Kilau Berlian

Kilau Berlian
Bab 82. Mama Farida sakit


__ADS_3

"Bulan... maafkan kakak!. Maafkan Bintang om.." Bintang mengigau gelisah dalam tidurnya. 


"Bukan... maafkan kakak!!.Ampuni Bintang om" igau nya lagi makin gelisah tak karuan, membuat Berlian membuka matanya kaget.


 


"Bukan... aku bukan pembunuh!!!" Bintang berteriak dan bangun dengan nafas tersengal-sengal. 


"Bin, kamu kenapa?" Berlian ikut terbangun dan langsung melihat keadaan Bintang. Untuk pertama kalinya selama dia hidup satu atap dengannya, baru kali ini dia mendapati bintang mimpi buruk sambil mengigau yang membuat merinding. 


"kamu pasti habis mimpi buruk" Berlian menyentuh pundak suaminya. 


Bintang langsung berbalik dan memeluk istrinya. Keringat dingin yang membasahi sekujur tubuhnya menyatu dengan tubuh istrinya. Sudah hampir 10 tahun berlalu, kisah pilu yang berhasil dia pendam bangkit kembali tanpa dia tahu sebabnya. 


"Aku bukan pembunuh, Lian. Aku bukan pembunuh" rintih Bintang dalam pelukan Berlian. 


"Pembunuh?" gumam Berlian. Ingatannya pun melayang mengaitkan perkataan Rangga tadi siang dengan apa yang di ucapkan Bintang barusan. Apa yang di katakan Rangga tadi ada benarnya, kalau Bintang adalah seorang pembunuh?. 


"Tidak!. Bintang lelaki yang baik. Apa yang di katakan Rangga tadi hanya bualan saja. Bintang paling hanya mimpi buruk. Tidak lebih" gumam berlian lebih percaya dengan kata hatinya. 


"Kamu tidur lagi ya. Yang tadi itu hanya mimpi buruk" Berlian merebahkan tubuh suaminya. Mengusap keringat yang membasahi wajah dan dahi Bintang. 


"Kamu tidur,ya" Berlian tersenyum hangat mengembalikan ketenangan dalam diri Bintang. 


"Lian , kamu ngga akan pernah ninggalin aku, kan?" tanya Bintang di hinggapi rasa takut mengartikan mimpinya yang terasa sebagai pertanda buruk hubungannya dengan Berlian kedepannya. 


"Ngga akan. Aku gak akan pernah ninggalin kamu" janji Berlian sepenuh hati. 


"Biarpun nanti kamu akan sangat membenci aku?" 


Berlian sempat diam dan tak paham maksud perkataan Bintang.


"Apa pun yang terjadi nanti, aku ngga akan pernah mengingkari janji ku" 


Berlian tersenyum dan menunduk mencium kening suaminya yang ikut tersenyum. Jari-jari lentiknya juga dengan setia membelai tiap lekuk wajah suaminya. Bintang pun dengan mudah memejamkan matanya kembali. 


"Bulan?. Sebenarnya siapa dia?. Kenapa Bintang atau pun mama tak pernah cerita tentang Bulan?" Berlian bertanya-tanya dalam hati dengan wajah bingung memecahkan misteri apa di balik mimpi suaminya. Adakah semua ini berkaitan langsung dengan kehidupan masa lalu bintang ?. 


...****************...


"Sudah beberapa perusahaan yang aku datangi, tetap saja ngga ada lowongan kerja" keluh arya menyusuri jalan trotoar di bawah terik sinar matahari.


"Dari pada susah-susah cari kerja begini, mending aku nyopet lagi" gumamnya mulai putus asa dan menyerah begitu saja. 


"Nyopet?. Untuk apa?. Bella sudah ngga ada. Berlian juga bisa marah besar jika tahu kakaknya nyopet lagi. Dulu aku juga sudah berjanji mau membanggakan kakek dan nenek. Aku ngga mau mengecewakan mereka lagi." pikir arya lagi mempertimbangkan niat buruknya. 


"Mending aku coba lagi mencari pekerjaan di tempat lainnya. Siapa tahu ada lowongan kerja" Arya kembali semangat. 


Dia pun menyeka keringat yang membasahi wajahnya dan kemudian berjalan melintasi jalan raya yang sepi dari kendaraan roda 4 atau pun roda dua. 


...****************...

__ADS_1


Kartika tidak bisa diam saja. Sikap keras papanya, membuat dia tidak bisa bekerja dengan tenang dan sibuk memikirkan bagaimana perasaan Berlian jika tahu papanya ngotot mau menjodohkan dia dengan Bintang. 


"Aku harus menemui berlian juga tante Farida. Aku harus minta maaf dan menarik semua tuntutan papa" 


Setelah berfikir cukup matang, Kartika meninggalkan toko bukunya dan segera tancap gas bersama mobilnya menuju rumah kediaman mama Farida. 


Dalam perjalan, Kartika tak bisa konsentrasi menyetir. Pikirannya melayang kesana kemari menerka-nerka kenapa papanya begitu ngotot menjodohkan dia dengan Bintang, bahkan sampai meminta bintang menceraikan Berlian. Sebuah hal mustahil di lakukan oleh orang angkuh dan sedingin Bintang. 


"Mas... Awas..." teriak seorang pejalan kaki memperingatkan seorang pemuda akan bahaya di depan mata. 


Arya menoleh ke depan dan tinggal hitungan detik sebuah mobil siap menabraknya tanpa dia dapat bergerak menyelamatkan diri. 


...****************...


Kabar buruk datang dari mama mertuanya yang jatuh sakit. Berlian tak mau egois. Biarpun saat ini dia begitu enggan untuk pulang karna secara otomatis dia akan bertemu dengan Rangga. Jujur saja, Berlian masih diliputi emosi mengingat Rangga sudah sangat keterlaluan mau mencelakainya. Berlian juga merasa sudah cukup tenang dan bahagia tinggal berdua dengan Bintang di villa dan dia tak mau merusak kebahagiannya dengan melihat rupa Rangga yang menjijikkan. Namun di dorong rasa sayangnya terhadap sang mama mertua, Berlian pun mau pulang kembali ke kediaman mereka. 


"Kamu jangan takut. Aku sudah peringatkan Rangga agar dia bisa menjaga sikap dan ga mengulangi kelancangannya lagi. Jika dia berulah lagi, aku ga akan segan-segan untuk mengusirnya dari rumah" kata bintang menenangkan kegelisahan istrinya saat mereka dalam perjalanan menuju pulang. Berlian tersenyum dan mengangguk mempercayai kesungguhan suaminya yang mau menjaga dan melindunginya. 


...****************...


"Kak Arya, bagaimana dengan kakinya?. Masih sakit ?" tanya Kartika di penuhi rasa bersalah ketika lelaki yang di tabrak nya selesai di periksa di sebuah klinik. 


"Ga, Cuma lecet biasa. Nggak parah juga" jawab arya tenang dan tak menuntut banyak pada Kartika yang hampir saja membuat nyawanya melayang kalau saja kartika tidak cepat menginjak rem.


"Aku benar-benar minta maaf. Aku bawa mobilnya kurang hati-hati, kaki kamu harus jadi korbannya" sesal Kartika tak tenang melihat kaki kanan dari kakak sahabatnya harus di perban. 


"Santai aja lagi, tik. Kaki aku masih utuh. Kalau kakiku harus di amputasi, siapin saja kaki kamu buat gantiin kaki ku" guyon Arya mencairkan suasana yang kaku antara keduanya dan itu berhasil membuat Kartika tersenyum ceria. 


Kartika yang melihat arya beringsut dari tempat rawatnya bergerak cepat mau menolong. 


"ngga usah. aku bisa sendiri" 


Arya menolak niat baik kartika dan nekat berjalan. Tapi gerak kakinya tak seimbang dan mau jatuh. 


"Hati-hati..." Kartika dengan cepat menahan tubuh lelaki tegap di sampingnya. 


Seketika keduanya terdiam beradu pandang begitu dekat. Keduanya tenggelam beberapa lamanya sampai nada dering hp milik Kartika berbunyi menyadarkan keduanya. 


"Maaf, aku mau angkat telpon dulu" 


Kartika dengan hati-hati melepaskan tangannya dari tubuh arya dan segera membuka tas, lalu mengeluarkan hp miliknya. Tanpa sengaja, sebuah surat jatuh bersamaan dari dalam tas berwarna hitam miliknya. 


"Surat itu seperti suratnya Bella" gumam arya mengamati baik-baik surat yang tergeletak di lantai. 


"Benar, itu suratnya Bella" seru arya lega dan girang setelah yakin dan memungut surat tersebut. 


"Kok di matiin,sih?. Kurang kerjaan banget" dongkol Kartika yang kemudian mendekati arya yang tengah mencium kertas tak jelas. 


"Tik, kenapa surat ini sampai ada di kamu?" tanya Arya penasaran. 


"Oh,jadi benar surat itu punya kak arya?." 

__ADS_1


"Waktu kak Arya menolong ku saat mau di copet beberapa hari yang lalu, aku ngga sengaja menemukan surat ini tercecer. Aku ngga tahu pasti siapa pemilik surat itu. Makanya aku simpan saja" jelasnya. 


"Terimakasih,tika" Arya tiba-tiba saja memeluk tubuh kartika. Kartika membelalak kaget dan kebingungan sendiri. 


"surat ini sangat penting buatku" kata Arya tetap memeluk Kartika.


"I..i...iya..." kartika jadi gugup tak karuan di peluk oleh arya dan dia kesulitan melepaskan diri sebab Arya kian erat memeluknya. 


...****************...


Selama ada Bintang di sampingnya, Berlian tak pernah takut jika harus bertemu muka dengan Rangga. Itu sebabnya yang membuat Berlian tenang saja memasuki kamar mertuanya, biarpun ada Rangga yang tengah cari muka membujuk mertuanya mau makan. 


"Lian, Bintang!. Kalian akhirnya pulang juga!" seru mama Farida lebih semangat dari sebelumnya. 


Rangga cepat berdiri dan menaruh mangkuk berisi bubur. Wajahnya pucat pasi ketika 2 pasang mata menatapnya sama tajamnya. 


"Sial!.Apa Berlian sudah cerita yang sebenarnya ke Bintang?!" takutnya dalam hati. 


"Lian mama kangen sama kamu, nak" 


Berlian beralih memusatkan perhatiannya pada mama mertuanya yang tengah terbaring lemah dan mengatur emosinya yang siap meledak mencaci maki perbuatan jahatnya Rangga.


"Lian juga kangen sama mama" Berlian memeluk mama mertuanya penuh haru dan kerinduan. 


Bintang menatap kearah dua wanita yang di cintainya dengan senyum yang mengembang bahagia melihat kedekatan istri dan mama kandungnya. 


"Bagus, sepertinya Bintang ngga tahu apa-apa tentang kejadian di sungai. Berlian pasti ga mau kehilangan aku, makanya dia g menceritakan kejadian yang sebenarnya" Rangga merasa berada di atas angin dan ketakutannya pun sirna. 


"Mama kenapa sampai jatuh sakit begini?" cemas Berlian melihat perempuan yang dulunya kuat dan ceria, kini terbaring lemah tanpa tenaga. 


"mama itu cuma kecapekan dan terlalu banyak berpikir. Kamu jangan cemas, dokter sudah datang memeriksa keadaan mama" ujar Rangga memberi jawaban. 


Berlian cuek, tak mau menoleh atau pun menanggapi pemilik suara yang menjelaskan keadaan mama mertuanya. Baginya dalam kamar berukuran luas itu hanya ada dia, bintang dan mama Farida. 


"Kening kamu kenapa nak?. Kamu jatuh lagi?" mama Farida cemas melihat kening menantunya di balut perban kecil. 


"Ini cuma luka kecil saja.mama jangan cemas begitu donk" Berlian memasang senyum dan wajah yang ceria menenangkan hati mama mertuanya. 


"Bagaimana mama ngga cemas, sayang. Ini sudah kedua kalinya kening kamu luka begini" 


"Bintang nya saja yang ga becus menjaga Berlian" sambar Rangga seenak jidat. 


Sontak Berlian berdiri menghampiri suaminya yang naik darah mendengar ucapan sepupunya. Berlian pun tak habis pikir, kenapa rangga tidak ada malunya menampakkan batang hidungnya setelah apa yang telah dia lakukan. 


"Bin, kamu suami yang sempurna buat ku. Kamu lelaki yang memiliki hati tulus tanpa harus banyak kata bagaimana caranya kamu memperlihatkan ketulusan kamu. Kamu sudah banyak mengajarkan aku apa yang terlihat hitam, belum tentu artinya buruk . Begitu juga sebaliknya. Aku ngga pernah menyesal menjadi istri kamu. Istri Bintang pratama yang arogan tapi punya rasa tanggung jawab yang tinggi. Kamu memberi aku banyak nyawa karna kamu selalu menjaga dan melindungi ku dengan sangat baik" tutur Berlian mematahkan semangat juga rasa percaya diri Rangga yang tadi sempat melambung tinggi. 


"Kamu ngga perlu mendengarkan perkataan orang yang ngga bisa menilai dirinya sendiri dengan baik dan hanya bisa menilai buruk orang lain" senyum Berlian merekah manis mengakhiri ucapannya yang bisa meredakan emosi bintang yang membuncah. Kalau bukan karna berlian, Rangga sudah habis babak belur. 


Tak ada kata yang bisa di ucapkan bintang, hanya pelukan yang mewakili ketenangan jiwanya. 


mama Farida meneteskan air mata haru, Bintang yang dulu begitu keras jauh berubah sangat lembut dan penyayang. Putra tunggalnya juga begitu bahagia memeluk dan menciumi kening istrinya. Sungguh dia tak tega menghancurkan kebahagian bintang yang dulu sempat hilang. Dan wanita paruh baya itu juga takut membayangkan ancaman dari keluarga mendiang suaminya.

__ADS_1


__ADS_2