
"Bagaimana aku tidak menangis, kamu memukuli kakak aku begitu saja"
"Salah kamu sendiri" sambar Bintang membuat Berlian terhenyak dan menengadah menatap nanar suaminya dengan linangan air mata yang masih setia menutupi bola matanya yang indah seakan meminta penjelasan lebih detail maksud Bintang menyalahkan dirinya.
"Setelah aku menikahi kamu, aku pernah memperingatkan kamu agar kamu bisa menjaga kehormatan kamu sebagai istri aku. Pantang sekali bagi aku membawa laki-laki lain masuk ke rumah ini tanpa seizin dan sepengetahuanku. Apa lagi sampai berpelukan seperti tadi" beber Bintang menjelaskan alasan kemarahannya setelah sempat berpikir panjang dengan otak jernih. Arya adalah kakak kandung istrinya. Anak dari perempuan yang pernah menyelamatkan nyawanya waktu kecil dulu. Bintang berusaha berdamai dengan masa lalunya sebab dia sudah tak mau lagi memikirkan wanita lain, wanita yang sudah membuatnya hilang percaya akan artinya cinta.
"Bin, kak arya itu bukan org lain, dia kakak kandung aku" Berlian membela diri.
"Itu salahnya kamu. Kamu tidak pernah bercerita kalau kamu punya kakak kandung laki-laki. Apa yang aku lakukan tadi wajar saja karna di mata aku arya tetap laki-laki lain sebelum aku tahu kebenarannya" tandas Bintang membenarkan sikapnya yang main hakim sendiri.
"Kamu cemburu aku dekat dengan laki-laki lain?" selidik Berlian hati-hati setelah mendengar dan menyimpulkan pernyataan suaminya.
"Cemburu?"
Benarkah dia cemburu dengan Arya yang mulanya dia anggap laki-laki lain yang berani bermesraan dengan istrinya atau apa yang dia lakukan tadi hanya di dasarkan pada dorongan kemarahannya karna arya adalah bajing*n yang sudah merampas jingga darinya. Tapi, kenapa saat memukuli arya tadi dia justru membayangkan Berlian akan jatuh ke tangan laki-laki lain dan pergi meninggalkan dia dan dia tidak bisa terima itu.
"Tidak" ujarnya tiba-tiba membantah kata hatinya.
"Apanya yang tidak?" tanya Berlian dengan raut muka heran dan air mata yang sudah mengering.
"Aku sama sekali tidak punya perasaan cemburu terhadap kamu. Aku hanya menjaga harga diri aku sebagai suami kamu juga menjaga kesucian pernikahan kita. Aku tidak akan pernah sungkan menghabisi pria mana pun yang berani mendekati kamu dan aku juga tidak akan ragu untuk memberi teguran keras terhadap kamu jika kamu berani mempermainkan aku juga mempermainkan pernikahan kita" jelas Bintang dengan gaya dan sikap dingin, namun tegas memperlihatkan sisi tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga namun tetap saja terkesan angkuh.
"Bin.." Berlian mengulurkan tangan dan meminta suaminya duduk di sebelahnya. Kini, sedikit banyak dia mulai mengerti sikap keras suaminya dan kesalahpahaman antara dia, Bintang dan arya harus di selesaikan saat ini juga.
__ADS_1
Bintang ragu duduk tanpa mau menjabat uluran tangan istrinya. Namun, dia di buat tak berkutik ketika Berlian menggenggam tangannya di tambah dengan sorot mata teduh yang membuat sendinya kaku tak bisa menarik tangannya menjauh dari genggaman Berlian.
"Bin, sampai hari ini aku masih ingat dengan janji aku waktu kita menikah dulu."
"Seumur hidup aku tidak akan pernah mengkhianati kamu, aku juga tidak akan pernah menyepelekan arti pernikahan kita meski pun pernikahan kita tidak dilandasi rasa..." Berlian terdiam dan menggantung kata-katanya. Tiba-tiba saja ada keraguan dalam hatinya untuk melanjutkan kalimat terakhirnya. Dia sendiri juga bingung kenapa dan harus mengatakan apa membeberkan alasannya.
"Meskipun pernikahan kita hanya dilandasi sebuah perjodohan, aku akan tetap memegang janji setia aku pada kamu" lanjut Berlian setelah mendapat kata-kata pas untuk memperjelas kalimatnya yang tergantung tadi. Setidaknya kata-kata itu bisa membuat dia lega dari pada harus mengucapkan kata-kata "tidak cinta" yang menurutnya ada pertentangan dan gejolak yang memintanya untuk tidak mengucapkan kalimat itu.
Raut wajah harap-harap cemas juga tampak dari wajah bintang ketika Berlian menggantung kalimatnya. Ketegangan sempat membalut jiwanya menunggu penjelasan pasti dari mulut istrinya dan Bintang sedikit lega tidak ada kalimat aneh yang keluar dari ucapan berlian.
"kenapa kamu tidak pernah cerita kalau kamu punya kakak kandung?. "
Berlian yang mulai melunak di buat naik darah dan tersulut emosinya oleh cercaan Bintang yang selalu mengeluarkan kalimat-kalimat menyakitkan.
"Apa manusia angkuh seperti kamu punya rasa kasihan terhadap orang lain?" sentak Berlian sambil berdiri dari pinggir tempat tidur yang di ikuti Bintang dengan sorot mata menahan marahnya karna tak terima di sudut kan dengan pertanyaan dari istrinya. Namun, perlahan sorot mata Bintang menuduh begitu menangkap bias kesedihan mendalam dari balik mata istrinya yang berkaca-kaca.
"aku tidak pernah mengemis belas kasihan dari siapa pun, termasuk kamu. Asal kamu tahu, saat aku masih berada dalam kandungan ibu aku sudah tidak mempunyai ayah. Ketika aku lahir, aku tidak mengenal bagaimana sosok ayah aku dan apa itu kasih sayang seorang ayah. Aku hanya punya ibu, kakak, kakek, dan nenek. Tapi, waktu aku berumur 7 tahun, aku harus kehilangan ibu aku,aku harus merasakan betapa sakitnya menjadi anak yatim piatu. Namun, aku beruntung karna aku masih punya kakek dan nenek juga kakak yang selalu setia menghibur dan menjaga aku. Aku bisa kuat hidup tanpa kasih sayang seorang ayah juga ibu karna ada kak arya yang selalu mengingatkan aku kalau ayah dan ibu tetap hidup dalam diri kami. Kak arya yang selalu menghapus air mataku jika aku menangis mengingat kedua orang tua kami. Tapi, kak arya pergi begitu saja meninggalkan aku karna kesalahpahamannya dengan kakek. Saat itu aku benar-benar sendiri, aku tidak punya pegangan untuk berdiri. Tapi aku tetap kuat tanpa mau memperlihatkan bagaimana lemahnya aku tanpa ayah, ibu juga kakak aku. Aku tetap tersenyum agar semua orang tidak memandang aku sebelah mata. Aku tidak butuh belas kasihan siapa pun, termasuk kamu" ujar Berlian sesak menahan tangisnya yang mau meledak.
"Maafkan aku" Bintang menarik tubuh istrinya masuk kedalam pelukannya. Rasa sayangnya membuncah mendengar cerita dramatis kehidupan Berlian yang belum dia ketahui sama sekali. Hati dan perasaannya tergugah dan bergetar menyesali perkataan yang sudah terlanjur menyinggung perasaan istrinya.
"Aku kangen sama kakak aku, Bin. Aku kangen sama kak arya" rintih Berlian dalam pelukan suaminya.
__ADS_1
"Ini salahku , aku yang membuat kamu kehilangan kesempatan bertemu dengan kakak kamu" Bintang mengecup ubun-ubun istrinya menyudahi penyesalannya.
Berlian kaget menerima perlakuan manis dari suaminya. Dia menengadah menatap Bintang dengan sorot mata tak percaya Bintang bisa memberikan kejutan yang bisa membuat hatinya tenang seketika.
"Hapus air mata kamu. Bunda bisa ngomelin aku karna membuat menantu kesayangannya menangis seperti ini" ujar Bintang yang dengan lembut menghapus sendiri air mata istrinya.
Berlian diam seribu bahasa, sosok Bintang yang tiba-tiba lembut dan penuh perhatian membuat dia berada di ambang kebingungan memahami sikap suaminya. Bintang yang tadinya beringas tak punya perasaan mau menghabisi kakaknya, kini Bintang begitu lembut mengurai sikap memperlakukannya dengan manja.
"Aku tidak butuh belas kasihan kamu, aku bisa menghapus air mata aku sendiri" Berlian menepis kasar tangan Bintang dan beranjak meninggalkan Bintang sendirian.
"Lian, kamu dengarkan aku" Bintang berlari menyusul istrinya.
"Maaf Bin, aku harus membantu bibi menyiapkan makan malam buat kita. Kalau kamu mau bicara,nanti saja" Berlian menghindar dari suaminya dan hendak menuruni anak tangga.
"Lian..." Bintang menyentak dan menarik tangan istrinya dengan kuat dan satu kecupan mendarat mulus tepat di kening Berlian.
Berlian terpaku begitu bibir Bintang menempel hangat di keningnya. Matanya sempat terpejam meresapi kecupan yang di hadiahkan oleh suaminya.
"Kamu wanita yang tegar dan kuat yang tidak patut untuk dikasihani. Apa yang aku lakukan karna sebagai suami kamu bertanggung jawab penuh menjaga kamu dengan ada atau tidaknya orang tua kamu atau pun kakak kamu. Sejak kamu resmi menjadi istri aku, bahagiamu tanggung jawabku tanpa di pengaruhi rasa iba kecuali kalau kamu memang suka dikasihani." kata Bintang begitu melepaskan bibirnya dari kening istrinya.
"Dasar cowok nyebelin" Berlian tiba-tiba saja kesal mendengar penjelasan suaminya karna ujung-ujungnya tetap saja menyakitkan, padahal dia sempat terbuai mendengar penuturan gentle suaminya.
"Salah aku apa lagi, sih" Bintang kesal memandangi istrinya yang berlari menuruni anak tangga.
__ADS_1