
"Ar, kenapa kamu ga punya adik kembar saja, sih?. Aku ga perlu galau kan memikirkan Berlian terus" keluh Satria pada Arya.
Arya yang sibuk dengan laptopnya tak mau menanggapi keluhan sahabat nya itu.
"Coba saja kalau Berlian punya kembaran. Pasti sekarang aku akan menikahinya. Bahagianya...." khayal Satria kejauhan.
"Mau adikku itu punya kembaran atau ngga, aku ga akan pernah membiarkan kamu mendekatinya" ujar arya mematahkan khayalan temannya.
"Kenapa? Memangnya aku kurang apa coba?. Di banding Bintang dan kamu, ganteng aku kemana-mana lagi" ujar Satria penuh rasa percaya diri.
"Itu menurut kamu dan dunia kamu seorang" ledek Arya.
Satria mau membalas ledekan temannya, namun dia di buat terkesima dengan sosok wanita yang tiba-tiba masuk.
"Ar, siapa?. Sekretaris kamu, ya?" tanyanya penasaran.
"Bukan. Dia Karina, sekretarisnya Bintang. Kebetulan ada laporan yang mau dia serahkan padaku"
Satria manggut-manggut dan mulai tebar pesona memperhatikan Karina menyerahkan laporan yang di sebutkan arya barusan.
"Hai, Karina..." goda Satria sok kenal.
Karina menanggapinya acuh tak acuh, kemudian pamit undur diri pada arya.
"Ini dia, tipe cewek yang aku suka" serunya penuh semangat, beda sekali dengan yang tadi.
"Ar, aku keluar dulu mau PDKT dengan Karina..." Satria cepat berdiri dari duduknya dan keluar dari ruang kerja temannya.
"Bertahun-tahun berpisah, kelakuannya tetap saja ga berubah" oceh arya geleng-geleng kepala.
...****************...
Sambutan pak Yadi atas kedatangan Bintang dan Berlian sangat hangat dan terbuka. Tak ada dendam yang tersimpan. Bintang bisa dengan tenang menyampaikan rasa bersalah juga ucapan rasa terima kasihnya atas bantuan pak yadi. Berlian juga ikut menyampaikan permintaan maaf juga terima kasihnya atas kemurahan hati pak Yadi. Beliau menerimanya dengan besar hati.
"Kamu masih sangat muda dan di penuhi ambisi juga ego yang tinggi. Wajar jika saat itu kamu memecat saya" ujar pak yadi bijak dan tenang.
Bintang merasa makin malu pada dirinya karna pak Yadi begitu baik. Bintang tak mau sekedar minta maaf dan berterima kasih. Dia juga kembali mengajak Pak Yadi untuk bergabung menjalankan perusahaan nya lagi. Namun pak Yadi menolaknya dengan halus dengan alasan mau pensiun dan beliau mau menghabiskan masa tuanya dengan istri tercinta dan pindah ke kampung halamannya. Bintang tak memaksa.
Setelah puas menyampaikan sesal dan terima kasihnya dan cukup lega atas kearifan jiwa pak Yadi, Bintang dan istrinya pamit pulang.
...****************...
Perjalanan pulang, Bintang tak pernah lepas menggenggam tangan istrinya. Cerita pak Yadi tadi tentang perjuangan Berlian menemui pak yadi guna meminta bantuannya hampir tiap hari makin menyadarkan dia. Betapa beruntungnya memiliki wanita setangguh Berlian.
__ADS_1
Bintang seolah sudah kehilangan kata-kata mengungkapkan isi hati terdalamnya pada Berlian. Dia hanya bisa mencurahkan nya lewat kecupan indah di kening belahan jiwanya itu.
"Aku sangat mencintai kamu, Lian. Terima kasih sudah membuat aku begitu luar biasa dengan cinta yang kamu punya untukku" bisiknya penuh perasaan.
Berlian mau menjawab, namun matanya tiba-tiba tertumpu pada seorang ibu yang melintas di sisi samping mobil suaminya dengan mendorong sebuah gerobak.
"Bin,,,ada rujak, aku mau" serunya tiba-tiba.
Bintang di buat terkejut , namun dia tetap bisa mengendalikan mobilnya dengan baik.
"Rujak? mana?" tanyanya.
"Itu..." Berlian memutar kepala dan menunjuk kearah berlawanan dari depan. Tak jauh terlihat seorang ibu terus berjalan sambil mendorong gerobak rujaknya.
"Terus kalau ada rujak memangnya kenapa?" Bintang kembali fokus menyetir.
"Aku mau makan rujak" katanya manja.
"Kamu ngidam lagi?" Bintang memberhentikan mobilnya di pinggir jalan dekat emperan toko. Berlian menangguk cepat dengan bentuk mata membulat lucu.
"Ok, aku akan belikan rujak untuk kamu di tempat lain"
"Tapi,aku maunya rujak ibu itu"
"Aku maunya makan rujak yang di jual ibu itu. Kalau kamu ga mau belikan, aku juga ga mau memaksa" Berlian kemudian diam dan memasang muka cemberut.
Bintang garuk-garuk kepala dan di buat pusing dengan permintaan istrinya yang manjanya minta ampun jika menginginkan sesuatu.
"Aku akan belikan rujak ibu itu untuk kamu, tapi kamu tunggu aku di mobil"
Berlian kembali ceria dan senyumnya sumringah karna Bintang mau menuruti apa maunya.
"Yang banyak ya sayang" serunya.
"Iya, sekalian aku borong sama gerobaknya" canda bintang turun dari mobilnya.
"Sekalian saja sama tukang rujaknya" balas berlian tak mau kalah.
Bintang tertawa ringan menanggapi candaan istrinya. Kemudian dia setengah berlari menyusul si tukang rujak yang mulai menjauh. Berlian menunggu dengan sabar sambil meraba perutnya dan berbicara sendiri dengan janin yang berumur 7 mingguan di rahimnya.
"Sayang, kamu lihat sendirikan kalau papa sangat sayang sama kamu. Apapun mau kamu, pasti di turuti sama papa. Kamu senang,kan?"
...****************...
__ADS_1
Sekitar 10 menit, Bintang kembali dengan menjinjing sebungkus rujak.
"maaf ya Yank, rujak ibu itu cuma tinggal segini. Soalnya hari sudah mulai sore dan ibu itu sudah mau pulang" Bintang terlihat menyesal tidak dapat memenuhi semua keinginan istrinya.
Berlian diam tidak memberi tanggapan apa pun. Bintang jadi serba salah.
"Bagaimana kalau kita ke rumah ibu itu saja. Ibu tukang rujak itu bilang kalau rujaknya masih kurang, kita bisa pesan kerumahnya. Tadi ibu itu sempat menunjukan jalan menuju rumahnya" Bintang tak hilang akal dan hendak menyalakan mobilnya. Berlian cepat menahannya.
"Sayang, rujaknya sudah lebih dari cukup kok. Kita langsung pulang saja"
"Kamu yakin?. Nanti anak kita ileran lagi kalau rujaknya cuma sedikit." Bintang ragu.
"Sayang, mau rujaknya banyak atau sedikit, itu tidak penting, yang terpenting adalah perhatian kamu juga keseriusan kamu memenuhi keinginan dede bayi" Berlian meraih dan meletakkan tangan suaminya di perutnya. Barulah Bintang bisa bernafas lega.
"Sayang, kita pulang yuk?" ajaknya.
"Dede bayi sudah ngga sabar mau di manja sama papa nya" lanjutnya.
"Bilang saja kalau mamanya yang mau bermanja-manja sama papanya. Ayok.... Siapa takut?" Seru Bintang bersemangat.
Berlian mencium pipi suaminya. Bintang jadi semangat memacu mobilnya agar cepat sampai di rumah.
...****************...
Sesampai di rumah, Berlian langsung mencari piring dan menuangkan rujak tersebut dan mau memakannya.
"Biar aku suapin" Bintang merebut garpu dari tangan istrinya.
Bintang pun mulai menyuapi satu persatu potongan berbagai macam buah ke mulut istrinya. Berlian mengunyahnya dengan lahap dan semangat.
"Enak?" tanya Bintang yang puas bisa memenuhi keinginan istrinya.
"Enak" Berlian mengangguk semangat.
"Kamu mau coba?" tawar Berlian.
"Rujaknya buat kamu saja, kan kamu yang ngidam bukan aku.bAku mana suka makan beginian"
"Jangan sombong. Rujak ini enak lho. Nanti kalau kamu ngidam mau makan rujak bagaimana?"
"Nggak mungkinlah. Aku ngidamnya palingan pizza, sushi,atau paling nggak steak lah"
"Nggak baik loh, Papa takabur seperti itu" tegur Berlian.
__ADS_1