Kilau Berlian

Kilau Berlian
Bab 53. Izin bertemu Kartika


__ADS_3

Berlian spontan mengangguk sebab tatapan mata Bintang yang begitu teduh menghipnotisnya untuk mengiyakan. 


Bintang tersenyum lega dan bergerak memeluk tubuhnya dengan erat. Berlian merasa jantungnya berdegup kencang berada dalam pelukannya. 


"masih ada sesuatu yang akan ku berikan" ujar Bintang setelah melepaskan pelukannya. 


"apa lagi? ini semua sudah lebih dari cukup. Kamu tidak perlu memberikan aku apa-apa lagi" 


Bintang tak menghiraukan perkataan Berlian. Tangannya bergerak meraih dompet yang dia taruh di atas nakas di samping tempat tidurnya, kemudian dia mengeluarkan sebuah kartu atm. 


"Ini untuk kamu" Bintang menyerahkan kartu atm itu ke tangan Berlian.


"Ini untuk apa?" 


"Ya ampun Lian, ini kartu atm, masak kamu tidak tahu fungsinya untuk apa?" omel Bintang geregetan melihat keluguan Berlian.


 


"Iya, aku tahu ini kartu atm. Maksudnya untuk apa kamu berikan ini kepadaku?" 


Bintang menarik nafas panjang terlebih dahulu membuang kekesalannya akan sikap polos istrinya yang tak paham maksud dan tujuannya memberikan kartu atm tersebut. 


"Kartu atm ini aku berikan buatmu untuk keperluan mu. Jika kamu membutuhkan dan menginginkan sesuatu, kamu bisa menggunakan kartu ini untuk membeli semua yang kamu butuhkan" 


"Harus ya, aku menerima kartu ini?" 


Bintang melotot kesal memprotes pertanyaan istrinya. 


"Bukan harus lagi, tapi wajib. Karena aku tak mau jadi bahan tertawaan orang karna di anggap menelantarkan istri sendiri karna tidak menafkahi kebutuhan lahir istrinya" kata Bintang tegas dan tak mau di tolak pemberiannya. 


"Iya...aku terima..." jawab Berlian.


"Tapi bukan aku yang minta, kamu yang kasih lho ini " sambung Berlian memotong senyuman suaminya. 


"Terserah kamu mau bilang apa, yang penting kamu terima dan gunakan dengan baik hanya untuk kebutuhanmu. Jangan sampai aku dengar kamu menyalahgunakan nya" ujar Bintang memberi sedikit teguran pada istrinya. 


"Tanpa kamu peringatkan aku juga tahu bagaimana menggunakan kepercayaanmu dengan baik" jawab Berlian sedikit kesal dengan sikap kurang percaya suaminya. 


"Kalau begitu kamu coba pakai perhiasan yang aku belikan. Aku ingin melihat kamu memakainya" 

__ADS_1


"Aku sendiri yang memakaikannya?" 


"ya iyalah, siapa lagi?" 


Berlian terbelalak dan wajahnya langsung berubah manyun.


"Dasar Bintang , nggak ada romantisnya. Harusnya kamu yang memasangkan perhiasan ini, bukan aku sendiri" dengus Berlian dalam hati. 


"Kamu kenapa diam?" tanya Bintang heran. 


"Perhiasannya aku simpan dulu. Enggak mungkin malam-malam begini aku memakainya. Kita juga tidak mau bepergian kan?" tolak Berlian halus menyembunyikan kejengkelannya.


Dia pun beranjak turun menyimpan perhiasan beserta atm pemberian suaminya ke dalam lemari. 


"Apa sebenarnya kamu tidak suka dengan pemberianku?. Kenapa saat aku meminta kamu memakainya kamu malah menolak dan menyimpan perhiasan tersebut?" Bintang bertanya dalam hati dengan tatapan kecewa. 


"Sudah malam. Kita tidur yuk" Berlian kembali ketempat tidur dan merebahkan tubuhnya yang terasa penat setelah hampir seharian jalan-jalan. 


"Iya..." 


Bintang dengan malas membaringkan tubuhnya. Matanya tak langsung terpejam. Berlian yang tak tenang memejamkan matanya, perlahan membuka mata melihat Bintang. 


"Bin, kamu tidur ya?" Berlian mengusap lembut wajahnya. Bintang spontan menahan tangan Berlian agar tetap memegang wajahnya. 


"Sekarang kamu tidur" kata Berlian lemah lembut mengantarkan mantra ampuh meninabobokan Bintang.


 


...****************...


Pagi yang cerah, Berlian baru saja mendapat telpon dari sahabatnya Kartika. Berlian begitu girang dan langsung menemui suaminya yang berada dalam kamar dan tengah sibuk memasang dasinya sendiri. Berlian tanpa berkata mengambil alih memasangkan dasi tersebut.


"Bin, hari ini aku mau bertemu dengan Kartika di luar. Kamu enggak keberatan kan kalau aku pergi dengan Tika?" Berlian meminta izin suaminya sambil tangannya tetap bekerja merapikan dasi.


"Kenapa harus dengan dia?. Apa kamu tidak punya teman selain dia?" Bintang langsung tidak suka mendengar Berlian akan menemui Kartika.


"Memangnya apa salahnya dengan tika?. tika sahabat terbaikku, dia juga masih punya ikatan persaudaraan denganmu kan?" 


"Dia bukan saudaraku" bantah Bintang dengan sorot mata tajamnya. 

__ADS_1


"Kenapa aku merasa kalau kamu begitu membencinya?. Memangnya salah tika apa?" Berlian bertanya dengan raut wajah penasaran ingin tahu. 


"Dia tidak salah. Tapi orang di sekitarnya yang membuat dia salah" sela Bintang. 


"Maksud kamu?" kening Berlian mengernyit, dia di buat makin penasaran ada kisah buruk apa yang di simpan Bintang hingga begitu tak suka dengan kartika dan keluarganya. 


"Kalau kamu mau pergi, pergi saja. Tapi kamu harus kembali sebelum jam 3 sore. Aku tidak mau kamu berlama-lama di luar sana" Bintang terpaksa menyetujui karna tak mau Berlian terlalu banyak tanya mengulik soal sikapnya yang antipati dengan keluarga Kartika.


"Terima kasih" Berlian menghambur senang memeluk Bintang.


"Aku janji, sebelum jam tiga, aku sudah sampai di rumah" janjinya. 


Senyum manis mengembang dari kedua sudut bibir Bintang begitu merasakan hangatnya pelukan erat Berlian. Bintang pun tak segan mencium ubun-ubun dan kening Berlian yang di sambut senyuman ceria oleh Berlian. 


...****************...


Di toko buku milik Kartika, Berlian terlihat begitu bangga dan haru melihat buku Goresan Pelangi miliknya terpampang di rak buku dan jadi pilihan beberapa pengunjung yang datang untuk membeli dan membaca di tempat yang di sediakan. 


"Lian, kita keruangan ku yuk. Ada hal penting yang mau aku bicarakan" ajak kartika. 


"yuk...." 


Kedua sahabat itu jalan beriringan menuju ruang kerja Kartika yang berukuran sedang, namun rapi dan bersih. 


"Kemarin aku baru di hubungi oleh penerbit. Mereka minta aku menyerahkan pembayaran terakhir bukumu" 


Kartika begitu duduk langsung membahas apa yang harus dia sampaikan dan menyerahkan sebuah amplop yang berisi dokumen dan bukti pembayaran pada sahabatnya yang duduk berhadapan dengannya. 


"Terima kasih ya tika" kata Berlian tulus sambil menerima amplop tersebut tanpa bermaksud membukanya karna dia sangat percaya dengan sahabatnya itu.


"Penerbit juga meminta agar kamu secepatnya menyelesaikan buku kedua kamu dan mereka menantang kamu untuk membuat sebuah novel baru lagi" ujar Kartika memberitahu kabar yang dia terima dari pihak penerbit yang mengontrak karyanya.


"Kalau novel baru, aku tidak yakin apa aku bakal sanggup karena Aku tidak bisa sembarangan dalam bercerita tanpa memberi gambaran jelas juga manfaat yang di dapat banyak orang jika membaca novelku. Udah gitu, sekarang kan aku udah nikah. Bintang belum tahu dengan hobi ku. Aku belum siap memberitahukannya "ujar Berlian dengan keraguan akan kemampuannya. 


"Begitu ya" kartika manggut-manggut tanda paham. 


"eh iya ... Hari ini ada bedah buku penulis ternama di salah satu mall dekat sini. Kebetulan aku mendapat undangan khusus untuk hadir. Kamu bisa ikut aku dan kamu bisa bertanya dan banyak belajar dari penulis tersebut. Kamu mau ikut, kan?" 


"Mau...mau..." jawab Berlian tanpa ragu dan penuh semangat. 

__ADS_1


"Kita pergi sekarang, satu jam lagi acaranya mau di mulai" 


Kartika beranjak dari tempat duduknya, begitu juga dengan Berlian. Keduanya pun keluar dari toko dan berangkat menggunakan mobil silver milik Kartika. 


__ADS_2