
Perjalan hampir sampai dan Berlian terkejut dengan penglihatannya dari balik kaca mobil. Seorang pemuda yang sangat dia kenal lari di kejar beberapa komplotan preman.
"Kak Arya" teriak Berlian.
"Kak Arya...??" Kartika rem mendadak mendengar Berlian menyebut nama Arya.
"Tika, kamu belok mobil kamu kearah kiri, kita harus menyelamatkan kak Arya" pinta Berlian pada sahabatnya di tengah kepanikannya melihat Arya dalam bahaya. Kartika tak mau banyak tanya dan menurut saja.
"Ya Allah, selamatkan kak Arya" harap Berlian kian cemas melihat kakaknya tertangkap dan di pukul habis-habisan oleh beberapa preman bertampang sangar.
"Hentikan, jangan pukuli kakakku..."
Berlian turun dan berlari menghampiri kakaknya yang babak belur.
"Jadi kamu adiknya?" hardik salah seorang preman.
"Iya, aku adiknya. Apa salah kakakku sampai kalian memukulinya begini?"
"Dek, kamu pergi dari sini jangan hiraukan kakak" Arya berusaha berdiri di tolong Kartika dan Berlian.
"Kakak kamu punya hutang sebesar 50 juta pada bos kami, belum lagi dengan bunganya sebesar 50%" jelas preman tadi.
"Kami beri waktu 3 hari untuk kamu melunasi hutang kakak kamu atau jangan harap dia bisa hidup tenang" ancam preman tersebut serius, kemudian pergi begitu saja sambil bergaya alah koboi sebagai bentuk gambaran apa yang akan mereka lakukan nanti.
"Lian, dekat sini ada klinik. Kita bawa kakak kamu kesana biar lukanya cepat di obati" ujar Kartika mengingatkan sahabatnya. Berlian menurut. Dia dan Kartika memapah Arya menuju mobil.
...****************...
Selesai di obati, Berlian mengajak kakaknya makan siang di cafe. Kartika tidak bisa ikut karna harus menghadiri acara bedah buku. Di sana, Arya bercerita bagaimana dia bisa terlilit hutang.
"Jadi, kakak meminjam uang sama mereka untuk modal usaha?"
"Iya, dek" kata arya membenarkan.
"Tapi usaha kakak bangkrut dan kakak tidak sanggup membayar hutang kakak"
Berlian tak tega melihat keadaan kakaknya dan dia tak sanggup jika kakaknya sampai kenapa-kenapa. Melihat kakaknya babak belur saja bisa membuatnya pilu, dan sekarang nyawanya juga terancam.
"Kak, kakak ambil ini" Berlian berinisiatif membantu kakaknya dengan memberikan semua uang hasil menulisnya.
__ADS_1
"apa ini dek?" Arya bingung menerima kartu ATM pemberian adiknya.
"Kak, di dalam Kartu ATM itu uang hasil kerja keras Lian. Memang jumlahnya tidak seberapa, kakak bisa menggunakannya untuk membayar hutang kakak. Sisanya biar nanti Lian cari lagi" kata Berlian.
"Maaf dek, kakak tidak bisa terima uang kamu" Arya menyodorkan kembali kartu ATM yang dipegangnya.
"Kak, Lian mohon terima ini. Kak Arya saudara Lian satu-satunya dan Lian tidak mau sampai kehilangan kakak" ujar Berlian memohon.
Arya diam sejenak dan menimbang-nimbang keputusan yang akan di ambil.
...****************...
Bintang baru saja selesai melakukan pertemuan dengan klien pentingnya. Hasil pertemuan sangat memuaskan dan Bintang berjalan meninggalkan cafe tempat pertemuan berlangsung dengan wajah ceria. Keceriaannya memudar dan berubah geram melihat seorang pemuda memegang kartu ATM pemberian seorang perempuan yang tak asing baginya.
...****************...
"Baiklah. Kakak akan terima bantuan kamu tapi dalam bentuk hutang. Nanti jika kakak punya uang, kakak akan mengembalikan uang kamu" putus Arya yang di sambut lega oleh Berlian.
"Makasih Dek, kamu sudah mau membantu kakak"
Berlian mengangguk dan memeluk kakaknya.
...****************...
"Jadi begini kerjaan kamu di belakangku" geram Bintang dalam hati. Dia pun pergi dengan membawa segudang kemarahan.
...****************...
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore waktu Berlian sudah sampai di rumah. Berlian setengah berlari tergesa-gesa dan dihantui rasa bersalah karena sudah melanggar janjinya pada Bintang.
"Bintang? dia sudah pulang?" gumam Berlian melihat mobil suaminya terparkir di halaman rumah.
"Bintang pasti marah banget sama aku karna aku terlambat pulang"
Berlian sangat paham sikap emosional suaminya yang sulit di kendalikan. Berlian pun makin mempercepat langkahnya masuk dan setengah berlari menaiki tangga penghubung menuju kamar pribadinya.
Dugaan Berlian tepat. Begitu membuka pintu kamar dan masuk, sepasang mata menyambut kehadirannya dengan kilatan amarah yang siap memuntahkan bara api. Suasana kamar yang tenang berubah panas dan mencekam.
__ADS_1
"Dari mana saja kamu jam segini baru pulang?" tegur Bintang dengan emosi yang masih stabil.
"Bin, aku minta maaf karna pulang tidak sesuai dengan janji"
"Jawab saja pertanyaan ku, kamu dari mana?" sela Bintang membentak Berlian.
"Aku kan tadi sudah bilang sama kamu kalau aku pergi menemui Kartika" jawab Berlian.
"Jangan bohong!" bentak Bintang lagi, membuat Berlian panik menghadapi kemarahan suaminya.
"aku sama sekali tidak berbohong. Aku memang menemui Kartika dan aku sempat bertemu Ka...."
"Aku peringatkan kamu sekali lagi. Jangan pernah membohongiku!" Bintang memotong cepat penjelasan Berlian yang masih menggantung.
"aku memang terlambat pulang tadi aku sama sekali tidak membohongi kamu" bela Berlian dan coba tenang dan sabar menghadapi sikap emosional Bintang.
"Pintar sekali kamu membela diri" dengus Bintang di barengi senyum sinis.
"Aku sama sekali tidak membela diri, aku hanya ingin menjelaskan yang sebenarnya"
"Menjelaskan apa?" potong Bintang lagi dengan bentakan yang lebih keras lagi dan Berlian di buat terkejut.
"Kamu tidak perlu menjelaskan apa pun karna aku sudah tahu apa yang kamu perbuat di belakangku"
"Memangnya aku berbuat apa?. Aku di luar sana tidak melakukan hal macam-macam yang bisa merusak nama baik kamu" kata Berlian berusaha menjelaskan apa yang dia lakukan meski dia sendiri tak mengerti maksud dari tuduhan Bintang terhadapnya.
"Kamu belum juga mau jujur atau aku sendiri yang akan membongkar kelakuan busuk apa yang kamu lakukan di belakangku?"
"Kelakuan busuk??" Berlian menganga tak percaya mendengar Bintang bisa begitu gampangnya mengeluarkan kalimat yang amat menyakitkan untuk di dengar.
"Kenapa dari awal kamu tidak katakan saja kalau kamu mau menemui kakak kamu?. Kamu sengaja memakai nama Kartika membohongi suami kamu sendiri demi bisa bertemu dengan kakak kamu yang bajing*n itu"
"Kakakku bukan bajingan" Berlian ganti membentak suaminya setelah cukup sabar meladeni kata-kata kasar Bintang.
"Apa namanya kalau bukan bajingan merebut kekasih orang lain?. Apa bukan bajingan namanya memanfaatkan adik sendiri untuk kesenangan pribadinya?!" Bintang tak mau kalah memberikan pendapat kasarnya tentang Arya dan itu sangat membuat Berlian tersinggung.
"Jangan kamu pikir aku tidak tahu apa yang kamu lakukan di belakangku saat kamu menemui kakakmu"
"Ternyata diam-diam kamu memberikan uang kepada kakakmu di luar sepengetahuan ku. Kamu pikir aku memberikan kamu kebebasan mengendalikan keuangan rumah tangga kita di gunakan untuk memperkaya kakakmu?!. Apa ini tujuan kamu sebenarnya mau menikah denganku karna kamu hanya menginginkan harta kekayaanku?!" tuduh Bintang tanpa hati dan tak puas mengeluarkan kata-kata pedas yang teramat menyakitkan buat Berlian.
__ADS_1