
Hampir satu jam Bintang pergi belum juga kembali. Berlian di buat gelisah dan konsentrasi mengetik novelnya jadi hilang.
"kamu sebenarnya kemana,sih?. Udah hampir satu jam, kok belum balik juga?"
Berlian tak bisa menutupi kegelisahan nya dan ada rindu di balik semua itu. Dia kemudian menutup laptop dan menaruhnya. Terpikir dalam benaknya untuk keluar mencari Bintang.
...****************...
Setelah bicara dengan dokter, Bintang sengaja keluar mencari makanan untuk Berlian karna dia tahu Berlian sudah mulai bosan dengan makanan yang di sediakan oleh pihak rumah sakit.
"Tante Dewi ?!!"
Bintang terkejut melihat ibunya Bella mau masuk keruang rawat Berlian. Bintang mempercepat langkahnya. Tanpa pikir-pikir , Bintang menarik tangan ibu Dewi menjauh.
"Apa yang mau tante lakukan di depan ruang rawat istriku?"
"Bin, ini sudah 4 hari istri kamu di rawat. Keadaan istri kamu pasti sudah membaik. Apa salahnya kamu menyempatkan diri menemui Bella. Bella sangat membutuhkan kamu"
"Aku sudah pernah katakan kalau aku ngga akan pernah mau menemuinya. Dia itu masa laluku dan sudah ngga ada sangkut pautnya denganku. Biarpun keadaan istriku sudah membaik, aku ga akan pernah melalaikan tugasku menjaga dia dengan membuang waktu menemui Bella" Bintang kembali mempertegas sikapnya yang kemarin dan tidak akan pernah mau merubahnya.
"Kalau kamu tidak mau, biar tante sendiri yang menemui istri kamu. Tante akan memohon pada istrimu agar dia mau membantu tante. Tante yakin, sebagai sesama perempuan, istrimu pasti mengerti dengan apa yang tante rasakan" ibu dewi tak habis akal memaksa Bintang agar mau menemui Bella.
"aku ngga akan pernah membiarkan tante menemuinya. Aku bisa saja menyeret tante keluar dari rumah sakit ini." tandas Bintang.
"Tante ngga peduli, kamu mau mengusir atau menyeret tante. Tante akan tetap menemui istrimu" wanita paruh baya itu tak takut dengan ancaman Bintang. Apapun rintangan yang menghadang akan dia hadapi demi sang putri yang tengah berjuang.
"Ok, aku akan menemui Bella" Bintang terpaksa mengalah karna tak mau Berlian tahu menahu soal Bella.
"Tapi hanya 5 menit, tidak lebih" Bintang mengajukan syarat yang terpaksa di iya kan oleh ibu dewi. Siapa tahu dari 5 menit itu Bintang bisa berubah pikiran dan mau merawat Bella sampai dia sadar dan Bella bisa sembuh karenanya.
...****************...
5 menit waktu berjalan. Tidak ada yang di lakukan Bintang di ruang rawatnya Bella. Bintang hanya diam di tempat memperhatikan gadis yang pernah menjadi kekasihnya. Bella yang terbaring dengan alat-alat medis yang menempel sana-sini tampak tak seperti Bella yang dulu bugar dengan wajah terawat dan di rias make up dan penampilan yang cukup glamor. 5 menit berlalu, Bintang keluar tanpa sepatah kata pun, menyapa atau menyentuh Bella pun tidak.
__ADS_1
...****************...
"Bintang keluar dari ruangan siapa?. Lalu ibu itu siapa?"
Berlian penasaran dan mendekat.
"Bin, terimakasih karna kamu sudah mau menjenguk Bella. Tante yakin setelah ini kamu pasti akan kembali menjenguk Bella dalam waktu yang lebih lama lagi"
"Bintang menemui Bella?" langkah Berlian terhenti mendengar pembicaraan suaminya dengan wanita yang tidak di kenalnya.
"Jadi Bella ada di rumah sakit ini"
Air mata Berlian merebak turun menahan sakit yang menghujam ulu hatinya. Begitu perih rasanya mengetahui Bintang menemui wanita lain yang merupakan mantan kekasihnya. Berlian tak kuat menahan hatinya, dia surut dan kembali ke kamarnya.
"aku sudah menunjukan niat baik menjenguk Bella. aku rasa itu sudah cukup" Bintang sama sekali tak terpengaruh dengan keadaan Bella.
"Jangan gegabah mengambil keputusan, kamu bisa menyesal jika terjadi hal buruk pada Bella"
"Aku akan sangat menyesal jika hal buruk terjadi pada istriku" Bintang menyela tegas apa yang di katakan ibu dewi. Dan Bintang memilih pergi begitu saja dari pada berdebat tak penting.
...****************...
Pertanyaan yang menyakitkan itu bertubi-tubi menghantui ketakutan Berlian yang tak hentinya menangis. Membayangkan Bintang kembali kepangkuan Bella seakan dunia berhenti berputar.
"Aku ngga mau kehilangan kamu" tangis Berlian pilu.
"Lian, kamu kenapa?" Bintang yang masuk panik melihat Berlian sedang menangis.
Berlian berniat menghapus air matanya, namun Bintang sudah lebih dulu menyeka air matanya.
"Kamu kenapa nangis?" tanya Bintang dengan sorot mata penuh kelembutan.
"Kamu marah karna aku perginya lama?" tebak Bintang.
"Aku ngga akan marah kalau kamu mau jujur kamu sebenarnya dari mana?. Kenapa kamu begitu lama menemui dokter?" tanya Berlian setenang mungkin mengatur gejolak kecemburuannya.
__ADS_1
"Aku kan tadi sudah bilang sama kamu kalau aku mau menemui dokter membicarakan kondisi kamu dan itu butuh waktu lama karena banyak sekali yang ingin di sampaikan dokter mengenai kesehatanmu"
"Bohong" jerit Berlian dalam hati.
"Kenapa kamu tidak jujur saja sama aku. Kenapa kamu harus menyembunyikan pertemuan kamu dengan Bella. Andai kamu jujur, aku tidak akan melarang kamu menemuinya jika memang itu bisa membuat kamu bahagia dan tidak tertekan menjagaku" rintih Berlian tak bersuara.
"Lian, kamu sebenarnya kenapa?. Apa aku melakukan kesalahan lagi yang menyakitimu?" Bintang meraba isi hati istrinya tanpa tahu kalau Berlian mendengar sebagian pembicaraannya dengan ibu kandungnya Bella.
"Kamu bukan hanya menyakitiku. Tapi kamu sudah melukai perasaan aku begitu dalam" jerit Berlian dalam hati, mulutnya tak sanggup menyampaikan kekecewaannya.
"Aku mau istirahat" Berlian membaringkan tubuhnya dan mau memejamkan matanya.
"Kamu istirahatnya nanti saja. Aku tadi sempat keluar membelikan makanan. Aku tahu dari kemarin kamu sudah bosan makan masakan rumah sakit. Kamu makan, ya?"
Berlian bangun lagi dan menatap suaminya lekat.
"Dokter bilang kalau keadaan kamu sudah mulai membaik "
Bintang tersenyum lalu mengeluarkan makanan yang tadi sempat di belinya ada sup krim panas, yogurt , jus alpukat dan beberapa makanan penutup sesuai arahan Dokter.
Berlian tersenyum haru dan menghambur memeluk bintang karna akal sehatnya mulai berjalan. Bintang memang menemui Bella, tapi dia tak melihat langsung apa yang di lakukan mereka. Setidaknya dengan perhatian yang di tunjukan Bintang padanya bisa menjawab keraguannya. Sejak awal dia di rawat, Bintang selalu ada untuknya. Bintang rela meninggalkan pekerjaannya hanya untuk menjaga dan merawatnya. Bintang suami yang bertanggung jawab dan setia pada komitmennya. Masalah Bella tak bisa mengalahkan perhatian Bintang untuknya.
"Bin, janji sama aku kalau kamu ga akan pernah ninggalin aku dengan alasan apa pun" Berlian menengadah meminta kepastian.
"Aku janji!. Aku ga akan pernah ninggalin kamu sampai maut memisahkan kita" kata Bintang pasti yang bisa membuat Berlian tersenyum lagi.
Bintang kemudian duduk berhadapan dengan Berlian dan melempar senyumnya. Berlian pun ikut tersenyum. Perlahan wajah keduanya saling mendekat. Bibir keduanya bertemu tanpa dapat mereka tahan. Keduanya menikmati kemesraan itu penuh kesadaran kalau hal seperti itu sangat membahagiakan dan tak harus di cemari oleh hal yang tak seharusnya jadi ganjalan jika mereka bisa berpikir positif . Itulah yang sempat di rasakan oleh Berlian tadi.
"aku lapar..." Berlian merengek manja saat bibir keduanya menjauh, menyudahi kemesraan mereka.
"Biar aku suap in " sahut bintang.
"Nggak apa-apa ya kalau aku makan ini?"
"Kamu ngga perlu cemas, aku sudah diskusikan ini dengan dokter. Selama makanan ini sehat, kebersihannya juga terjaga dan di makan sesuai dengan porsi yang di butuhkan sama sekali ngga ada masalah. Makanya tadi aku beli langsung"
__ADS_1
Kekaguman Berlian tumbuh berlipat-lipat. Bintang bukan hanya berubah jadi dewasa dan sabar. Tapi, juga menjadi laki-laki yang bijak penuh pertimbangan.