Berlian terkunci, dia tak bisa melanjutkan kata-katanya. Kini dia terbuai oleh permainan bibir suaminya yang menghanyutkan. Pertemuan bibir mereka berakhir dengan senyuman.
"Hari sudah malam, kita tidur. Kamu dan dede bayi harus banyak istirahat" kata Bintang sambil menarik lembut tubuh istrinya kedalam dekapannya. Berlian pun memejamkan mata dengan nyaman.
__ADS_1