Kilau Berlian

Kilau Berlian
106. Seandainya....


__ADS_3

Perubahan sikap Berlian dalam 2 hari ini membuat Bintang banyak merenung. Sejak perdebatan mereka malam itu soal keinginan Berlian memiliki anak, Berlian banyak berubah. Dia lebih pendiam dan tak seceria dulu. Berlian yang murah senyum dan semangat sering dia dapati menangis sambil memegang perutnya sendiri. Setiap kali Bintang bertanya kenapa dia menangis, jawabnya tidak apa-apa. Bintang merasa Berlian tidak mau terbuka dan lebih memilih menyembunyikan bebannya sendiri. Tapi ada satu hal yang membuat Bintang begitu mengkhawatirkan keadaan Berlian. Dia kerap muntah-muntah waktu bangun tidur atau mencium bau aneh, baik bau itu berasal dari makanan ataupun dari minyak wangi. Sama halnya yang terjadi pagi ini. Berlian keluar dengan wajah pucat seperti pagi-pagi sebelumnya. Berlian sama sekali tidak memberi kesempatan bintang untuk menemani ke kamar mandi mengeluarkan muntahnya karna selalu mengunci pintu kamar mandi dari dalam. Ketika pintu kamar mandi terbuka pun, Berlian tak mengizinkannya untuk memeluk tubuhnya walau sekejap. Padahal Bintang merasa begitu cemas mendengar berlian muntah-muntah, begitu juga dengan wajahnya yang pucat keluar dari kamar mandi. 


"Lian kita ke dokter, ya?. Sudah beberapa hari ini kamu mual terus. Aku khawatir kamu kenapa-kenapa" Bintang tak pernah bosan membujuk istrinya agar mau di periksa.  Dokter pribadi yang biasa dipanggil ke rumah saat ini sedang berada di luar negeri.


"Tidak perlu!. Aku cuma muntah-muntah biasa saja. Tidak ada yang perlu di cemaskan, nanti juga sembuh sendiri." jawabnya sambil berjalan dan duduk di tempat tidur. 


Bintang menghela nafas kecewa. Lagi dan lagi, Berlian menolak niat baiknya. 


"Ini udah dari tiga hari yang lalu kamu selalu bilang begitu. Tapi,buktinya apa?. Muntah-muntah kamu bukannya sembuh tapi malah makin menjadi begini. Aku ga mau tahu , kamu harus ikut aku ke dokter, sekarang" Bintang memaksa dan mau menggendong Berlian. Tapi Berlian cepat berdiri dan menghindar dari Bintang. 


"berhenti memaksa aku" nada suara Berlian sedikit membentak.  Bintang terperangah. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Berlian akan membentaknya tanpa sebab begini. 


"Baik, kalau kamu tidak mau. Mulai hari ini aku juga ngga akan peduli sama kamu" Bintang tersulut emosinya. 


Bintang pun dengan cepat menyambar tas kerjanya yang sudah di siapkan oleh Berlian sebelumnya. 


"Bintang..." Berlian lebih dulu memeluk tubuh suaminya dari belakang. Bintang diam seribu bahasa. Dua hari sudah dia merindukan pelukan hangat istrinya seperti ini. 


"Aku mencintai kamu, Bin. Aku bisa menerima apa pun kekurangan kamu dan tidak pernah menjadikannya beban dalam hidup aku. Tapi aku ga bisa mengingkari kenyataan kalau aku ga bisa selamanya bisa bertahan memahami kamu. Jika memang kenyataannya aku dan kamu bersebrangan jalan, rasa cinta aku padamu tak akan pernah surut, yang ada cinta aku makin besar untuk kamu karna kamu sudah membuat sempurna sebagai perempuan. Kamu membuat aku tak akan sendirian menghadapi hidup aku di luar sana jika nanti aku tak bisa memahami kamu lagi" 


Bintang spontan membalikkan tubuhnya dan berhadapan langsung dengan istrinya. Sorot matanya begitu ketakutan menyimpulkan makna ucapan yang keluar dari mulut wanita yang di cintainya. 


"yank, kamu kenapa jadi bicara seperti ini?. Apa maksud kamu mengatakan itu semua?" 


Berlian berusaha memaksakan senyumnya dan menahan agar air matanya tidak keluar. 


"Sayang, aku mohon kamu jangan berbelit-belit seperti ini. Katakan, sebenarnya ada apa dengan mu?" Bintang meletakkan tangannya di kedua pipi istrinya dan menatapnya dalam-dalam. 


"Aku mencintai kamu, Bintang. Selamanya" 


Hanya kata-kata itu yang sanggup di lontarkan oleh Berlian sembari menurunkan tangan Bintang dari wajahnya, lalu mencium punggung tangan suaminya yang kanan. 


"Kamu mau berangkat kerja, kan?" 

__ADS_1


Bintang mengangguk tanpa semangat. 


"Kamu berangkat sekarang, nanti kamu kesiangan lho" Berlian tersenyum semanis mungkin. Namun, tatapannya kosong. 


Bintang merasa hambar dengan perlakuan Berlian untuknya. Tapi dia berusaha memberikan kecupan sayangnya penuh perasaan. 


"Aku sangat mencintai kamu. Dan aku ngga akan pernah lelah memperbaiki kekurangan agar kamu bisa bertahan selamanya mendampingi aku" bisiknya lirih setelah puas mengecup kening istrinya. Berlian sekuat mungkin bertahan agar tidak kelihatan lemah dan cengeng di mata Bintang.


Bintang berangkat kerja dengan dada yang berkecamuk meraba-raba maksud perkataan istrinya tadi. 


Dari balik tirai jendela pintu kamar, Berlian menatap lirih kepergian suaminya sambil tangannya mengusap perutnya. 


"Bin, aku hamil. Aku mengandung anak kamu" 


Kata-kata itu yang ingin di sampaikan Berlian secara langsung pada suaminya. Namun, dia takut membayangkan seperti apa reaksi Bintang jika tahu dia hamil. Mungkin saja Bintang akan memintanya menggugurkan kandungannya karna Bintang sudah terang-terangan menolak mempunyai anak. Sampai kapanpun, Berlian tidak akan pernah mau menggugurkan janin yang ibarat nyawanya sendiri. Kalau Bintang sekedar mengabaikan atau tidak mau tahu dengan darah dagingnya sendiri, Berlian masih bisa terima karna dia yakin bisa mengurus anaknya tanpa perhatian dari suaminya.


"Sayang, kamu baik-baik ya dalam perut mama. Kamu ngga perlu takut kalau papa kamu tidak menginginkan kamu. Tapi, mama akan selalu ada untuk kamu. Ada eyang farida, ada om arya, ada nenek sama kakek buyut juga yang pasti sayang sama kamu" Berlian bicara sendiri pada janin yang tengah di kandungnya. 


Bunyi dering ponsel dari atas meja rias, memaksa Berlian menyudahi lamunannya dan bergerak meraih ponselnya. 


Berlian cepat mengangkat telpon dari temannya. 


"Iya, tik... ada apa?" 


Berlian diam dan mendengarkan baik-baik apa yang di sampaikan oleh sahabatnya. Ada perasaan bersalah dalam diri Berlian saat itu. 


"Maaf tik, beberapa hari ini aku belum bisa melanjutkan novel aku. Tapi kamu tenang saja dan tolong sampaikan pada pihak penerbit kalau aku akan menyelesaikan novel aku tepat pada waktunya" katanya. 


"Lian, kalau memang ada masalah, jangan terlalu di paksakan untuk mengetik. Nanti aku akan berusaha meminta kelonggaran waktu pada penerbit. Aku yakin, mereka pasti mengerti" ujar Kartika dari sebrang.


"Terima kasih ya, tik " balas berlian tulus. 


"kalau kamu ada apa-apa, cerita sama aku" 

__ADS_1


Berlian tersenyum. Dia tak mungkin mau menambah beban pikiran sahabatnya yang tengah di terpa masalah dengan ayahnya. 


"tik, kita lanjutkan pembicaraan kita lain kali saja, ya?." 


Kartika tak keberatan. Sambungan telpon pun terputus. 


Tok...tok..tok.. bunyi ketokan pintu dari luar. Berlian segera membukakan pintu. 


"mama..." 


"Nak, bisa mama bicara dengan kamu sebentar?" pinta mama Farida.


...****************...


Kartika mematikan hpnya, lalu menatap sendu sosok yang tengah terbaring lemah di bangsal rawat inap sebuah rumah sakit. Masih terekam jelas di benaknya, ketika semalam papanya jatuh pingsan saat dia terus membujuk agar papanya mau mencabut gugatannya terhadap Bintang. Kartika sama sekali tidak menduga kalau papanya akan terserang serangan jantung begitu tahu posisinya yang lemah di mata hukum. 


"Harusnya hari ini aku menepati janji aku pada Kak Arya. Tapi melihat kondisi papa seperti ini, rasanya aku tak mungkin tega memaksanya lagi" 


...****************...


Di hadapan sebuah makam berukuran kecil, Bintang berjongkok dan meletakkan seikat bunga mawar putih. 


"Bulan" nama yang keluar dari mulut bintang dan sesuai dengan yang tertulis pada batu nisan. 


Tak terasa, air matanya menetes jatuh.nBayangan menakutkan atas kejadian bertahun-tahun lalu menguak kembali. Sosok tubuh mungil dengan wajah yang cantik dan senyum lucu yang menggemaskan menari-nari dalam benak Bintang. 


"maafin kakak..." tangis Bintang pecah saat bayangannya berubah kelam menyaksikan sendiri bagaimana mama kandungnya mengeluarkan bulan dari dalam mobil dalam keadaan kaku tak bernyawa. Semua di sebabkan karna kelalaiannya menjaga adiknya. Tubuh Bulan yang kaku, tangisan ibunya yang memilukan, dan di tambah dengan kebencian ayah tirinya padanya selalu menghantuinya.


"Bulan, seandainya saja kakak waktu itu becus menjaga kamu, kamu sekarang pasti masih hidup. Pasti, sekarang kamu, kakak, mama , masih berkumpul menjadi keluarga bahagia. Tapi, kakak sudah menghancurkan semuanya. Seandainya waktu itu kakak bisa menjaga kamu dengan baik, kakak tak harus menyakiti hati Berlian sedalam ini. Kamu pasti tahu siapa Berlian, karna kakak yakin kamu selalu mengamati kakak dari atas sana" Bintang diam sejenak. 


"Berlian gadis yang sangat baik dan kakak sangat mencintai dia. Tapi, kakak ga bisa memenuhi keinginannya karna sejak kematian kamu, kakak tak mau berurusan lagi dengan anak kecil. Kakak takut kalau ada makhluk yang tidak berdosa seperti kamu akan celaka lagi karna kakak" 


"Seandainya semua ini tak pernah terjadi" 

__ADS_1


Seandainya... satu kata yang tak berguna. 


__ADS_2