Kilau Berlian

Kilau Berlian
Bab 14. Menemui Bu Farida


__ADS_3

Berlian menutup bukunya setelah lega meluapkan kemarahannya. Matanya kini jauh memandang anak-anak kecil yang main kejar-kejaran di pekarangan rumahnya. Berlian tersenyum getir membayangkan bagaimana nasib anak-anak itu jika rumah mereka benar-benar di gusur. Mereka akan tinggal di mana?. Bagaimana dengan sekolahnya?. Berlian tidak habis pikir kenapa masih ada orang yang tega ingin menghancurkan masa depan anak-anak itu mengingat orang tua mereka hidupnya sangat bergantung dengan bekerja sebagai buruh pabrik atau pemetik teh milik keluarga Pratama.


Berlian tidak punya pilihan lain selain menemui ibu Farida. Berlian yakin, bu Farida adalah orang yang baik. Dari cerita warga yang dia dengar, bu Farida adalah orang yang dermawan dan suka membantu warga yang kesusahan. Berlian percaya itu karena dia pernah bertemu walau sekali, Berlian dapat menangkap aura bijaksana dari ibu Farida. Tanpa buang-buang waktu, Berlian pun segera pergi dengan mengendarai sepedanya.


...****************...


Berlian tiba di rumah Bu Farida. Rumah berlantai dua dengan ukuran luas ratusan meter dan dengan gaya arsitektur modern adalah rumah terbesar dan termewah yang terletak di daerah sekitar perkebunan. Rumah itu bak istana .


Berlian di buat takjub dengan pemandangan di depan nya. Hiasan keramik di sana sini yang bernilai tinggi mempertegas kalau pemilik rumah ini bukan orang biasa. Dari sekian benda-benda berharga lainnya yang ada di sana, Berlian tertegun melihat sebuah foto keluarga yang terpajang di dinding.


"Rangga aku kangen sama kamu" gumamnya dengan pandangan mata tak lepas mengamati wajah kekasihnya yang ada di foto itu bersama seorang pemuda angkuh dan dengan ibu yang baik hati.


"Seandainya kamu ada di sini . Kamu pasti akan membantu aku keluar dari masalah ini" ucapnya dalam hati.


"Lian, kamu kelamaan menunggu tante?" tegur suara keibuan membuyarkan lamunan Berlian.


"Nggak kok. Lian juga baru saja datang" jawab Berlian sungkan.


"Maaf ya, tante tadi lagi shalat ashar" kata mama farida ramah pada tamunya.


"Tante senang kamu mau datang ke rumah ini. Bagaimana kalau kita duduk dulu"


"Iya Nyonya"


"jangan panggil nyonya donk, Tante aja atau mau panggil mama juga tidak apa-apa" seru mama Farida. Berlian hanya menanggapi dengan tersenyum canggung.


"Lian, bagaimana keadaan kakek dan nenek kamu, mereka sehat kan?" mama Farida bertanya sopan.


"Alhamdulillah sehat tante" jawab Berlian.


"Kalau boleh tahu, ada keperluan apa kamu mau menemui tante?"

__ADS_1


"em...anu... Itu.." Berlian tidak melanjutkan perkataannya karena seorang pembantu datang membawa minuman untuknya.


"Kamu minum dulu jusnya. Kamu pasti capek kan jauh-jauh bersepeda kemari" ujar mama farida perhatian.


"Terima kasih tante"


Dengan sedikit sungkan Berlian meminum orange jus yang ada hingga habis. Mungkin karena dia kehausan makanya sekaligus habis.


"Segar" katanya.


"Mau tambah?"


"Oh,nggak usah tante. Ini saja sudah cukup" tolaknya malu-malu.


"Berlian, tadi kamu mau bilang apa sama tante?" mama Farida kembali pada pertanyaan yang belum sempat di jawab oleh Berlian. Berlian diam sejenak mengatur nafas dan mengeluarkan keberaniannya.


"Tante, sebelumnya Lian minta maaf. Bukan bermaksud lancang ingin bicara ini terhadap tante. Lian hanya ingin meminta tante memikirkan ulang masalah penggusuran yang akan di lakukan oleh perusahaan tante terhadap pemukiman penduduk tempat lian tinggal" jelas Berlian langsung pada pokok permasalahan yang ingin dia utarakan.


"Tante, Lian tahu perusahaan keluarga tante ingin melakukan perluasan lahan perkebunan. Tapi, bukan berarti Bintang harus memaksa kami meninggalkan pemukiman karena pemukiman yang kami tempati mau di gusur dan di ratakan dengan tanah" jelas Berlian lagi.


"Apa??. Bintang akan melakukan penggusuran di pemukiman tempat kamu tinggal?" mama Farida terkejut mendengar penjelasan Berlian. Ibu paruh baya itu sama sekali tidak mengetahui soal rencana itu.


"Lian , kamu tunggu sebentar. Tante mau menghubungi Bintang meminta penjelasan soal ini . Sebentar ya, Tante mau ambil handphone dulu di kamar" mama Farida berdiri dan berjalan meninggalkan Berlian sendirian.


"Tante Farida kenapa kelihatannya sangat terkejut waktu aku cerita soal ini ya?. Apa dia tidak tahu menahu soal penggusuran itu?" gumam Berlian sambil terus berpikir.


Bosan menunggu, Berlian berjalan menghampiri sebuah vas keramik antik yang terletak dekat lemari hias. Berlian yang penasaran memegang benda tersebut dan memperhatikannya dengan sorot mata mengagumi kualitas seni pembuatan vas bunga tersebut.


Bintang keluar dari mobilnya begitu sampai di rumah. Jalannya di percepat begitu masuk dan berjalan melintasi ruang tengah keluarga.


"Kamu?" Bintang menghentikan langkahnya saat melihat dan mengenali sosok gadis yang berdiri menyamping.

__ADS_1


"ngapain kamu di rumahku?. Kamu mau maling ya?" sambar Bintang asal tuduh.


"Jangan sembarangan main tuduh. Siapa juga yang mau maling?" bantah berlian yang sebenarnya kaget dengan kedatangan Bintang yang tidak tepat pada waktunya karena dia belum sempat bicara bnyak dengan mama Farida.


"Tidak mau mengaku lagi. Itu yang kamu pegang apaan?" Bintang menunjuk tangan kanan Berlian yang memegang vas bunga tadi.


"Ini.." Berlian meletakkan kembali vas bunga itu pada tempatnya.


"aku cuma melihat-lihat saja, bukan mau maling" sambungnya.


"Alasan. Mana ada maling mau ngaku yang ada penjara penuh" sela Bintang.


"Karna kamu sudah tertangkap basah mau maling di rumah ini. Kamu akan aku jebloskan ke penjara sekarang juga . Lagian mau ngelak juga percuma. Di ruangan ini ada cctv nya" Bintang berniat menarik tangan Berlian tapi berlian cepat mengelak dan berlari. Bintang pun mengejarnya.


"Kamu mau kemana?" Bintang menghadang langkah berlian yang mau berlari kearah sebuah pintu. Kebetulan mama Farida keluar dan di buat kaget dengan aksi kejar-kejaran Bintang dengan berlian.


"Mau lari kemana kamu maling" Bintang terus menghadang.


"aku bukan maling" sergahnya.


"ma, sebaiknya orang ini harus cepat-cepat di serahkan ke polisi sebelum dia melarikan diri" seru Bintang. Berlian sontak lari dan berlindung di balik punggung mama Farida.


"Jangan percaya tante. Berlian sama sekali tidak mencuri di rumah ini" ujar Berlian membela diri.


"Tidak perlu mencari pembelaan. Maling tetap saja maling" Bintang tetap saja ngotot mau menangkap Berlian.


Mama Farida dibuat pusing dengan tingkah kekanak-kanakan keduanya yang selalu seperti anjing dan kucing yang tak pernah akur kalau sudah bertemu.


"Tante, tolongin Lian tante" pinta Berlian pada mama Farida.


"Jangan kebanyakan gaya" ucap Bintang.

__ADS_1


"Astagfirullah... Bintang hentikan. Berlian kesini mau ketemu mama. Kamu ini apa-apaan sih" tegur mama Farida lebih tegas dan melindungi Berlian dalam pelukannya. Saat itu juga Berlian merasakan kedamaian berada dalam pelukan seorang ibu yang lama hilang.


__ADS_2