Kilau Berlian

Kilau Berlian
Bab 66. Terimakasih sudah mau memaafkan ku.


__ADS_3

Malam pun tiba, makan malam juga sudah selesai. Semua penghuni rumah sudah masuk ke kamar pribadi masing-masing. Berlian sudah tertidur pulas, tapi Bintang masih belum bisa memejamkan matanya. 


Bintang di buat gelisah dan gundah tidak mendapat jawaban apa pun atas permintaan maaf nya. Bintang juga tak bisa mengingkari nalurinya untuk bisa menyatu lagi dengan Berlian mengulang kisah indah mereka. Tapi Bintang tak mau memaksakan kehendak karna tak mau Berlian makin benci padanya. 


"Bin, kamu belum tidur?" Berlian terbangun merasakan gerakan tubuh dan mendengar tarikan nafas tak tenang Bintang. 


"Aku belum ngantuk" jawab Bintang. 


"Kenapa?. Kamu ngga terbiasa tidur di tempat sempit seperti ini?. Kamu pasti ngga nyaman tidur di sini?" Berlian merasa bersalah mengingat Bintang yang tak bisa tidur gara-gara keadaan kamarnya yang tidak sebanding dengan kamar pribadi mereka. 


"Bukan karna itu kok" 


"Lalu karna apa?" tanya Berlian. 


"Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkan ku?" suara Bintang getir dengan sorot mata lirih. 


Berlian merenung mengingat nasihat yang dia pinta dari neneknya ketika Bintang menanyakan hal yang sama waktu siang tadi. 


"kamu tidur lagi ya" Bintang menyambar lamunan Berlian dengan menyentuh lembut pundaknya. 


"Kamu jangan terlalu memikirkan perkataan ku. Aku tidak akan memaksa kamu mau maafin aku. Ini semua resiko yang memang harus aku tanggung karna salahku sendiri" Bintang tersenyum getir pasrah menerima nasibnya. Berlian tetap tak bersuara. 


"Kamu mungkin terganggu aku tidur di sini. Biar aku tidur di bawah saja biar kamu bisa tidur dengan tenang.


"Bin..." Berlian mencekal tangan Bintang.


 


"Kamu tidur di sini saja" 


Berlian tersenyum manis mencegah Bintang turun dari tempat tidur. Bintang terpaku tak bersuara mengagumi senyum milik Berlian.


"Bukan hanya kamu yang belajar mengenal lebih dekat. Aku juga belajar mengenalmu. Kekecewaan , kemarahanku, itu bagian dari proses aku bisa mengenalmu lebih dekat bukan bentuk kebencian aku padamu. Kita sama-sama punya banyak kekurangan. Tidak ada salahnya kalau kita sama-sama saling mengingatkan di mana letak salahnya pasangan kita" 


"Aku tidak mau menyia-nyiakan pernikahan kita dengan terus membiarkan masalah demi masalah tumbuh subur di antara kita" Berlian mengakhiri kata-katanya. 


"Aku pun tidak ingin menyia-nyiakan pernikahan kita, Lian. Aku juga tidak ingin menyia-nyiakan istri ku yang sangat luar biasa kuat mendampingiku" 


Bintang balas tersenyum, perlahan dia menunduk mendekati wajah Berlian. Dalam hitungan detik, bibir Berlian dengan sempurna menyatu dengan bibirnya. Bintang tak mau menyia-nyiakan peluang karna Berlian pun tak ragu membalas kelembutan yang tercipta melalui sentuhan demi sentuhan, belain demi belain yang di lakukan penuh kasih sayang. Bintang makin berhasrat, ciumannya makin lama makin menggairahkan membawa Berlian terbang menggapai kebahagian yang sempat hilang. Sampai akhirnya Berlian tidur lelap dalam dekapan suaminya dan terbangun dalam posisi yang sama.


"Bin, aku mungkin ngga bisa memahami kamu dalam bersikap atau pun berkata-kata. Tapi lewat perbuatan indah mu tiap kali aku menunaikan kewajiban sebagai istri, aku bisa tahu dan mengerti kalau kamu adalah lelaki yang sangat lembut dan penuh kasih sayang" Berlian mengakhiri ucapannya dengan mencium lembut pipi Bintang. Dan sebuah dorongan pun muncul mencium tipis bibir Bintang.


"Aku sayang sama kamu" bisik Berlian lembut. 


...****************...

__ADS_1


Berlian mulai menyibukkan diri di dapur memasak air untuk mandi suaminya. Setelah masak dan dia sendiri sudah selesai mandi, Berlian membangunkan Bintang yang masih tertidur. 


Dengan satu usapan lembut membelai pipinya, Bintang sudah langsung bangun dan tersenyum menyapa Berlian yang terlihat sangat cantik dan segar juga wangi.


"Lian, kamu sudah bangun?" 


Berlian mengangguk dan tersenyum menjawab pertanyaan Bintang.


 


"kamu mandi dulu, aku sudah menyiapkan air panas buatmu" suruh nya.


"Nanti saja. Aku masih ngantuk" Bintang malas-malasan berbaring di tempat tidur. 


"Nggak ada cerita nanti-nanti..." 


"Sekarang kamu bangun dan langsung mandi nanti airnya keburu dingin lagi atau dari pada nanti keduluan sama kakek" 


Berlian menarik tangan Bintang agar mau bangun. Bintang terpaksa menuruti kemauan Berlian.


"Ini handuknya" 


Berlian meraih handuk yang tergantung di samping lemari, lalu menyerahkannya ke tangan Bintang yang sudah berpakaian lengkap.


 


"Terima kasih karna kamu sudah mau memaafkan ku. Aku janji, aku tidak akan pernah menyakiti kamu lagi" janji Bintang sungguh-sungguh. 


Berlian hanya bisa tersenyum dan balas memeluk tubuh kekar Bintang. Berlian pun sempat terpejam meresapi kecupan bibir Bintang menyentuh ubun-ubun nya. 


"Sudah, kamu mandi dulu sana. Habis itu kita sholat subuh sebelum waktunya habis" Berlian melepaskan diri dari pelukan Bintang.


"Kita mandi bareng yuk" Bintang melirik dan tersenyum nakal menggoda Berlian.


 


"Aku sudah mandi. Sudah, kamu mandi,sana..." 


Berlian mendorong punggung Bintang keluar dari kamar. 


"Iya...aku mandi..." 


Bintang tak bisa mengelak. Dia pun berjalan menuju kamar mandi yang terletak berdekatan dengan dapur dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya mengingat kejadian indah semalam. Sementara Berlian di dalam kamar sibuk membereskan tempat tidurnya. 


...****************...

__ADS_1


"Huaaaaa..." 


Teriakan dua laki-laki membuat kaget seluruh penghuni rumah.


"Bintang kenapa teriak seperti itu?" Berlian menghentikan aktivitasnya.


"Jangan-jangan dia jatuh di kamar mandi" 


Berlian cemas dan keluar menyusul Bintang dan mendapatinya tengah di jewer kupingnya oleh kakek.


 


"Aduhhh...sakit,kek" Bintang kesakitan kupingnya di tarik oleh kakek Dharma.


"Kek,kuping bintang kenapa di jewer, kasihan kesakitan" Berlian cepat-cepat menjauhkan tangan kakeknya dari kuping Bintang.


"Memangnya Bintang salah apa sih kek, sampai di jewer begitu?" tanyanya penasaran.


 


"Dia sudah berani ngintip kakek mandi" sambar kakek Dharma. 


"Bintang ngintip kakek mandi?" Berlian menutup mulutnya menahan tawanya yang mau meledak mendengar jawaban kakeknya. 


"Kek, kan sudah ku bilang, kalau aku nggak tahu ada orang di kamar mandi. Lagi pula kakek kan sudah selesai mandi pas aku masuk" ujar Bintang menjelaskan kejadian sebenarnya.


 


"Udah deh kakek jangan berlebihan seperti itu. Nggak malu apa subuh-subuh sudah ribut begini" nenek aminah ikut nimbrung mendengar keributan di depan kamar mandi. 


"Kamu ngga usah meladeni omongan kakek. Kamu mandi saja, air panasnya sudah aku sediain di dalam" 


"Air panasnya sudah kakek habiskan buat mandi" sela kakek Dharma.


 


"Ya sudah, biar aku masak lagi air buat kamu" Berlian berusaha menghibur kekecewaan yang terpancar dari raut wajah Bintang.


"Kamu jangan terlalu memanjakan dia. Biarkan dia mandi dengan air dingin" ujar kakek Dharma selalu menyela perkataan Berlian.


"Nggak apa-apa kok . Aku ngga ada masalah harus mandi pakai air dingin" kata Bintang tak mau menanggapi kakek Dharma.


"Kakek kenapa sih jutek banget sama Bintang?" Berlian melakukan aksi protes ketika Bintang sudah masuk kedalam kamar mandi. 


"Nggak tahu tuh kakekmu sudah kayak anak kecil saja" tukas nenek Aminah heran melihat kelakuan suaminya. 

__ADS_1


__ADS_2