
Bintang melajukan motornya membelok lawan arah jalan yang mereka lewati tadi siang dan 10 menit kemudian mereka sampai di sebuah vila berukuran sedang namun asri . Vila itu jarang di kunjungi dan tidak ada yang menjaga. Hanya tukang kebun dan salah satu pembantu dari rumah yang kadang di utus membersihkan vila tersebut seminggu sekali.
"Kita masuk" ajak bintang setelah membuka pintu vila menggunakan kunci cadangan yang di sembunyikan pada suatu tempat dekat tanaman hijau di sana.
Berlian masuk dengan tubuh basah kuyup karena jaket yang dikenakan berbahan kain, berbeda dengan Bintang yang hanya basah bagian celana saja karena baju dalam kering terlindungi jaket kulitnya. Bintang bergegas masuk kedalam kamar dan keluar membawa dua bathrobe. Karena disana tidak ada baju ganti, mereka berdua mengganti baju yang basah hanya dengan bathrobe.
"di sini tidak ada baju ganti,kamu pakai ini" Bintang menyerahkan bathrobe kepada istrinya.
"Kamu cepetan ganti baju kamu. Kamu bisa masuk angin kalau lama-lama memakai baju basah begini"
Berlian masih saja diam di tempat seperti ada rasa malu dalam dirinya.
"ah...sial baterai hp nya habis" gerutu Bintang saat mau menghubungi orang rumah agar menjemput mereka di vila. Sementara diluar hujan semakin deras.
"Kenapa? baterai nya habis ya? kamu sebaiknya ganti baju dulu, celana mu juga basah kan?" kata Berlian saat keluar dari kamar mandi. Bintang pun meletakkan ponselnya dan masuk ke kamar mandi.
Sementara itu Berlian langsung mencari letak dapur , barang kali ada sesuatu yang bisa dimakan atau pun dimasak untuk mengisi perut mereka. Berlian hanya menemukan beberapa bungkus mi instan beserta telur. Tanpa pikir panjang dia pun membuat dua mangkok mie. Beruntung malam ini mereka tak perlu menahan lapar .
...****************...
Semakin malam hujan tak jua reda , yang ada malah semakin deras. Berlian dan Bintang berada di kamar bersandar di kepala tempat tidur sambil menonton televisi. Mereka bingung mau ngapain keduanya sama-sama kikuk.
"Bin, sebenarnya kamu mau nonton apa sih? dari tadi pindah-pindah Chanel terus. Pusing aku" protes Berlian manyun.
"Kamu tidur aja sana. Suka-suka aku donk mau pindah-pindah Chanel juga" jawabnya asal .
"blarrrr..." tiba-tiba suara petir menggelar membuat listrik disana padam seketika.
"aaah...." Berlian yang terkejut mendengar kencang nya petir spontan memeluk tubuh Bintang yang berada disebelah nya. Bintang terkejut karena dipeluk erat Berlian. Udara yang dingin dan hujan yang terus turun membuat Bintang tak kuat menahan dingin yang merasuk hingga tulang. Pelukan Berlian membuat sesuatu yang dia pertahanan sedari tadi tiba-tiba saja bangkit.
"klik" dalam hitungan menit listriknya kembali menyala. Berlian yang dari tadi memejamkan mata sambil memeluk Bintang, perlahan membuka matanya. Pandangan mata mereka beradu . Berlian tersadar lalu melepaskan pelukannya.
__ADS_1
Bintang di buat tak karuan menahan debaran aneh dalam dirinya karna berada dalam posisi yang sangat menguntungkan.
"Aku tidur di luar saja" Bintang berhasil menguasai gejolak jiwanya dan hendak beranjak mau turun dari tempat tidur.
"Bin,kamu di sini saja " cegah Berlian.
Bintang berbalik dengan sorot mata tajam. Sorot mata itu perlahan meneduh menatap lekat mata istrinya yang seakan di penuhi cahaya yang memintanya mendekat dan mendekat.
"Lian....malam ini bolehkah....?" dengan mengumpulkan segenap keberanian dengan suara lembut, Bintang meminta ijin untuk menyentuhnya. Berlian hanya menjawab dengan anggukan malu-malu.
Desir darah Berlian menghangat ketika Bintang mengecup keningnya dan bibir Bintang merambah turun menciumi bibir istrinya penuh gairah untuk pertama kalinya.
Berlian yang awalnya diam dan kemudian sadar akan kewajibannya, dia berusaha menyerahkan hak Bintang sebagai suaminya. Berlian tak munafik mengakui Bintang berhasil membawanya larut dalam sebuah kenyamanan lewat setiap sentuhan, belaian yang di lakukan Bintang dengan lembut dan sempurna memujanya sebagai perempuan.
Sepasang suami istri itu makin larut dalam keintiman pertama mereka setelah sebulan lebih resmi menikah. Kesabaran Bintang berbuah manis, keikhlasan Berlian melayani suaminya dan semua mencapai titik yang membahagiakan setelah keduanya larut dalam keindahan malam yang panjang saling berbagi yang berhasil membawa mereka satu, saling memberi, saling memiliki.
...****************...
"Kita sudah kesiangan..." Bintang bangkit bersamaan dengan Berlian dan keduanya kalang kabut mencari pakaiannya. Bintang ke kanan, Berlian ke kiri, keduanya hampir berbenturan di tempat tidur. Berlian menunduk malu, Bintang menyeka keringat dingin yang mengucur membasahi keningnya. Dua-duanya benar-benar canggung setelah kejadian malam tadi.
"Kamu pakai ini dan buruan mandi, habis itu kita pulang" Bintang menyerahkan bathrobe yang di pakainya semalam tanpa sanggup menatap istrinya. Berlian bergegas turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi.
Dalam kamar mandi, Berlian menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan mata. Bayangan semalam melintas indah di benaknya.
"Bin, aku tulus menyerahkan segala nya untukmu. Semoga kamu bahagia" lirih Berlian dalam hati.
"Aku bahagia, Lian . Apa kamu juga bahagia?" gumam Bintang dalam hati dengan sorot mata tak lepas dari pintu kamar mandi.
__ADS_1
...****************...
Bintang dan Berlian bergegas pulang. Dalam perjalanan pulang, Bintang mengendarai motornya sengaja pelan. Bintang meraih tangan istrinya dan melingkarkan di pinggangnya. Berlian berusaha rileks dengan menikmati panorama alam yang mereka lewati dan sesekali mencuri pandang memperhatikan suaminya dan itu berhasil memancing senyumannya.
...****************...
"Rangga, ini sudah siang lho. Bintang sama Lian belum ada kabarnya. Kamu coba susul mereka mungkin semalam menginap di vila. Proyek perkebunan terbaru kita dekat di sana kan?. Siapa tahu mereka ada di sana?" perintah mama farida yang dari semalam tidak bisa tenang memikirkan anak dan menantunya dan kerjaannya hilir mudik di teras rumah.
"Ya sudah, Rangga pergi sekarang mencari mereka" Rangga terpaksa menuruti kemauan mamanya dari pada pusing mendengar ocehan mama farida yang tidak mau diam. Baru saja Rangga membuka pintu mobil, Bintang dan Berlian datang.
"Bintang, Lian, kalian dari mana saja?. Mama cemas memikirkan kalian. nomormu juga ga bisa dihubungi" omel mama Farida pada anak dan menantunya.
"Maaf ma, semalam kami menginap di vila dan belum sempat menghubungi mama" ujar Berlian merasa bersalah.
"Memangnya kalian ngapain di vila sampai lupa menghubungi mama ,hem?" selidik mama farida senyum curiga.
Berlian dan Bintang terpojok, wajah keduanya merona merah menahan malu satu sama lain.
"Ma, Lian masuk dulu" berlian kabur duluan sebelum mama mertuanya banyak tanya.
"Bin,istri kamu kenapa?"tanya mama Farida.
Bintang tak menjawab, dia menghempaskan tubuhnya pada kursi teras rumah dan senyum tipis menghiasi bibirnya. Mama Farida geleng-geleng kepala melihat tingkah kasmaran putranya.
"cie.... sepertinya ada yang lagi bahagia ni" goda mama Farida yang langsung di potong Bintang.
"mama apaan,sih. Baterai handphoneku habis jadi semalam ga bisa hubungi mama. Sudah ah, aku mau ganti baju dulu" Bintang beranjak dan masuk ke rumah dengan wajah semerah tomat.
"Jadi benar mereka semalam berduaan di vila. Sial, mereka sepertinya habis bersenang-senang. Dasar pengkhianat kamu Lian. Kamu tidak lebih dari seorang perempuan murahan" umpat Rangga dalam hati tak terima.
__ADS_1