
"Lian, apa yang di katakan Rangga tadi sama sekali ga benar, kan?" harap Bintang.
Berlian bingung dan tak tahu harus dari mana mulai mengurai cerita sebenarnya.
"maafkan aku... aku dan Rangga memang ber... "
"Jadi, apa yang di katakan Rangga tadi benar adanya" potong Bintang dengan cepat sebab dia sudah dapat menyimpulkan dari sikapnya Berlian.
"Bin, ngga semua yang di ceri..."
"Cukup. Aku ga percaya lagi dengan kamu. Kamu tega membohongi aku selama ini"
Tatapan Bintang menuduh dan sangat menyakitkan bagi Berlian.
"Aku kecewa sama kamu . Sangat kecewa..."
Bintang berjalan masuk keruang kerjanya dan menguncinya dari dalam.
Berlian melihat kearah mertuanya berharap beliau bisa membantu.
"Maafkan mama , Lian. Mama tidak tahu harus berbuat apa saat ini"
Berlian berusaha memahami kondisi ibu mertuanya.
...****************...
Air mata menetes membasahi kedua sudut matanya Bintang. Kenyataan yang baru dia ketahui sangat melukai hatinya.
"Lian, aku ngga peduli kamu dan dia pernah menjalin hubungan sebelum menikah denganku. Tapi, kenapa aku harus tahunya dari dia?. Kenapa bukan dari kamu?. Sampai detik ini aku masih percaya kalau kamu benar-benar tulus mencintai aku. Aku bisa merasakan perhatian, pengorbanan juga kasih sayang kamu yang nyata buatku. Tapi, aku tetap manusia biasa, Lian. Aku tak terima di bohongi seperti ini"
__ADS_1
Bintang memejamkan matanya dengan getir. Dari luar, masih terdengar suara Berlian yang dari tadi membujuknya agar mau keluar.
"Bin, aku tahu aku salah dan aku minta maaf. Aku cinta sama kamu. Aku mohon kamu buka pintunya, biarkan aku masuk menceritakan yang sebenarnya seperti apa" pinta Berlian tanpa henti. Namun, tak ada tanggapan dari dalam.
Berlian terisak, dia tak tahu bagaimana lagi membujuk agar suaminya mau keluar dan mereka bisa bicara dari hati ke hati. Tubuh Berlian pun merosot dan bersandar di dinding.
"Bin, kalau memang kamu ngga mau keluar, aku juga ga akan pergi dari sini. Aku akan tetap menunggu sampai kamu mau membukakan pintu"
"Aku sangat mencintai kamu, Bintang. Aku harap kamu percaya itu"
...****************...
Arya dan Satria terus bergerak cepat mengumpulkan bukti-bukti yang bisa membebaskan Bintang dari segala tuntutan ataupun jeratan hukum. Setelah membantu pak yadi mencari surat pernyataan yang di tulis sendiri oleh pak Reza, arya beserta satria sepakat menemui pak erwin di rumahnya.
Sampai di tempat tujuan, orang yang mereka cari ternyata tidak berada di tempat. Hanya ada mama Kartika , istrinya pak erwin. Beliau pun tidak tahu di mana keberadaan suaminya. Hal itu membuat Arya meradang.
"Lebih baik ibu jujur saja, di mana pak erwin berada sekarang?. Ibu jangan coba-coba membohongi kami kalau tidak mau suami ibu kami laporkan pada pihak berwajib karna sudah membuat laporan palsu terhadap Bintang" tekan arya tak main-main dengan ancamannya.
"Ahh... paling ini cuma akal-akalan keluarga ibu untuk menyembunyikan pak erwin" tepis arya tak percaya.
"Sebaiknya ibu mau bekerja sama dengan kami agar masalah ini tidak berlarut-larut dan suami ibu tidak perlu kami laporkan balik ke pihak berwajib. Jangan sampai masalah yang sebenarnya sampai ke telinga ibu Farida. Jika ibu Farida sampai tahu kenyataan sebenarnya, saya bisa jamin, ibu Farida tidak akan membiarkan pak erwin bebas berkeliaran sementara anaknya pernah menjadi pesakitan karna laporan palsu yang di layang suami ibu" ujar satria jauh lebih tenang dan menjaga wibawanya sebagai pengacara.
Mama nya Kartika makin gelisah, duduknya juga tak tenang. Antara yakin dan tidak, dia coba menggerakkan bibirnya.
"Kalian ngga perlu memaksa mamaku untuk memberitahu di mana keberadaan papa" sela suara perempuan dari arah pintu berjalan mendekati ketiga orang yang tengah berdebat itu.
Arya dan satria serentak berdiri. Satria tersenyum hangat menyapa gadis cantik di depan matanya. Beda dengan arya yang menatap sinis gadis berwajah oval itu.
"Kalau kamu ga mau kami memaksa mama kamu untuk buka suara, berarti kamu sendiri yang akan memberitahu di mana keberadaan papa kamu?" dengus arya.
__ADS_1
"Maaf, untuk saat ini aku ga bisa memberitahukan di mana keberadaan papa" sergah Kartika.
"Apa?" kaget arya, sekilas kemudian bibir atas di tarik membentuk senyum sinis.
"Ohh... sekarang aku mengerti. Selama ini kamu hanya pura-pura mau membantu kami dengan alasan ga mau merusak persahabatan kamu dengan Berlian. Saat kamu tahu posisi kamu sudah ga menguntungkan lagi, kamu baru sadar kalau sebenarnya memang sangat menginginkan Bintang dan kamu sengaja menyembunyikan papa kamu sebagai senjata untuk menusuk Berlian dari belakang?!" tuduh arya tanpa bukti.
"Kamu salah!. Aku sama sekali ga menyembunyikan papa . Aku hanya mau minta waktu untuk bicara baik-baik dengan papaku. Papa sekarang tengah tertekan, dia butuh sedikit waktu untuk menenangkan hati dan pikirannya" Kartika tak terima atas tuduhan yang di alamatkan arya pada dirinya dan dia berusaha meluruskan tuduhan arya yang tak berdasar.
"Alaahhh... ga perlu cari-cari alasan. Bilang saja kalau kamu memang mau merebut Bintang dari Lian." arya mengibas tangannya.
"Terserah kamu mau percaya atau ngga. Tapi, aku berani jamin dalam waktu 3 hari ini, aku sendiri yang akan membawa papaku menghadap pihak berwajib untuk mencabut laporannya terhadap Bintang"
"Kenapa harus menunggu 3 hari?. Kenapa ga besok saja?. Apa kamu dan papa kamu mau merencanakan strategi baru agar bisa menekan Bintang lagi?" curiga arya tanpa arah. Kartika di buat geram dan mau menampar pipinya arya kalau tidak mengingat arya itu kakak kandung dari sahabat karibnya.
"Ar, sudahlah. Ngga ada salahnya kalau kita berikan kesempatan padanya guna membujuk papanya. Kalau tika berani membohongi kita, dia sendiri yang rugi karna papanya yang akan menanggung akibatnya" kata satria melerai adu mulut antara Kartika dan arya. Arya bisa sedikit menurunkan emosinya.
"aku rasa kita semua sudah sepakat kalau dalam waktu 3 hari ini pak erwin akan mencabut laporannya terhadap Bintang. Kalau tidak, aku selaku kuasa hukumnya Bintang Pratama ,akan mengambil langkah tegas dengan melaporkan balik pihak pelapor. Dan aku bisa pastikan pihak pelapor akan menerima hukuman yang setimpal atas perbuatannya, bahkan bisa lebih" kecam satria menggunakan pengaruhnya sebagai seorang pengacara.
Semua yang berada di ruang tengah keluarga pak Erwin diam. Tidak ada yang mengeluarkan suara sepatah kata pun.
"Ar, kita sebaiknya pergi sekarang. Jika Kartika berani ingkar janji, aku sendiri yang akan menjebloskan papanya ke penjara. Karna bagiku, siapapun yang berani mengusik kebahagian Berlian...dia akan berhadapan langsung denganku" tandas satria menatap kartika dengan serius.
"Ok. Kita pergi sekarang"
Arya dan satria serentak melangkah meninggalkan Kartika dan ibunya.
Kartika menatap sayu kedua sahabat itu keluar dari rumahnya.
"Tika, bagaimana ini?. Apa kamu sudah berhasil menemukan papa kamu. Mama takut, kalau papa kamu sampai di penjara" cemas mamanya kartika memikirkan nasib suami tercintanya.
__ADS_1
"Mama tenang saja. Serahkan semua padaku " Kartika memeluk mamanya dan berusaha menenangkan kegelisahan hati ibu kandungnya.