
"Kamu tuh kenapa bisa sekeras ini sih?. Apa kamu tidak bisa menggunakan sedikit hati nurani kamu untuk bisa merasakan penderitaan warga di sana jika penggusuran itu di lakukan?"
"Bagaimana dengan kakek dan nenekku?. Bagaimana dengan nasib ratusan kelu..."
"Masalah kakek dan nenek kamu sudah aku pikirkan. Aku akan membeli sebuah perumahan yang bisa di tempati secara permanen oleh mereka. Kamu sama sekali tidak di rugi kan dalam masalah penggusuran ini." potong Bintang.
Berlian menarik rambut nya kebelakang pertanda dia mulai kehabisan akal untuk mencairkan kerasnya pendirian suaminya.
"Bukan satu atau dua orang yang menerima dampak buruk akibat penggusuran itu. Tapi, puluhan hingga ratusan orang."
"Kamu sudah terlalu jauh mencampuri urusan pekerjaanku" kata Bintang dengan nada mulai meninggi.
"Kita pulang" Bintang menarik tangan istrinya.
"Bin, sebelum kita pulang, aku ingin kita singgah ke suatu tempat" pinta Berlian.
"Aku tidak punya waktu melenggang kesana kemari tanpa tujuan yang jelas" ujar Bintang.
"Kamu masuk. Kita pulang, sekarang"
Bintang lebih dulu masuk kedalam mobil dan membukakan pintu mobil untuk istrinya.
"Bintang, aku hanya butuh waktu kamu selama 20 menit, tidak lebih. Aku hanya ingin menunjukan sesuatu sama kamu" tekan Berlian yang masih berdiri di luar dan belum mau menaiki mobil suaminya.
"Aku bilang masuk..." perintah Bintang tak menggubris permintaan istrinya.
"20 menit saja. Please...." Berlian memelas di depan suaminya.
Melihat Berlian memelas dengan raut wajah penuh harapan, perasaan Bintang tiba-tiba saja merasa tidak tega mengabaikan permintaannya.
"Aku hanya punya waktu 15 menit, setelah itu kita pulang" Bintang mengalah tapi tetap pada sisi arogannya.
__ADS_1
"Enggak apa-apa. Yuukk...." sahut Berlian berbinar-binar dan penuh semangat menaiki mobil silver itu.
"Kamu sudah kehilangan waktu kamu 1 menit, kamu hanya punya sisa waktu 14 menit lagi" ucap Bintang begitu istrinya duduk manis di sebelahnya.
"Ya Allah, Bintang. Kamu jadi manusia perhitungan banget,sih?" sungut Berlian jengkel meladeni arogansi suaminya.
Bintang melirik tipis kearah sampingnya. Bibirnya mengulum senyum yang tertahan begitu sadar betapa imutnya Berlian kalau jengkel seperti itu.
...****************...
Tempat yang di tunjukkan Berlian tidak jauh dari puskesmas tempat dia di mengobati luka di keningnya tadi. Tempat itu hanya berjarak kira-kira 500 meter dan tak butuh waktu lama untuk Bintang memacu mobilnya sampai di sebuah tempat. Tepatnya, sebuah sekolah dasar.
"Kamu lihat mereka?" tanya Berlian begitu turun dari mobil dan menatap lurus kearah depan, kearah lapangan upacara bendera.
Bintang menuruti arah pandang istrinya. Di lapangan upacara milik sekolah dasar yang di penuhi pepohonan hijau nan rindang terlihat anak-anak berseragam putih merah tengah asyik menghabiskan waktu jam istirahat mereka dengan bermain.
Di antaranya ada yang bermain lompat tali bagi sebagian kelompok murid perempuan di teras kelas dan Main bola dengan menggunakan lapangan seadanya bagi murid laki-laki. Ada juga yang sibuk main kejar-kejaran dan ada juga yang sibuk berdiskusi di bawah pohon rindang.
Semua bermain dengan ceria, penuh semangat di iringi canda tawa penuh bahagia tanpa beban. Bintang sendiri tidak tahu maksud Berlian membawanya kemari.
"Kamu sudah menghabiskan separuh waktu kamu hanya untuk bernostalgia tak penting seperti ini" ketus Bintang.
Berlian menarik nafas panjang dan menatap sendu pria yang bersandar santai di atas kap mobilnya dengan tangan menyilang di dada. Raut mukanya yang dingin dengan sorot mata tajam terarah menyimpan kabut misteri yang sulit di cerna oleh Berlian sendiri.
"Sekolah ini akan menjadi salah satu bagian yang ikut tergusur jika kamu tidak mau mengubah keputusan kamu. Ratusan murid yang bersekolah di sini menimba ilmu demi masa depan mereka juga akan terkena imbas pertikaian kamu dengan orang tua mereka."
"Mereka adalah korban nyata yang akan menanggung segala resiko terburuk atas penggusuran yang akan kamu lakukan."
"Anak-anak itu tidak hanya kehilangan tempat untuk berteduh. Tapi, mereka juga akan kehilangan tempat mereka menimba ilmu menggali cita-cita demi masa depan mereka yang lebih baik."
"Mereka bahkan kehilangan senyum, canda dan tawa mereka yang kamu dengar saat ini hanya karena sebuah tindakan monopoli orang yang berkuasa lebih atas diri mereka"
__ADS_1
"Satu hal yang harus kamu ketahui!. Apa yang di lakukan warga tadi terhadap kamu bukan atas dorongan keinginan pribadi mereka. Mereka melakukan itu semata-mata demi menyelamatkan apa yang menjadi hak dari penerus masa depan mereka."
"Mereka bertahan dan berjuang hanya untu tetap bisa membuat buah hati mereka memiliki apa yang memang mereka perjuangkan melalui tetes keringat khusus untuk anak-anaknya, bukan untuk kepentingan bisnis atau pun golongan seperti apa yang kamu lakukan. Aku harap hati kamu bisa tersentuh menyelamatkan masa depan anak-anak yang tidak berdosa itu."
Berlian kemudian diam setelah memberi gambaran yang jelas akibat dari tindakan penggusuran yang akan di lakukan Bintang.
Kini semua keputusan ada di tangan Bintang. Apa dia akan tetap pada pandangan yang menurutnya benar atau dia punya pandangan yang sama dengan Berlian?.
Tidak ada yang tahu bagaimana pendapat Bintang tentang gambaran yang di jelaskan Berlian panjang lebar. Laki-laki bermata coklat itu tidak memberi tanggapan apa pun. Dia hanya diam, sibuk dengan masalahnya sendiri melihat murid-murid yang ceria bermain bersama yang tidak bisa di baca secara kasat mata oleh siapa pun, termasuk Berlian sendiri.
"Waktu kamu sudah habis. Kita pulang" ujar Bintang bersuara datar sambil mendahului istrinya masuk kedalam mobil.
Berlian hanya bisa mendesah kecewa karena usahanya meluluhkan hati Bintang sepertinya sia-sia saja.
"Mau sampai kapan kamu berdiri di sana?" tegur Bintang.
"Cepetan, masuk" perintahnya.
"Iya..."sahut Berlian tidak semangat.
...****************...
Bintang melajukan mobilnya melewati sebuah telaga yang di kelilingi pohon pinus. Tempat itu adalah tempat yang banyak menyimpan kenangan manis bagi Berlian bersama Rangga. Melewati telaga itu, Berlian menangkap bayangan yang berdiri tegap di tepian telaga tersebut.
"Rangga..."gumamnya.
"Kamu tadi nyebut siapa?" tanya Bintang kurang jelas mendengar apa yang di katakan istrinya barusan.
"Eng...Enggak. Aku ga nyebut nama siapa pun kok" Berlian terpaksa berbohong dan cepat-cepat membuang bayangan Rangga dari ingatannya. Walau menaruh curiga, Bintang tak mau banyak bertanya dan memilih fokus mengendarai mobilnya.
...****************...
__ADS_1
"LIAN...." teriak Rangga sekuat tenaga di tepian telaga cinta mereka.
"Lian, aku masih mencintai kamu. Kamu harus kembali menjadi milikku. Harus...!!" teriak Rangga lagi memecah kesunyian telaga.