
"Hei....orang tak punya hati, turun kamu" teriak beberapa orang dari luar sambil menggedor-gedor kaca mobil Bintang.
"Orang-orang itu mau nya apa sih?. Bisanya cari masalah saja"
Bintang keluar dari mobilnya di ikuti oleh Berlian. Begitu turun dari mobil, Bintang langsung di sambut dengan lemparan tomat busuk.
"Dasar pencuri, kembalikan tanah kami" umpat ibu-ibu yang ada di sana sambil terus melempari Bintang dengan tomat busuk yang sudah mereka persiapkan kalau Bintang muncul.
"Hentikan!. Kalian sudah berani cari perkara denganku" gertak Bintang sambil melindungi wajahnya dengan tangan dari lemparan yang dia terima.
"Stop, tolong jangan lempari dia lagi" Berlian berlari melindungi suaminya.
"Lian, kamu jangan jadi pengkhianat. Laki-laki ini adalah otak di balik rencana penggusuran pemukiman kita" ujar salah seorang ibu-ibu yang paling menggebu melempari Bintang tanpa henti.
"Bin, sebaiknya kamu masuk kedalam mobil. Biar aku coba bicara dengan warga" kata Berlian.
"Ini urusanku, kamu tidak perlu ikut campur karena aku bisa menyelesaikan masalah ini tanpa bantuan kamu" tolak Bintang tak gentar menghadapi amukan warga.
"Saya minta kalian bubar sekarang sebelum saya menghubungi polisi buat membubarkan kalian, kalau perlu kalian semua saya jebloskan ke penjara karena sudah berani cari perkara dengan saya" gertak Bintang di kuasai keangkuhannya.
"Dasar, manusia sombong" seorang wanita paruh baya yang tidak terima dengan perkataan Bintang , mencoba melempari Bintang menggunakan batu berukuran sebesar kepal tangan bayi.
"Bin,awas..." Berlian yang melihat hal itu cepat melindungi suaminya.
"Ahh...." Berlian mengaduh kesakitan sambil memegang kening bagian kirinya.
"Lian, kamu tidak apa-apa?" cemas Bintang.
__ADS_1
"Kepala kamu berdarah..." Bintang jadi cemas dan panik melihat darah segar keluar dari kening istrinya. Warga yang tadinya rusuh tiba-tiba saja diam dan menyalahkan orang yang sudah melempar batu kearah Berlian.
"Keterlaluan..." geram Bintang tak terima istrinya jadi korban.
"Kalian sudah membuat saya benar-benar marah. Sekarang, kalian pulang!"
"Kemasi semua barang-barang kalian!. Karna saya pastikan besok pagi, rumah kalian sudah rata dengan tanah" ancam Bintang menggebu.
"Bin,jangan..." Berlian menggeleng lemah menahan sakit dan rasa pusing yang datang menyerang akibat luka di keningnya.
"Semuanya, aku harap tenang. Aku janji akan membicarakan hal ini baik-baik dengan suamiku. Jadi, lebih baik ibu-ibu dan bapak-bapak membubarkan diri sekarang" Berlian coba membujuk dan menenangkan para warga yang tidak terima rumahnya ikut di gusur.
"Suami?" cengang para warga yang tidak tahu kalau Berlian yang mereka kenal sebagai anak yang baik sudah menikah dengan laki-laki yang jelas-jelas tidak punya hati.
"Kalian bubar sekarang atau hari ini juga rumah kalian rata dengan tanah" gertak Bintang tak mau berkompromi.
"Kita ke rumah sakit sekarang, biar luka kamu di obati" kata Bintang.
"Ke puskesmas saja. Tidak jauh dari sini ada puskesmas"
Tanpa banyak bicara lagi, Bintang menuntun istrinya masuk kedalam mobil kemudian melarikannya ke puskesmas yang di maksud Berlian yang hanya membutuhkan waktu 8 menit menggunakan mobil. Kalau menuruti egonya, Bintang lebih memilih membawa Berlian berobat ke rumah sakit karena bisa di tangani oleh dokter terbaik. Hmmm Bintang lebay ya hehe. Tapi, melihat darah yang terus keluar dari kening Berlian, pertolongan tercepat yang harus di utamakan.
...****************...
"Bapak, tidak usah khawatir. Luka di kening istri bapak tidak parah, hanya 2 atau 3 hari ke depan mungkin akan merasakan sedikit pusing di kepalanya dan saya sudah menuliskan resep obat yang bisa bapak tebus" jelas dokter perempuan setelah selesai mengobati kening Berlian dan menutupi lukanya dengan perban, lalu menyerahkan secarik kertas pada Bintang.
"Terima kasih, dok" kata Bintang sambil menerima kertas putih itu. Dokter itu pun meninggalkan Bintang berdua dengan Berlian.
__ADS_1
"Kenapa kamu harus bertindak bodoh seperti tadi?. Kamu tidak perlu melakukan tindakan apa pun karena aku tidak akan pernah mencabut keputusan aku untuk menggusur pemukiman warga"
Bukannya kalimat terima kasih yang keluar dari mulutnya Bintang, tapi cercaan yang membuat Berlian dongkol.
"Kamu salah, apa yang aku lakukan tadi tidak ada kaitannya dengan masalah penggusuran itu. Aku melakukannya semata-mata ingin membela harga diri suamiku yang mulai jatuh di mata banyak orang. Apa kamu tidak lihat, bagaimana warga tadi tidak lagi mau tahu siapa kamu dan mereka tidak lagi menaruh rasa hormat pada orang yang jelas-jelas memiliki kekuasan lebih di perkebunan tempat mereka mencari nafkah" terang Berlian menguasai kekecewaannya akan sikap keras Bintang yang sulit di lunakkan.
Mendengar penjelasan istrinya, Bintang diam seribu bahasa menyelami kekaguman yang terus tumbuh setiap waktu ketika bisa merasakan juga melihat dengan nyata bagaimana Berlian menjalani perannya sebagai istri yang sempurna.
"Terima kasih sudah menolong aku. Maaf, aku tidak bisa menjaga kamu dengan baik"
Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Bintang sambil tangannya mendekap kepala istrinya bersandar di dadanya.
Berlian cukup kaget, Bintang bisa bersikap manis terhadapnya dan dia bingung harus bagaimana bersikap membalas sikap manis suaminya. Berlian hanya bisa diam saja.
...****************...
"Bin, apa kamu tidak bisa mengkaji ulang kembali keputusan kamu ?. Apa tidak ada jalan lain yang bisa kamu tempuh selain melakukan tindakan penggusuran?" tanya Berlian ketika mereka berjalan keluar dari puskesmas.
"Tidak ada yang perlu di kaji, keputusan yang aku ambil sudah bulat. Paling lambat, lusa, semua rumah penduduk di sana sudah rata dengan tanah" jawabnya tetap pada pendiriannya.
"Bin..., kamu tidak bisa seenaknya mengambil keputusan sepihak seperti ini" Berlian berhenti berjalan dan menyentak tangan suaminya.
"Aku sudah peringatkan kamu untuk jangan ikut campur urusanku, apa lagi yang berhubungan dengan pekerjaan. Apa pun keputusan yang aku ambil sudah ku pertimbangan matang. Jadi kamu tidak usah sok tahu menilai keputusan yang aku ambil" tandas Bintang jengah membahas hal ini.
"Kamu hanya mempertimbangkan nilai ekonomis yang kamu dapat jika pemukiman warga jadi di gusur dan berubah menjadi perkebunan yang luas dan menghasilkan pundi-pundi kekayaan yang tak ternilai. Tapi apa kamu juga mempertimbangkan dampak buruk yang akan di terima warga?"
"Mereka tidak hanya akan kehilangan tanah mereka. Mereka akan kehilangan rumah yamg sudah susah payah mereka bangun. Mereka tidak akan punya tempat berteduh lagi. Mereka akan tinggal di mana jika kamu tetap ngotot mau gusur?" jelas Berlian panjang lebar memberi pengertian pada suaminya.
__ADS_1
"Mereka mau tinggal di mana, itu urusan mereka. Yang jelas, penggusuran yang akan di lakukan sudah sah secara hukum. Jadi tidak ada alasan bagi mereka untuk bertahan di sana" ujar Bintang tak goyah pendiriannya, membuat Berlian tidak tahu harus bagaimana lagi melunakkan kerasnya hati suaminya.