
Bintang terbangun sambil mengucek matanya ketika tangannya meraba tempat tidur yang kosong.
Bintang pun membuka mata dengan sempurna dan mendapati Berlian yang masih pucat sudah berpakaian rapi dengan memegang map.
"Lian, kamu mau kemana?" tanya Bintang.
"Hari ini aku akan mulai mencari kerja. Kamu tidak perlu hidup dalam kecemasan lagi kalau aku akan morotin hartamu. Aku akan berusaha sendiri memenuhi kebutuhanku tanpa menyentuh kekayaanmu sedikit pun" jawab Berlian tegas dan dengan kepala tegak. Tubuh Bintang bagai tak bertenaga, apa yang di sampaikan Berlian barusan lebih sakit dari sekedar tamparan yang dua kali dia terima semalam.
Keputusan Berlian untuk bekerja sudah bulat. Tidak ada yang bisa membujuk wanita berhidung mancung itu untuk menarik kembali keputusannya. Termasuk Bintang yang di kenal sangat keras dan tegas ternyata tak bisa meluluhkan tekad Berlian yang kuat.
"Lian...pikirkan lagi keinginanmu untuk kerja. Mama juga belum tentu setuju dengan keputusanmu" bujuk Bintang tanpa lelah agar Berlian mau merubah keputusannya.
"Mama orang yang sangat bijaksana dan aku akan coba bicara baik-baik dengan beliau. Aku yakin mama tidak akan melarang aku untuk kerja. Kamu tak perlu berkilah membawa-bawa nama mama guna menutupi penekan juga arogansimu. Itu tidak mempan buatku" kata Berlian dengan pendirian yang kuat.
"Aku tahu aku salah. Kata-kataku semalam juga sangat menyakitkan. Aku menyesal dengan apa yang sudah aku ucapkan. Aku sangat menyesal.... dan aku mau minta maaf sama kamu" suara Bintang terdengar lembut, tapi tak cukup menyentuh bagi Berlian yang sudah terlanjur sakit hatinya.
"Lian...maafkan aku"
Bintang coba meraih tangannya. Berlian dengan cepat menepis tangan Bintang. Sikapnya benar-benar dingin dan tak bersahabat.
"Sudahlah... Kamu tidak perlu merendahkan harga diri di depan wanita miskin ini. Permintaan maaf kamu hanya sebuah kamuflase supaya kamu terlihat punya hati dan bertanggung jawab. Rasa bersalah juga penyesalan kamu hanya sebuah lelucon yang akan kamu ulang lagi dan lagi sampai kamu puas menghina ku sesuka hatimu"
Bintang sudah kehabisan kata-kata membujuk Berlian. Dia tak tahu harus bagaimana lagi menunjukkan keseriusannya kalau dia sungguh sangat menyesal sudah menyakiti Berlian sebegitu kejamnya.
"Maaf, aku harus pergi"
Berlian keluar dari kamar, dan bintang cepat menyusul.
"kalau kamu memang mau kerja, kamu bisa kerja di kantorku. Aku bisa menempatkan kamu pada salah satu posisi terpenting di kantor"
__ADS_1
"Apa?" Berlian kaget dan membalikan badan lalu berjalan tegap mendekati suaminya. Bintang tersenyum, usahanya membujuk Berlian sepertinya berhasil. Berlian sepertinya tertarik dengan tawarannya.
"Kamu pikir aku sudi menerima bantuanmu ?!!!" Berlian tersenyum sinis meruntuhkan kepercayaan diri Bintang yang sempat bangkit.
"Mau aku di iming-iming menjadi pemilik perusahaan , aku sama sekali tak tertarik. Seujung kuku pun aku tak tergoda. Usahamu menyogok aku seperti ini justru makin mempertegas kalau kamu memang sebegitu rendahnya menilai ku dengan hartamu. Kamu sama sekali tidak pernah bisa belajar dari kesalahanmu. Kamu bilang kamu menyesal dan kamu meminta aku memaafkan mu, tapi kamu justru balik lagi menghinaku"
"Lian... kamu jangan salah paham. Niat aku benar-benar tulus, bukan mau menghinamu" jelas Bintang membela diri.
"Aku benar-benar ingin kamu bekerja di kantorku karna kantor memang membutuhkan tenaga profesional sepertimu"
"Atau kamu membutuhkan seseorang yang bisa kamu hina sewaktu-waktu sampai kamu puas" sela Berlian tak mudah di bujuk oleh alasan apa pun yang terlontar dari mulut suaminya.
"Kamu lupa... dulu, waktu aku melamar pekerjaan di kantormu, kamu bilang apa?"
"Kamu bilang kalau perempuan kampung dan tidak berpendidikan sepertiku tidak layak bekerja di kantor kamu" Berlian dengan fasih mengulang kata-kata Bintang yang dulu pernah menolak dan menghinanya habis-habisan.
"Bukan hanya itu, dengan mudahnya kamu membuang surat lamaran ku ke tong sampah sama dengan mudahnya kamu menghinaku sebagai wanita pengincar hartamu"
Bintang tertunduk, ingatan Berlian tentang keburukannya sangat bagus dan itu menyakitkan baginya. Harapannya untuk menggapai cinta Berlian benar-benar tidak ada karna tak ada kesan baik yang bisa di kenang Berlian untuk membangkitkan semangat hidupnya yang mulai rapuh.
Berlian kembali melanjutkan langkahnya, dan Bintang berusaha mencegahnya.
"Lian, kalau kamu mau kerja, tunggu sampai kondisi kesehatan mu membaik. Semalam kamu kehujanan, suhu badan mu semalam sangat panas. Kamu tunda dulu keinginan kamu sampai benar-benar sembuh ya?"
"Jangan sok memperdulikan aku. Aku tahu bagaimana kondisiku sendiri" sahut Berlian tak peduli dan berjalan cepat menuruni anak tangga.
"Jangan gegabah Lian. Mama pasti tidak akan mengizinkanmu bekerja"
"Siapa bilang mama tidak mengizinkan Berlian untuk bekerja" sela wanita paruh baya dari arah ruang tengah.
"Mama" ucap Berlian dan Bintang serentak menoleh dan berhenti melangkah.
__ADS_1
Mama Farida berjalan mendekati putra dan menantunya. Sedari tadi dia sudah jengah mendengar pertengkaran pasangan muda tersebut.
"Ma, maafin Lian. Lian tidak bisa berdiam diri terus di rumah. Lian mau menyibukkan diri dengan kegiatan positif. Mama nggak marah kan kalau Lian kerja?" perasaan harap-harap cemas menghinggapi Berlian, kalau-kalau mama mertuanya tetap bersikeras melarangnya bekerja.
"Iya, sayang. Mama tidak keberatan kalau kamu memang ingin kerja" senyum mama Farida mengembang tulus.
Berlian yang lega mendengar keputusan mama mertuanya, langsung menghambur memeluk wanita yang sudah dia anggap seperti ibu kandungnya sendiri. Bintang hanya bisa pasrah dan terima saja kalau Berlian memang keras ingin bekerja.
"Terima kasih mama" ucap Berlian haru.
"Tapi kamu harus janji sama mama, kamu harus bisa menjaga nama baik keluarga kita dan kamu harus bisa membagi waktu kamu antara pekerjaan dan rumah tangga" ujar mama Farida mengingatkan menantu kesayangannya.
"Lian janji ma, Lian tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan mama"
"Sudah siang, Lian pamit dulu" lalu Berlian mencium tangan mama mertuanya.
"kamu tidak sarapan dulu nak?" tanya Mama Farida.
"Lian mau ke rumah kakek dulu. Lian sarapan di sana saja. Sudah lama tidak sarapan bareng kakek nenek" tolaknya halus.
"Bin, aku pamit"
Berlian beralih mendekati suaminya yang menatapnya begitu sendu. Berlian meraih tangan Bintang, menyalami dan menciumnya seperti biasa sebagai bukti kalau dia masih menghormati Bintang sebagai suaminya.
"Maafkan aku, Lian" ucap Bintang getir dan hatinya tak tega melihat keadaan Berlian yang pucat dan lemah memaksakan diri mencari pekerjaan. Semua karna kebodohannya yang begitu emosional dan mudah mengucapkan kata-kata kasar.
...****************...
"Bintang, mama mau bicara sama kamu" ujar mama Farida pada buah hatinya yang tak pernah lepas mengamati kepergian istrinya.
__ADS_1
"Aku juga mau bicara sama mama" sahutnya.
Ibu dan anak itu pun berjalan menuju ruang keluarga.