Kilau Berlian

Kilau Berlian
Bab 99. Akhir kisah Rangga (bagian 1)


__ADS_3

Bunyi dering ponsel yang terletak di atas meja kerjanya, memaksa Arya untuk menghentikan kegiatannya dan mengangkat ponsel tersebut. Tertera jelas nomor yang tak asing bagi laki-laki berusia 26 tahun itu. 


"Ya Sat, ada apa?" tanyanya malas-malasan. 


Wajah Arya berubah serius. Raut mukanya jadi semangat mendengar jawaban dari ujung telpon genggamnya. 


"Ok. Aku ke kantor kamu sekarang" 


Pembicaraan selesai. Arya menyambar kunci mobil di atas meja kerjanya dan buru-buru keluar. 


...****************...


"Bin, kamu mau kemana?" tanya Berlian penasaran melihat suaminya keluar dari kamar sambil memegang kunci mobil. 


"Aku mau menemui mama sebentar" jawabnya. 


"Aku ikut" seru Berlian semangat. 


"Nggak usah. Kamu di rumah saja" 


Air muka Berlian berubah murung mendengar penolakan suaminya. Padahal dia sudah rindu mau bertemu dengan mama mertuanya. Wanita yang sudah di anggapnya seperti mama kandungnya sendiri. 


"yank, aku ikut,ya? ya?" pinta Berlian dengan wajah memelas sambil menggenggam tangan suaminya. 


Bintang menarik nafas berat. Dia tak tega melihat muka Berlian yang memelas. 


"Boleh ya, sayang?" wajah dan nada suara Berlian berubah merayu dengan sorot mata bulatnya yang lucu dan senyum bibirnya yang merekah. Sebuah senjata ampuh yang bisa dengan mudah melumpuhkan kerasnya pendirian Bintang. 


"Ya sudah, kamu boleh ikut"  Bintang luluh juga. 


"Yeeeaayyy..." Berlian bersorak girang, lalu sebuah kecupan manis di hadiahkan Berlian pads pipi kanan suaminya. 


"makasih sayangkuuu.... "katanya di selingi senyum tulusnya.


Bintang sempat termangu dan tersenyum sambil mengelus bekas kecupan di pipi kanannya sebelum dia mengangguk. 


"Kita pergi sekarang, yuk" 


Berlian menarik tangan suaminya dengan semangat. Bintang hanya di buat bingung dan kurang yakin mau melangkah karna maksud dia sesungguhnya bukan mau menemui ibunya, tapi Rangga. Berlian tidak tahu akan hal itu. 


"Sayang, cepetan" Berlian geregetan menarik tangan suaminya. 

__ADS_1


Bintang yang memperhatikan rona bahagia terlukis di balik semangat juga keceriaan istrinya tak mampu berbuat apa-apa. Dia tak mau melibatkan Berlian dalam perseteruannya dengan Rangga nanti. Tapi apa boleh buat, Berlian memaksa mau ikut. 


"Yank, kalau mau pergi kemana-mana itu kunci pintu rumah dulu. Nenek sama kakek kan lagi keluar" ujar Bintang memperingatkan istrinya. 


"Aku lupa" senyum Berlian polos. Dia pun bergegas mengunci pintu rumah. 


"Sudah, yuk" 


Bintang mengangguk, lalu berjalan duluan dan kemudian membukakan pintu mobil untuk istrinya. 


Berlian tersenyum lebar sebagai bentuk rasa terima kasihnya. Setelah Berlian duduk, Bintang menyusul dan duduk di belakang kemudi. 


"Sayang, kamu bawa mobilnya jangan ngebut, ya?" kata Berlian pelan dan lembut sembari menyentuh mesra lengan suaminya. 


Bintang cuma mengangguk dan tersenyum.


"Kamu tenang saja, keselamatan kamu tetap yang utama." ujarnya pasti. 


Mobil hitam itu pun berjalan meninggalkan pekarangan rumah yang banyak ditanami tanaman hijau tersebut. 


Hasratnya yang menggebu ingin membuat perhitungan dengan laki-laki yang pernah mencoba mencelakai Berlian sudah melewati batas kesabarannya. Dan Bintang berusaha tenang dalam mengendarai mobilnya, meski hatinya memberontak ingin melajukan kendaraannya lebih kencang dan lebih kencang lagi... Bintang tak mau bertindak ceroboh karna itu bisa saja membahayakan perempuan di sampingnya. Perempuan yang sangat dia cintai melebihi nyawanya sendiri. 


...****************...


Paras Rangga memucat, suaranya tercekat, tas yang berisi hasil rampasannya hampir saja terjatuh dari pegangannya kalau saja tangannya tak kuat memegang tali tas berwarna hitam tersebut. 


"Apa yang kamu lakukan di kamar mama?" tanya Mama Farida lantang sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamarnya. 


"Astaghfirullah..." ucap mama Farida terkejut begitu pandangannya berhenti tepat pada brangkas yang terbuka dan isinya sudah kosong. 


Rupa wanita itu merah padam juga geram menatap pemuda di depannya. 


"PLAKKK..."


Tamparan keras melayang mengenai pipinya Rangga. Rangga mendengus merasakan perih di pipinya.


...****************...


Sampai di kantornya Satria yang bergerak di bidang hukum, Arya setengah berlari keluar dari lift dan menerobos masuk ke salah satu ruangan yang dia tuju. 


"Sat, bagaimana, apa pak Yadi nya sudah datang?" tanyanya tersengal. 

__ADS_1


Satria langsung berdiri dari kursi kebesarannya. Di ikuti oleh seseorang yang duduk penuh wibawa berhadapan dengan Satria. 


"Saya Yadi" kata laki-laki berwibawa itu. 


Arya mengamati baik-baik laki-laki yang sedikit lebih muda di banding kakeknya, kemudian dia melirik kearah Satria meminta penjelasan dan kepastian, apa benar orang itu adalah pak Yadi. 


"Iya, Ar. Bapak ini adalah pak Yadi. Orang yang kita cari selama ini" ujar Satria menjawab keraguan sahabatnya.  Arya pun yakin. 


"Maaf pak, saya tidak tahu kalau bapak adalah pak Yadi" ujar Arya sedikit merasa bersalah. 


"Saya Arya, kakaknya Berlian istri Bintang" Arya melanjutkan memperkenalkan diri. 


Pak Yadi menyambutnya dengan hangat. 


"Jadi, kamu kakaknya perempuan hebat itu?" ucap pak yadi. 


Satria dan Arya saling pandang tak mengerti maksud pak yadi apa memuji Berlian seperti itu. 


"Kemarin dia sempat menemui saya dan meminta saya membantu suaminya keluar dari masalah hukum. Terus terang, saya masih sangat kecewa terhadap Bintang karna memecat saya secara tidak hormat. Tapi, begitu melihat kegigihan Berlian dalam mencari keadilan untuk suaminya membuat saya terenyuh. Saya merasa sangat berdosa jika saya hanya berdiam diri sementara saya tahu kejadian sebenarnya di balik kematian Reza juga Bulan" 


"Bulan?" 


Kening kedua sahabat itu sama-sama mengkerut, keduanya juga sama-sama tersentak karna mereka baru mendengar nama Bulan. Keduanya pun sama tidak mengerti siapa bulan dan apa kaitannya dengan kasus kematiannya Pak Reza.


...****************...


Di kawal oleh dua orang satpam, Rangga tidak berkutik. Dia hanya bisa duduk pasrah di hakimi oleh mama Farida sambil otaknya jalan terus mencari cara agar bisa lolos dan kabur secepatnya. 


"mama sudah tidak punya pilihan lain lagi bagaimana caranya untuk bisa memaafkan kamu. Kamu sudah pernah melakukan penggelapan uang perusahaan. Tapi mama diam saja karna tidak sepenuhnya percaya dengan data keuangan perusahaan kita yang sudah di audit. Bisa saja orang keuangan melakukan kesalahan. Nyatanya, memang kamu bersalah. Kamu bahkan sempat mau melakukan transaksi gelap dengan jumlah yang sangat besar, mama masih coba memaafkan kamu. Bahkan mama sudah memberi kamu kesempatan untuk bisa hidup mandiri. Mama berikan kamu tanah perkebunan yang luas dengan modal awal dari mama sendiri. Tapi kamu justru menyia-nyiakan kesempatan yang mama berikan. Kamu malah berusaha mencuri semua aset kekayaan keluarga kita. Apa salah mama sama kamu, nak, sampai kamu tega melakukan ini?" 


Rangga tidak bisa menjawab, dia hanya bisa menunduk. 


Sementara dari luar pagar rumah yang tinggi, mobil berwarna hitam masuk menuju pekarangan rumah.


Air mata mama Farida menetes pilu. Dadanya sesak mengingat orang yang di sayanginya tega menusuknya dari belakang. 


"Bertahun-tahun mama besarkan kamu, mama sayangi kamu seperti menyayangi anak kandung dan memberikan nama pratama di belakang nama kamu. Mama ga pernah membeda-bedakan antara kamu dan Bintang. Bahkan ketika mama menikah lagi dengan om reza, mama kerap melalaikan keinginan anak kandung sendiri dan membiarkan kamu memiliki apa yang ingin di miliki oleh Bintang, bahkan apa yang memang menjadi miliknya Bintang. Om Reza begitu menyayangi kamu, dia membela kamu habis-habisan jika bintang menyentuh kamu sedikit saja. Tapi ,apa mama pernah dendam sama kamu?. Apa mama pernah memukul kamu seperti om Reza memukul Bintang jika dia ga mau memberikan apa yang menjadi miliknya atau elang berani mendorong kamu?. Jangankan memukul kamu, memarahi kamu pun mama ga pernah. Itu karna mama sayang sama kamu, nak. Saat om Reza meninggal, mama tetap memperlakukan kamu sama seperti almarhum masih hidup. Mama masih kerap meminta Bintang mengalah demi kamu, padahal mama tahu itu sangat menyakitkan bagi dia. Semua mama lakukan karna mama menganggap kalau kamu seperti adik kandungnya Bintang. Tapi kenapa kamu bisa sejahat ini?. Apa ada yang salah dari caranya mama menyayangi kamu?" 


Rangga tetap diam membisu. Dia tak sanggup menegakkan kepalanya. Se benci-benci nya dia dengan Bintang, tapi dia tak bisa membenci orang yang sudah dengan tulus membesarkannya. 


Mama Farida mengambil nafas panjang, kemudian menyeka air matanya dan berdiri. 

__ADS_1


"Kesabaran mama sudah habis, mama sudah minta satpam menghubungi pihak kepolisian. Kamu harus mempertanggung jawabkan segala perbuatan kamu" ujar mama Farida mengambil keputusan tegas. 


Rangga merasa bak tersambar petir di siang bolong. 


__ADS_2