Kilau Berlian

Kilau Berlian
Bab 20. Kenyataan menyakitkan


__ADS_3

"Selamat ya, Lian!. Akhirnya kamu dan Rangga akan segera bertunangan" ujar Kartika ikut senang mendengar kabar bahagia dari sahabatnya di sore yang cerah itu.


"Terima kasih Tika!. Ini semua juga berkat doa kamu" jawab Berlian tak kalah senangnya dari sahabatnya.


Dua sahabat itu pun berpelukan meluapkan kebahagiannya.


"Lusa kamu datang kan ke acara pertunangan aku dengan Rangga?" tanya Berlian begitu melepaskan pelukannya.


"Lian, aku ingin sekali menghadiri acara pertunangan kamu. Tapi, lusa aku dan mama harus terbang ke luar kota menghadiri wisuda adikku. Kamu kasih tahunya mendadak,sih" kata Kartika dengan wajah murung dan bersalah juga tidak enak dengan sahabatnya yang sudah capek-capek datang mengundangnya.


Berlian jelas kecewa mendengarnya . Tapi, dia tetap tersenyum dan tidak mau memperlihatkan kekecewaannya. Bagaimanapun Kartika punya alasan yang jelas atas absen nya dia nanti.


"Enggak apa-apa kok, Tika. Aku bisa mengerti. Tapi, nanti pas hari pernikahan aku kamu harus datang."


"Pasti. Nanti aku akan datang sama Bi..." Kartika cepat menutup mulutnya sebelum keceplosan.


"Sama siapa...hayoo?" selidik Berlian penasaran.


"Ada deh. Intinya, aku akan datang dengan lelaki spesial dalam hidup aku" jawab Kartika penuh teka-teki.


"Apa lelaki itu pangeran masa kecil kamu yang pernah kamu ceritakan dulu?" tebak Berlian dengan mata menyipit.


Kartika tersenyum dan mengangguk malu membenarkan tebakan sahabatnya.


"Tika..kamu dan dia sudah..." Berlian menggantung ucapannya dan langsung memeluk sahabatnya dengan penuh suka cita. Kartika hanya tersenyum dan tidak tahu bagaimana menjelaskan hubungannya dengan Bintang sebenarnya.


...****************...


Hari itu datang juga. Berlian sudah terlihat cantik, anggun dan mempesona dalam balutan kebaya putih yang elegan.


"Kamu cantik sekali, Lian" puji nenek Aminah terkesima menatap cucunya yang lain dari biasanya . Maklum saja Berlian selama ini belum pernah menggunakan make up secantik dan semewah ini.

__ADS_1


Berlian hanya bisa menunduk dan tersenyum malu mendengar pujian yang di lontarkan neneknya. Berlian juga sudah tidak sabar keluar dari kamar menemui calon tunangannya karena dia sudah cukup bersabar menunggu hari ini tanpa meminta kepastian atau pun penjelasan dari Rangga. Berlian sangat percaya Rangga memang menepati janjinya.


...****************...


Sejak awal menapaki kakinya di pekarangan rumah yang ada pohon rambutannya, Bintang cukup terkejut. Bintang pun mulai menduga-duga kalau gadis yang akan di jodohkan dengan dia adalah Berlian.


"Semoga bukan gadis norak itu yang di jodohkan denganku. Semoga kakek sangar itu memiliki cucu perempuan lainnya yang lebih modis, berpendidikan dan lebih sepadan menjadi pendamping hidup aku" ujar Bintang dalam hati sepanjang kakinya melangkah memasuki hunian rumah sederhana itu di dampingi mama kandung juga kerabat lain dengan membawa seserahan untuk pihak perempuan, tapi tanpa dihadiri Rangga yang banyak alasan menolak ikut menemani bintang melamar perempuan yang masih berstatus pacarnya.


Di depan pintu Bintang beserta keluarganya di sambut oleh kakek Dharma beserta kerabatnya yang lain. Raut muka Bintang sempat memucat begitu kakek Dharma menatapnya dengan tajam . Namun , kali ini Bintang cukup pintar menguasai keadaan dan menjaga wibawanya dengan baik.


Semua keluarga sudah berkumpul dan bicara baik-baik menyampaikan keinginan masing-masing kedua belah pihak. Kini tiba saatnya memperkenalkan siapa gadis yang beruntung di jodohkan dengan Bintang.


Bintang dan semua yang hadir menunggu dengan hati berdebar-debar. Semua mata langsung tertuju pada sebuah pintu kamar ketika pintu itu terbuka.


Seorang gadis bagai dewi di tuntun keluar oleh seorang perempuan tua, nenek Aminah.


"Berlian" gumam Bintang tak bersuara. Laki-laki berpostur tinggi tegap itu spontan berdiri dengan sorot mata antara kaget dan terkesima melihat perubahan Berlian yang sangat cantik.


"Bagaimana dengan gadis pilihan mama?. Berlian cantik kan?" mama Farida menggoda putranya yang tidak bisa menyembunyikan kekagumannya terhadap Berlian.


Bintang tidak menjawab, dia hanya sibuk menjaga gengsi dan wibawanya juga keangkuhannya. Sebagai ibu yang melahirkan juga membesarkannya, mama Farida tahu betul makna sikap yang ditujukan Bintang itu apa.


"Biasa saja" jawabnya singkat dan sempat di pelototi oleh kakek Dharma. Berlian pun makin bingung dengan maksud ucapan mama Farida.


"Bagaimana, apa acara pertunangan antara berlian dan bintang bisa kita mulai?" mama farida buru-buru membuka acara.


"Berlian dan Bintang!!" bak petir di siang bolong mendengar perkataan mama Farida.


"Tunggu, semua ini pasti keliru. Saya tidak pernah mau di jodohkan dengan Bintang. Laki-laki yang seharusnya melamar saya bukan Bintang,tapi..." mengingat nama Rangga, kalimat Berlian menggantung. Tanpa permisi, Berlian pun berlari meninggalkan semuanya. Saat ini yang ada di benaknya adalah menemui Rangga dan meminta penjelasan yang sejelas-jelasnya mengenai semua ini.


Suasana jadi riuh dan gaduh ketika Berlian pergi. Kakek dan neneknya Berlian di buat malu dan heran dengan penolakan cucunya, sangat berbanding terbalik dengan kenyataan kemarin. Mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah cucunya.

__ADS_1


"Bin, kamu susul Berlian sekarang!" ujar mama Farida pada putranya.


"Mama sudah lihat bagaimana kelakuan calon istri yang mama pilih , kan?. Sudah cukup kita merendahkan harga diri kita pada gadis yang tidak punya sopan santun itu" geram Bintang. Kekagumannya sirna berganti sesal dan kebencian bagaimana Berlian begitu mudahnya mempermalukan dia dan keluarganya.


"Nak Bintang, maafkan kelakuan Berlian" sesal nenek Aminah, sedang kakek Dharma merasa ada yang sakit di bagian jantungnya.


"Bukan nenek yang harus minta maaf. Tapi, Berlian, cucu nenek yang tidak tahu malu itu" ujar Bintang tak bisa menguasai amarahnya lagi.


"Ma, kita pulang, sekarang" Bintang menarik paksa tangan mamanya. Rahangnya mengeras, matanya memanas menahan amarah yang belum terlampiaskan atas penghinaan terang-terangan dari Berlian. Apa Berlian sengaja ingin balas dendam dengan melakukan semua itu?!.


...****************...


Berlian tak salah. Di tepian telaga ada sosok yang di carinya.


"Rangga..." Berlian menghambur memeluk erat Rangga dari belakang bersama linangan air matanya.


"Lian" gumam Rangga mematung dengan wajah pucat. Rangga dengan cepat dan kasar melepaskan tangan Berlian dari pinggangnya.


"Lian, kamu kenapa ada di sini?. Bukannya kamu harus bertunangan dengan Bintang ?" sambar Rangga langsung, membuat Berlian terhenyak.


"Jadi kamu tahu soal pertunangan ini dan kamu hanya diam dan kamu tidak berusaha menjelaskan semua ke aku atau mencoba mencegahnya?" ucap Berlian antara terkejut, kecewa sedih dan marah pada kebodohan juga kepolosannya, terlebih dengan sikap diam laki-laki yang dia cintai.


"Maaf Lian, hubungan kita sudah tidak bisa di lanjutkan lagi. Lebih baik kamu terima saja perjodohan kamu dengan Bintang" ujar Rangga tanpa perasaan.


"Enggak....aku ga mau" tolak Berlian dengan tangisnya yang makin tidak bisa dibendung.


"Aku cintanya sama kamu, Rangga. Aku tidak mungkin mau di jodohkan dengan Bintang" tangisnya.


"Lian, kamu jangan mempersulit kehidupan aku. Kamu harus mau menerima lamaran Bintang. Aku tidak mau mama tahu soal hubungan kita karena mama bisa saja membuang aku ke jalanan dan semua fasilitas kemewahan yang mama berikan padaku. Aku yakin jika kamu mau menikah dengan Bintang, bukan hanya aku yang untung, tapi kamu juga, karena kamu tidak akan hidup dalam kemiskinan lagi"


"apa????"

__ADS_1


__ADS_2