Kilau Berlian

Kilau Berlian
Bab 65. Menginap di rumah Kakek.


__ADS_3

"Lian..." nenek aminah yang tengah asyik merajut di teras rumah meninggalkan pekerjaannya begitu melihat siapa yang datang. 


"Nenek..." 


Berlian melangkah beriringan dengan Bintang. Keduanya bergantian menyalami dan mencium tangan wanita lanjut usia yang masih terlihat segar dan bertenaga.


Bagi Berlian melakukan ritual cium tangan dengan kakek dan neneknya itu sudah biasa. Tapi bagi Bintang itu hal baru baginya. Berlian sempat tak percaya kalau Bintang mencium tangan neneknya kalau dia tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri. 


"Bagaimana keadaan nenek?. Nenek sehat kan?" Berlian menunjukkan perhatiannya walau hanya sebentuk pertanyaan. 


"Alhamdulillah nenek sehat Lian"


Berlian tersenyum lega mendengar jawaban neneknya. 


"Kakek mana, nek?" tanya Berlian. 


"Kakek ada di dalam. Dari kemarin kakek pingin ketemu kamu terus. Kakek pasti senang kalau tahu kamu datang" jawab nenek Aminah.


 


"Kita masuk yuk" ajak nenek Aminah pada berlian dan bintang.


Berlian dan nenek Aminah berjalan berangkulan, bintang mengikuti di belakang. 


"Assalamu'alaikum kek" Berlian mengucapkan salam. 


"Waalaikumsalam" sahut kakek Dharma tetap pada posisinya yang membelakangi cucu kesayangannya yang datang dan sibuk dengan pekerjaannya. Sepertinya kakek tidak menyadari siapa yang datang. 


"Jadi sekarang Lian datang di cuekin nih?" sungut Berlian mengeluarkan suara ngambeknya. 


"Lian...kamu toh yang datang" 


Kakek Dharma menghentikan aktivitasnya. Kakek berdiri dan berbalik dengan parang di tangan kirinya yang baru di asah. 


"Ada Bintang juga" kakek Dharma menatap tajam cucu menantunya itu.


Berlian menyalami kakek Dharma, melakukan hal yang sama dengan apa yang di lakukan terhadap neneknya tadi. Berlian juga sempat tersenyum geli melihat suaminya yang diam saja dibelakangnya seperti takut berhadapan dengan kakek nya. 


"kamu ngapain ngumpet di belakang punggung istrimu?. Kamu tidak mau menyalami kakek atau kamu mau tetap diam di situ?" 


"Iya, kek" 


Bintang cepat menyalami dan mencium tangan kakek Dharma.


"Kek, parangnya di simpan dulu. Orang yang melihat kakek memegang parang itu bisa salah paham dan ketakutan melihat kakek" ujar nenek aminah tak pernah bosan mengingatkan kelakuan suaminya yang tak pernah lupa dengan parang kesayangannya. 


"Nenek saja yang simpan" 


Bintang sontak mundur ketika kakek Dharma mau menyerahkan parang tersebut ke tangan nenek aminah.


Bukan hanya Bintang yang ciut nyalinya jika sudah berhadapan dengan kakeknya, para tetangga juga teman-teman laki-lakinya saat masa sekolah dulu juga di buat dag dig dug jika sudah berhadapan dengan kakek Dharma.

__ADS_1


 


"Kebetulan Bintang ada disini, kamu temani kakek main catur" 


"Kek, bintang itu lagi kurang enak badan, tangannya juga luka. Kakek main catur nya lain kali saja ya. Biarkan Bintang istirahat dulu" sela Berlian menjelaskan keadaan Bintang. 


"Memangnya tangan suamimu kenapa?" mata kakek Dharma turun melihat tangan kiri Bintang yang di balut perban. 


"Tadi Bintang jatuh di kamar mandi, jadi tangannya luka begitu" Berlian terpaksa berbohong karna tak mau membebani kakeknya dengan pikiran buruk mengenai preman yang datang menagih hutang kakaknya. 


"Iya kek, tadi aku jalannya kurang hati-hati, makanya kepeleset." Bintang jadi ikutan berbohong.


"Lukanya nggak parah kok, kek.Kalau kakek mau di temani main catur , aku sama sekali ngga ada masalah" 


"Bin, kamu itu harus istirahat. Lihat wajah kamu masih pucat" tegas Berlian. 


"Ya sudah, kita main catur nya lain kali saja. Kakek tidak mau menang mudah dari kamu gara-gara kamu tidak konsentrasi melawan kakek" ujar kakek Dharma.


 


"Sekali main saja kakek sudah ku skakmat" sahut bintang pelan.


 


"Kamu bilang apa?" kakek Dharma melotot tajam mendengar ocehan bintang yang terdengar meremehkan keahliannya. 


"Bin, kita ke kamar sekarang" 


 


...****************...


"Pantesan saja cucunya sangar, turunan dari kakeknya,sih" oceh Bintang begitu berada dalam kamar Berlian yang berukuran kecil di banding dengan kamarnya. 


"Kamu bilang apa?" sela berlian dengan mata melotot ke bintang. 


"Tuh, benar kan aku bilang apa kalau kamu itu persis kayak kakek. Sama-sama sangarnya, sama juteknya juga" 


"ih nyebelin banget sih..."


Berlian yang kesal memukul dada Bintang sebagai ungkapan protes akan kata-kata Bintang yang mengatainya sangar dan jutek. 


Bintang tersenyum lepas menerima pukulan Berlian. Dengan sigap Bintang menahan pukulan tangan Berlian dan menarik tubuh mungil itu kedalam pelukannya. Berlian pun diam dan tenggelam dalam pelukan hangat suaminya. 


"untuk beberapa hari ini kita tinggal di rumah kakek ya?" ujar bintang setengah berbisik. 


"Kamu serius?" Berlian menengadah memastikan Bintang tidak main-main dengan ucapannya. 


Bintang tersenyum dan mengangguk sambil mengusap mesra pipi mulus Berlian.


 

__ADS_1


"Kita sudah 5 bulan menikah. Selama 5 bulan itu kita belum pernah menginap di sini. Aku juga ingin mendekatkan diri dengan orang-orang yang kamu sayangi seperti yang kamu lakukan dengan mama." 


"Aku yakin. Rumah ini pasti banyak sejarah penuh makna buat mu, aku berharap bisa banyak belajar mengenal dari orang-orang yang sangat mengenal mu lebih baik dari siapa pun" urai Bintang panjang lebar membeberkan alasan yang membuat senyum berlian mengembang.


"Aku sama sekali tidak ada masalah jika maunya kita menginap di sini. Tapi kita harus beritahu mama dulu" 


"Soal mama kamu ngga perlu khawatir. Aku akan menghubungi beliau nanti" 


"Trus bagaimana dengan pakaian mu. Disini kan ngga ada baju ganti buat mu?" 


"Aku sudah menyiapkan semua" Bintang menunjuk koper yang terletak di samping lemari kayu. 


"kamu sudah menyiapkan semuanya?" 


Berlian cukup kaget dan tak tahu menahu soal persiapan Bintang untuk menginap. Ini sebuah kejutan baginya.


"kapan kamu menyiapkan semuanya?" Berlian kembali menatap Bintang.


"Sebelum aku menyusul kamu ketempat kerja, aku lebih dulu singgah ke sini memberitahukan keinginan ku" 


"Pantesan tadi kamu bawain gado-gado buat aku" Berlian paham kenapa bintang bisa membawakannya gado-gado bikinan neneknya. 


Bintang mengangguk pasti. Berlian beranjak mau mengeluarkan isi dalam koper dan bermaksud merapikannya kedalam lemari. 


"Bintang..." darah Berlian bergejolak tak tentu kala Bintang memeluk tubuhnya dari belakang. 


"Lian apa sampai detik ini kamu masih belum bisa memaafkan aku?" bisik Bintang lirih menggelisahkan hatinya.


"kamu istirahat dulu, aku mau keluar menemui nenek" 


Berlian dengan berat hati melepaskan tangan Bintang yang melingkar memeluk pinggangnya dengan sempurna. 


Bintang mendesah kecewa dengan sorot mata lirih membiarkan Berlian keluar dari kamar. 


...****************...


Mama Farida tersenyum lebar mengakhiri pembicaraannya melalui sambungan telpon . 


"Telpon dari siapa ma?. Sepertinya mama bahagia banget?" tanya Rangga penasaran begitu turun dari mobil saat sampai di rumah. 


"Dari Bintang. Katanya dia dan Lian untuk beberapa hari ini mau menginap di rumah kakeknya" kata mama Farida girang. 


"Kok bisa?" kaget Rangga.


"Kamu kenapa jadi kaget begitu?" selidik mama Farida.


"Kan hubungan mereka lagi bermasalah ma" jawab Rangga.


"Bukan berarti mereka ngga bisa baikan,kan?" sela mama Farida.


"Brengsek, kenapa mereka bisa baikan secepat ini?" geram Rangga dalam hati. 

__ADS_1


__ADS_2