
"Tika, makasih ya. Sudah mau nganterin aku pulang" ucap Berlian begitu turun dari motor.
"Sama-sama. Lagi pula aku memang mau ketemu kamu" Tika tersenyum tulus.
"Kita ngobrol di dalam saja, biar enak" kata Berlian.
"Enggak usah. Aku soalnya buru-buru. Aku hanya mau menyerahkan ini ke kamu" Kartika mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat dari dalam tasnya dan memberikan langsung pada Berlian.
"Ini apa?" tanya Berlian bingung menerima amplop tersebut.
"Itu berkas dan rincian hasil royalti penjualan buku kamu , dan uang nya sudah di transfer langsung ke rekening mu" jawab Kartika.
"Royalti?" Berlian yang penasaran membuka isi dalam amplop.
"Sebanyak ini?" ujarnya. Berlian seolah tak percaya bisa mendapatkan uang sejumlah itu . Baginya sangat sulit mengumpulkan uang sebanyak itu.
"Ini baru pembayaran awal saja. Nanti, kalau penjualan buku kamu meningkat, penerbit akan segera melunasi semua pembayaran sesuai dengan kontrak yang sudah kamu sepakati dengan pihak penerbit . Tak hanya cetak fisik , novel mu juga tersedia dalam bentuk e-book " jelas Kartika ,membuat Berlian tersenyum haru.
"Alhamdulillah, ya Allah. Akhirnya aku bisa menghasilkan uang dari usaha aku sendiri" ucap nya syukur.
"Usaha kamu tidak sia-sia, Lian. Kamu harus lebih giat dan semangat lagi dalam menulis. Sebagai pemula, penjualan buku karangan kamu boleh di bilang bagus" Kartika ikut merasakan kebahagian sahabatnya dan tak lelah menyemangati sahabat karibnya tersebut.
"Makasih banyak, Tika " Berlian memeluk sahabatnya dengan suka cita. Betapa beruntungnya dia, memiliki sahabat sebaik Kartika . Kartika adalah satu-satunya orang yang mendukung dia mengembangkan bakat menulisnya.
"Jangan cuma terima kasih saja, traktirannya di tunggu lho" ujar Kartika sembari melepaskan pelukan sahabatnya.
"Kamu mau makan apa?. Aku traktir kamu sepuasnya sekarang"
"Lain kali saja. Aku lagi buru-buru mau ke toko sekarang"
"Udah ya, aku pergi dulu. Assalamualaikum...." lanjut nya pamit.
"waalaikumsalam... "balas Berlian melepas sahabatnya yang melaju bersama sepeda motor matic nya.
"Tika, hati-hati" teriaknya mengingatkan sahabatnya yang di sahuti dengan membunyikan klakson motor.
...****************...
Dengan uang yang dia miliki, Berlian menggunakannya untuk membawa neneknya berobat ke dokter spesialis agar penyakit neneknya bisa di tangani dengan baik.
"Lian, kamu dapat uang dari mana bawa nenek berobat?. Periksa ke dokter itu kan mahal?" tanya nenek Aminah heran, sebab cucunya masih pengangguran.
"Nenek tenang saja. Berlian bantuin Kartika di tokonya. Kartika memberi bonus untuk Lian, dan bonus itu jumlahnya bisa untuk bawa nenek berobat" Berlian terpaksa berbohong.
__ADS_1
"Aduh Lian, kamu simpan saja uangnya untuk keperluan kamu yang lain. Nenek sudah baikan kok" ujar nenek Aminah terbaring lemah di tempat tidur.
"Enggak nek .Uang itu memang sengaja Lian sisihkan untuk biaya berobat nenek. Soal keperluan Lian , bisa cari lagi nanti" sahut Berlian yang tidak henti dan lelah mengurut lengan dan kaki neneknya.
"Kamu memang cucu nenek yang paling baik dan pengertian. Beda dengan kakak kamu, si Arya itu"
Berlian tercenung mendengar neneknya menyebut nama kakaknya yang sudah lama pergi meninggalkannya bersama kakek dan neneknya.
"Kak, kak arya sekarang di mana?. Lian kangen sama kakak" Lian bergumam lirih memendam kerinduannya pada sosok kakak yang dia sayangi.
...****************...
Setelah membawa neneknya berobat dan mengantarnya pulang, Berlian memutuskan pergi kesebuah pusat perbelanjaan modern ternama . Berlian ingin membelikan sesuatu untuk kekasihnya. Sisa uangnya masih cukup untuk membeli pakaian untuk nenek juga kakeknya, termasuk untuk Rangga . Berlian memasuki sebuah toko yang menjual pakaian jadi pria dan mulai sibuk memilah-milah kemeja yang cocok untuk Rangga.
...****************...
"Ma, kenapa mama tidak minta bantuan Rangga aja untuk menemani belanja?. Kenapa harus aku sih?" protes Bintang, mengiringi langkah mamanya melewati beberapa toko dalam pusat perbelanjaan mewah dan ternama itu.
"Ya mama pengen aja jalan sama kamu nak , kamu lagi ngga sibuk ini kan . Rangga sekarang lagi sibuk mempersiapkan diri untuk bertugas di luar kota selama 10 hari ke depan. Tidak ada salahnya kan kalau mama minta bantuan kamu?"
"Bintang tunggu mama di mobil saja, aku malas jalan kesana-kemari" cetusnya.
"Ya udah deh , terserah kamu aja " sela mama Farida.
"mama mau ke butik langganan dulu"
"mama beli kebaya buat siapa?. Tidak mungkin itu untuk mama, kebayanya terlalu kecil dan terbuka?" ujar bintang bertanya-tanya dalam hati.
"Mungkin itu hadiah untuk anak temannya atau kolega bisnis " tebaknya sendiri.
Bintang tidak mau banyak berpikir. Lebih baik dia kembali ke mobil karena dia mulai jengah di di pandangi oleh ABG-ABG labil yang terpesona dengan ketampanannya.
Langkah Bintang sempat terhenti ketika melewati sebuah toko penjual pakaian jadi pria. Matanya terpancing melihat sebuah kemeja yang bertengger rapi . Kemeja berwarna biru itu sangat sesuai dengan seleranya. Tidak ada salahnya kalau dia membelinya.
...****************...
Berlian akhirnya menemukan apa yang dia cari. Sebuah kemeja yang menurutnya sangat pas dan cocok untuk tambatan hatinya.
"Ini dia" seru Berlian. Dia mengambil baju itu bersamaan dengan seseorang.
"Maaf mas, kemeja ini saya duluan yang mengambil" katanya.
"Ini kemeja saya, saya yang lebih dulu " sahut si pemuda tak terima.
__ADS_1
"Kamu lagi?" keduanya kaget dan saling melotot. Dunia seakan terasa sempit, dari sekian toko yang terletak dalam pusat perbelanjaan ini, kenapa mereka harus di pertemukan lagi. Bikin sebal saja.
"Hei, kemeja ini aku duluan yang ambil, jadi kemeja ini milik ku" Berlian menarik kemeja itu dari tangan Bintang.
"Kemeja ini jelas punya ku. Cewek miskin seperti kamu mana mungkin bisa membeli kemeja semahal ini. Jangan-jangan kamu mau mencuri ya?" tuduh Bintang.
"Enak saja bilang aku mau mencuri" Berlian menghentakkan kakinya menginjak kaki bintang.
"Awwww" Bintang meringis kesakitan sambil berjinjit.
"Kemeja ini milik ku , aku beli buat pacar ku . Kamu cari saja yang lain" berlian berhasil menguasai kemeja itu 100% dan bermaksud mendekati kasir.
"Tidak bisa. Kemeja ini milik ku. Kamu cari saja di pasar loak sana. Pakaian di sana lebih pantas buat kamu atau pun pacar kamu yang tidak penting" Bintang tak mau mengalah dan kembali berusaha merebut kemeja tersebut dari tangan Berlian.
"Ini punya ku"
"punyaku" Bintang tak mau kalah.
Tarik menarik pun terjadi antara keduanya. Keduanya sama-sama tidak mau mengalah. Berebut seperti anak kecil.
"brettt...." bunyi baju robek menghentikan aksi tarik menarik antara keduanya.
"yaaahh.... Kemejanya sobek" ujar Berlian kecewa.
"Kamu ambil saja kemejanya. Aku sudah tidak berminat" kata bintang, melepas kemeja tersebut.
"Kemeja ini untuk kamu saja, aku mah ogah" tolak Berlian.
"Kemeja ini sudah robek karena salah mu, jadi kamu saja yang ambil" Bintang tak mau terima.
"Jangan sembarangan nuduh. Kamu lihat dulu kemejanya sobek bagian mana?. Yang sobek kan bagian yang kamu tarik. Jadi, kemeja ini kamu yang ambil" ujar Berlian banyak akal.
Bintang memperhatikan kemeja tersebut. Yang robek ketiak bagian kiri yang di tarik berlian ,bukan dia.
"Di kerjain rupanya" gumamnya geram.
"Hei, kamu mau ngerjain a..." ucapan Bintang tergantung karena berlian sudah kabur duluan.
"Hei, kamu jangan kabur. Bayar dulu kemeja yang sudah kamu rusak" Bintang berniat menyusul. Namun langkahnya di hadang oleh seorang pelayan toko.
"Rasain....emang enak di kerjaian. Berlian di lawan" cibir Berlian dari luar toko, membuat Bintang geram.
"Maaf Mas, jangan asal main pergi saja bayar dulu kemejanya" ujar pelayan toko yang menghadang Bintang.
__ADS_1
"Sial" umpat Bintang tak bisa berbuat apa-apa selain membayar kemeja yang sudah robek tersebut.
"Awas saja kalau kita bertemu lagi, habis kamu" gertak Bintang dalam hati.