
"Lian, kamu kenapa pulang sendirian?. Suami kamu mana?" tanya Mama Farida heran menantunya pulang sendirian tanpa di temani Bintang.
" jadi Bintang belum pulang ke rumah? " gumam Berlian terdiam mendengar pertanyaan mertuanya.
"Kok diam?. Suami kamu mana?" tanya Mama Farida lagi.
"Oh, itu ma, Bintang masih ada urusan di luar" jawab Berlian sedikit gugup menutupi kekesalannya terhadap Bintang yang ternyata belum pulang seperti dugaannya.
"Ya sudah. Kamu mandi dulu sana" suruh mama Farida.
"Habis itu kamu turun, kita makan malam bareng" sambungnya.
"Lian mau nungguin Bintang dulu ma. Mama makan duluan saja" tolak Berlian halus dan kehilangan semangat kalau tidak ada Bintang di sampingnya menemani makan.
"Maaf ma, Lian mau istirahat dulu"
"Nak, tunggu dulu" cegah mama Farida.
Berlian yang mau berjalan terpaksa menghentikan langkahnya.
"Ada apa ma?" tanyanya heran.
"Mama punya sesuatu buat kamu"
"Sesuatu?" kening Berlian mengkerut melihat mama mertuanya mengambil sebuah bingkisan yang terletak di atas meja ruang tamu.
"Kemarin mama habis belanja dan kebetulan minggu depan ada kolega bisnis Bintang yang mau menikah, jadi mama beliin gaun buat kamu pakai nanti menemani Bintang menghadiri pesta itu" terang mama farida sambil menyerahkan bingkisan yang berisi gaun yang indah.
"mama ngapain repot-repot beliin Lian gaun, harganya pasti mahal kan?"
"Ssst... kamu ngapain bahas masalah harga sih?. Kamu itu anak mama, tidak ada salahnya seorang ibu membelikan sesuatu untuk anaknya!" jelas mama Farida menyela perkataan Berlian.
"Terima kasih mama" Berlian tersenyum haru dan memeluk mama mertuanya, saat kegundahan dan keresahannya akan permasalahannya dengan Bintang, ada mama mertuanya yang selalu memperlakukannya istimewa.
"Sudah, kamu istirahat dulu sana" ujar mama Farida setelah puas memanjakan menantu kesayangannya dalam pelukan juga belaiannya.
Berlian pun melangkah menaiki tangga menuju kamar pribadinya.
...****************...
"Bin, kamu kemana sih, jam segini kenapa belum pulang?" resah Berlian duduk menghadap meja riasnya.
__ADS_1
"Apa kamu pergi menemui Bella?" tebak Berlian ketakutan membayangkan kalau saja itu benar.
Berlian bermaksud mengambil handphone yang disimpan di atas nakas dekat tempat tidur berniat menghubungi nomor suaminya. Tapi matanya tertumpu pada selembar foto yang keluar dari dalam tas nya saat tak sengaja berlian menyenggol jatuh tas tersebut. Dia pun mengurungkan niatnya.
"Bella, aku akui kamu memang cantik. Tapi, aku tidak akan pernah membiarkan kamu merebut suamiku. Bintang milikku, bukan kamu" Berlian bicara sendiri dengan foto Bella seperti orang gila.
"Apa kurangnya aku di bandingin bella?. Aku juga tidak kalah cantiknya dari dia" ujarnya sambil terus memandangi foto tersebut.
"Kalau bergaya seperti ini aku juga bisa. Bintang pasti akan terpesona melihat aku"
Berlian menghayal sendiri memakai gaun biru yang di kenakan Bella dan dia bergaya persis seperti model dan Bintang terkesima memandanginya.
"Hmmm... aku akan buktikan kalau aku lebih cantik dari pada kamu" Berlian menunjuk-nunjuk wajah dalam foto itu dengan kesal kemudian berdiri menuju ruang pakaian.
Berlian mulai beraksi layaknya ABG yang lagi jatuh cinta. Sibuk gonta-ganti baju dan mematut dirinya di cermin.
"Biasa saja" ujarnya melihat dirinya di cermin.
"Enggak asik..." katanya setelah mencoba memakai baju lainnya dan entah sudah baju ke berapa yang dia pakai.
"Aku pakai baju apa lagi, ya?" keluhnya setelah semua baju dalam lemarinya di coba.
Berlian tersenyum lebar dengan sorot mata berbinar mematut dirinya pada kaca riasnya. Gaun merah pemberian mertuanya yang melekat pas membalut tubuhnya begitu indah, anggun dan elegan. Dia pun berputar-putar seperti peri yang sedang menari.
"Kayaknya ada yang kurang?!" pikirnya penasaran.
"Make-up nya" ingat Berlian. Dia pun segera merias wajahnya menggunakan make-up dengan sempurna mempercantik dirinya. Berlian yang tadinya begitu semangat tiba-tiba berubah murung dan sedih.
"Percuma aku mau memakai gaun sebagus dan semahal apa pun, mau aku dandan secantik apa pun, Bintang tak akan pernah terkesan denganku. Selama menjadi istrinya, Bintang juga tidak pernah memujiku" ucap Berlian getir mengingat dinginnya sikap Bintang terhadap dirinya.
"Lagi pula Bella memang cantik di bandingkan denganku"
Berlian menopang wajahnya pada meja rias sambil mengamati kembali wajah Bella baik-baik dan membandingkannya dengan dirinya sendiri.
"Mau aku cantik, mau aku jelek, Bintang milikku, selamanya" tandas Berlian yang dengan kesal membalik foto yang dipegang nya.
"Bin, kok kamu belum pulang juga, sih?" gumam Berlian mulai lelah dan mengantuk menunggu suaminya pulang.
...****************...
"Bin, terima kasih karna kamu tadi sudah membayar semua tagihan makananku di cafe" ucap Rangga pada sepupunya ketika dia dan Bintang tiba bersamaan di rumah.
__ADS_1
"Kalau kamu belum mampu traktir anak orang, tidak usah sok mau memacari anak orang" jawab bintang sinis, membuat Rangga menggertak dalam hati menahan marahnya.
"Kalau saja aku tidak kecopetan, aku tidak akan mau menerima bantuan kamu" balas Rangga tak mau harga dirinya di injak-injak.
"Kamu sangat beruntung, aku ada di waktu dan tempat yang tepat. Kalau tidak, apa yang akan kamu perbuat?. Mengemis pada mama?!" sindir bintang.
Bintang beranjak masuk kedalam rumah meninggalkan Rangga sendirian di teras rumah.
"Brengs*k..." Rangga spontan memukul pilar rumah yang berdiri kokoh di sampingnya.
...****************...
Pintu kamar terbuka pelan. Bintang masuk dengan langkah ringan.
"Lian, kamu kenapa tidur di sini?" Bintang kaget melihat istrinya tertidur di meja riasnya. Dia pun bergegas menghampiri istrinya dan bermaksud memindahkannya ketempat tidur.
"Lian..."
Bintang terkesima dan tertegun mengagumi kecantikan istrinya. Dia hampir tidak percaya dan mengenali istrinya sendiri karna Berlian begitu lain dari biasanya. Pakaian dan dandanannya begitu anggun dan elegan. Berlian sangat memikat dan indah di pandang mata.
"Lian kamu cantik sekali, sangat cantik" bisik Bintang tak lepas menatap istrinya dengan sorot mata penuh kekaguman.
"Tapi untuk apa kamu dandan secantik ini?" Bintang jadi bingung sendiri memikirkan tujuan istrinya berpenampilan semenarik ini. Tapi Bintang tak begitu menghiraukan rasa penasarannya karna dia benar-benar terpikat dengan aura cantik yang terpancar cerah dari wajah Berlian dan dia jadi tak tega membiarkan istrinya lama-lama tidur tertelungkup di meja rias. Bintang pun mengangkat dan memindahkan istrinya ketempat tidur.
Kekaguman Bintang makin menjadi manakala menyaksikan wajah istrinya lebih dekat dan jelas dan itu membuat jantungnya berdetak tak karuan. Berlian ibarat putri tidur yang cantik di matanya. Bintang pun tak tahan untuk tidak mengecup kening istrinya dan perlahan turun menyentuh manis bibir tipis milik Berlian.
Setelah mengecup bibir berlian, bintang membereskan baju berlian yang berserakan di tempat tidur dan lantai kamar dan mata Bintang tertuju pada sebuah lembar foto yang tergeletak di lantai. Bintang pun mengambil foto tersebut.
"Bella" gumamnya mengenali gadis dalam foto tersebut.
Sejenak Bintang tercenung menatap foto wanita yang pernah menyakitinya, kemudian pandangannya beralih menatap istrinya.
"Apa kamu melakukan ini untuk aku Lian?" ujar Bintang bergumam lirih membandingkan kemiripan cara berdandan Berlian dengan foto Bella . Kalau saja itu benar, Bintang sangat tersanjung karenanya.
"Kamu tidak bisa di bandingkan dengan wanita mana pun" bintang refleks meremas foto Bella dan membuangnya begitu saja. Dia pun memasukan kembali baju Berlian yang berserakan kedalam lemari.
Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian Bintang kemudian mendekati Berlian yang tertidur lelap dan akhirnya dia ikut tiduran di samping Berlian. Bintang tak bosan-bosannya menatap dan membelai wajah berlian.
__ADS_1