
"Aku tidak bisa hidup tanpamu, Lian" ujar Bintang berperang batin tak mau kehilangan Berlian begitu saja dari kehidupannya.
"Lian..." ucap Bintang di kagetkan oleh suara petir yang menggelegar dari luar jendela kamar.
"Aku harus mencari Lian" tekad Bintang . Dia pun berlari keluar kamar dan menuruni anak tangga secepat mungkin.
"Bin, kamu mau kemana?" tegur Mama Farida yang lagi duduk santai di ruang tengah sendirian sambil memegang handphone nya. Bintang tak menghiraukan mamanya dan dia kesana kemari mencari istrinya dari dapur hingga halaman belakang. Tetap batang hidung Berlian tak kelihatan.
"Lian... kamu di mana?" panggil Bintang berjalan menuju taman.
"Bin, di luar hujan. Memangnya Lian kemana?" mama farida mengikuti dari belakang dan di buat bertanya-tanya dengan sikap putranya.
Bintang seperti kehilangan pegangan hidup. Tidak ada siapa pun yang bisa dia lihat di dekatnya, termasuk mama kandungnya sendiri, yang ada di otaknya hanya Berlian.
"Berlian ..." panggil Bintang sekeras mungkin memecah suara hujan yang turun deras dan dia tak peduli badannya basah kuyup oleh air hujan. Padahal kenapa harus repot-repot cari Berlian di dalam rumah, kan bisa saja Bintang periksa CCTV . Berhubung pikiran nya kacau dia sama sekali tidak berpikir ke arah sana. (Payah)
"kamu kenapa, nak?. Ada apa antara kamu dan Berlian?" mama Farida menyusul dan membawa payung memayungi putranya. Tapi, Bintang seakan tidak merasakan kehadiran siapa pun di sampingnya.
"Aku harus menemukan Berlian dan membawanya pulang. Lian tidak boleh ninggalin aku" ujar Bintang bergumam getir penuh ketakutan dan penyesalan.
"Bintang, kamu mau kemana?" tanya Mama Farida melihat putranya berlari memasuki mobil dan menjalankannya meninggalkan perumahan mewah miliknya. Yang terpikir olehnya adalah mencari Berlian ke rumah kakeknya. Siapa tahu Berlian pulang ke rumah kakek dan neneknya.
...****************...
"Nak bintang, kamu datangnya sendirian?. Berlian mana?" tanya nenek Aminah begitu membukakan pintu untuk tamu yang datang, yang tak lain adalah cucu menantunya itu.
"Jadi, Lian tidak pulang ke rumah neneknya?" gumam Bintang pucat membayangkan kalau Berlian pergi jauh darinya.
"Maaf nek, Bintang harus pergi"
Tak mau buang waktu, Bintang pun tancap gas meninggalkan nenek Aminah dalam kecemasan memikirkan nasib cucunya karna sikap Bintang mencurigakan yang datang tiba-tiba lalu pulang begitu saja.
...****************...
Bintang tak hilang akal, dalam perjalanan mencari Berlian dia coba menghubungi Kartika.
__ADS_1
"Jadi Lian tadi ada bersamamu, lalu dia pergi dengan kakaknya ?!"
Telpon genggam milik Bintang terlepas dari tangannya setelah mendengar penjelasan Kartika dari ujung telpon. Penyesalannya pun membubung tinggi karna tidak mempercayai Berlian.
"Dasar bodoh... bodoh..." Bintang memaki dirinya sendiri sambil membenturkan kepalanya pada sandaran jok mobil yang didudukinya.
"Lian, kamu kemana sih. Aku tahu aku salah. Aku minta maaf. Kamu pulang, sayang. Aku tak mau kehilangan kamu"
Bintang terus berharap di tengah penyesalannya. Matanya melirik kesana kesini mengamati sisi jalan yang dia lewati dengan harapan dia bisa menemukan Berlian secepatnya.
Sampai tengah malam Bintang belum juga menemukan titik terang keberadaan Berlian yang seolah hilang di telan bumi. Semua tempat sudah dia datangi, dari perkebunan hingga telaga tempat persembunyian Berlian. Berlian tetap tidak di temukan.
Hujan makin deras, petir terus menggelegar tiada henti, waktu pun terus berjalan. Bintang pun pulang dengan tangan kosong dan membawa sedikit sisa nyawanya karena selebihnya sudah di miliki oleh Berlian.
Bintang menjalankan mobilnya melewati pagar rumahnya yang tinggi.
"Lian??" Bintang melonjak antara percaya dan tidak melihat sosok yang meringkuk kehujanan di bawah pohon rindang di samping rumahnya. Ternyata Berlian tak pergi jauh.
Bintang lantas turun dan berlari menghampiri tubuh yang terang terkena cahaya lampu mobilnya.
"Jangan pernah menyentuhku" sentak Berlian menengadah menantang tajam tatapan Bintang.
"Lian mukamu pucat sekali. Kita masuk, kamu bisa sakit kalau begini" Bintang ingin merangkul istrinya dan mengajaknya masuk.
"Aku sudah bilang jangan sentuh aku" Berlian mendorong kasar tubuh Bintang. Bintang tak melawan.
"Apa peduli mu kalau aku sakit?. Aku mati sekali pun, bukannya untung besar buatmu. Kamu akan terlepas dan bebas dari wanita yang tujuan hidupnya hanya mau menguasai hartamu. Tidak usah sok peduli denganku" ucap Berlian menggigil menahan dingin. Tapi dia tak sanggup menahan air matanya. Dan itu terlihat jelas oleh Bintang. Air hujan tak mampu menyembunyikan air mata Berlian.
Bintang tak sanggup berkata apa-apa, melihat wajah berlian yang pucat, pakaian basah kuyup, tatapan mata yang sayu juga tubuh yang menggigil begitu kuat mengoyak ulu hati Bintang. Penyesalannya seolah tak berarti dan takkan sanggup mengobati luka yang sudah dia torehkan.
"Lian,kita masuk..."
Bintang tak tega membiarkan Berlian seperti ini, dia harus bertindak memaksanya masuk.
__ADS_1
"Lepasin aku. Aku tidak sudi di sentuh olehmu" Berlian memberontak menolak pelukan Bintang dengan tangisan yang menyayat hati.
"Lian, kamu boleh marah sama aku, mau pukul atau mau apa pun. Tapi kamu harus memikirkan keadaanmu juga. Kamu bisa sakit kalau tidak mau masuk" kata Bintang coba memberi pengertian.
Berlian mulai diam. Bintang sedikit lega. Tapi sedetik kemudian dia di buat panik dan cemas. Tubuh Berlian lemah tak bertulang, pingsan di pangkuannya.
"Lian..." panik Bintang. Dia pun spontan mengangkat istrinya masuk ke dalam mobil lalu memasuki gerbang rumahnya.
...****************...
Dalam kamarnya yang entah siapa yang membersihkannya seperti sedia kala, Bintang membaringkan tubuh Berlian dengan pelan dan hati-hati.
"Lian, buka mata kamu" Bintang menepuk pipi Berlian berkali-kali.
"Badan kamu panas sekali"
Bintang makin panik dan ketakutan jika hal buruk terjadi padanya. Bintang dengan cepat mengganti baju istrinya yang basah kuyup tanpa mempedulikan keadaannya sendiri yang juga basah kuyup dan tak terpikir mau menggantinya.
Selesai mengganti baju Berlian, Bintang mengompres kening istrinya hingga suhu tubuhnya stabil. Barulah Bintang bisa sedikit tenang, tapi itu tak mengurangi rasa penyesalannya.
"Lian,maafkan aku..." sesal Bintang dengan sorot mata yang tak pernah lepas memandangi wajah berlian yang masih pucat.
"Aku tidak seharusnya meragukan ketulusan mu menikah denganku. Aku yang bodoh tidak bisa menilai mu dengan hati. Aku yang naif mengingkari kejujuran mu menjalankan janji pernikahan kita. Kamu tidak ada cacatnya menjadi seorang istri. Aku begitu angkuh membenarkan pendapatku sendiri." ucap Bintang setulus hati dan dalam kesadaran sepenuhnya.
"Maafkan aku" bisik Bintang getir sambil membelai mesra wajah Berlian.
"Aku mencintai kamu, Lian" akunya yang sadar arti ketakutan akan kehilangan Berlian selama ini.
"Aku mencintai kamu, Lian" ulang Bintang lagi yang tanpa bosan membelai wajah pucat Berlian.
Bintang menunduk ingin mengecup kening Berlian, namun di tahannya.
"Kamu benar , aku laki-laki yang sangat buruk. Aku tidak pantas buatmu. Kamu terlalu baik untuk lelaki yang tak punya hati sepertiku. Kamu terlalu sempurna untuk lelaki bajingan sepertiku. Aku tak pantas untuk di cintai olehmu, mengharapkan cintamu pun aku tak layak"
__ADS_1
Bintang menjauhkan wajahnya mengingat kesalahan yang sudah dia perbuat. Bintang hanya mampu memandangi wajah Berlian dan kembali mengompres keningnya berkali-kali tanpa meminta bantuan orang rumah. Bintang melakukannya sendiri hingga dia tertidur dan bajunya yang basah kering di badan.