Kilau Berlian

Kilau Berlian
Bab 23. Bintang membawa Berlian ke rumahnya


__ADS_3

"Atau kamu mau seperti ini" preman bertato itu menancapkan pisaunya pada ban sepeda milik Berlian. Nyali Berlian seketika ciut, tapi dia tetap bisa mengontrol ketakutannya.


"Kamu mau bernasib sama seperti sepeda kamu atau kamu bayar semua utang-utang kakak kamu" gertak si boss.


"Aku sama sekali tidak punya uang sebanyak itu. Beri aku waktu mengumpulkan uangnya" kata Berlian meminta tenggang waktu pada ketiga preman tersebut.


Tiga preman tersebut saling lirik dengan isyarat dan senyum licik ketika melihat Berlian dari ujung kaki hingga kepala.


"Kamu tidak perlu capek-capek membayar utang kakak kamu. Kamu cukup bekerja melayani laki-laki hidung belang seumur hidup kamu" kata salah seorang preman yang jadi kepala genk bagi kedua rekannya.


"Sampai mati pun aku tidak bersedia melakukan pekerjaan haram tersebut" tandas Berlian menolak tanpa takut.


"Banyak omong, ayo seret gadis itu" si boss memberi perintah pada dua rekannya yang langsung menarik paksa tangan Berlian.


"Lepasin...." Berlian memberontak dan berusaha melepaskan diri dari preman gila tersebut.


"Lepaskan dia..." gertak seorang bersuara lantang.


"Bintang..." ujar Berlian melihat siapa yang datang.


"Ada yang mau cari mati rupanya" geram si boss sambil melancarkan serangan.


Bintang dengan sigap menangkis serangan dan balik menyerang. Perkelahian pun terjadi antara keduanya. Melihat bosnya tersudut, ke dua anak buahnya turun tangan membantu bosnya.


"Bin,,awas..." teriak Berlian memperingatkan Bintang saat salah seorang dari preman tersebut mau menikam perut Bintang dengan pisau. Bintang berhasil mengelak, namun bogem mentah sempat melayang tepat mengenai pipinya.


"Kurang ajar" geram Bintang sambil memegang pipinya yang sakit dan sudut bibirnya berdarah.


Tanpa ampun Bintang mengeluarkan segenap kemampuannya hingga berhasil memukul mundur ketiga preman tersebut.


"Bintang, kamu tidak apa-apa?" Berlian bergegas mendekati Bintang begitu preman tersebut kabur kocar-kacir.

__ADS_1


"Bin, bibir kamu berdarah. Biar aku lihat." Berlian mengulurkan tangan mau menyentuh bibirnya Bintang.


"Aku tidak butuh bantuan kamu" Bintang menepis kasar tangan Berlian dari bibirnya.


"Bin, biar aku obati luka kamu" kata Berlian.


"Jangan coba menarik perhatianku dengan sikap sok manis kamu" ketus Bintang.


"Kamu sudah menolongku, biarkan aku membantumu mengobati lukanya" Berlian tetap bersikeras mau mengobati luka di bibir Bintang.


"Kamu pikir aku mau menolong kamu?. Kalau aku tahu yang di hadang preman tadi adalah kamu, aku tidak sudi menolong kamu dan aku akan membiarkan kamu mati di habisi preman-preman itu" ucap Bintang masih di kuasai rasa sakit hati karena di permalukan waktu acara pertunangan mereka.


"Bintang , aku tahu kamu pasti sangat sakit hati karena perbuatan aku waktu itu. Tapi, aku sama sekali tidak bermaksud mempermalukan kamu karena aku kira...."


"Kamu bukan siapa-siapa aku, kenapa aku harus sakit hati. Aku malah bersyukur bisa terlepas dari gadis kampung seperti kamu. Kamu bukan perempuan yang sepadan untuk bersanding denganku" Bintang memotong penjelasan Berlian dengan kata-kata yang cukup pedas.


Kalau saja Berlian tidak ingat kalau Bintang yang menolongnya, dia bisa saja membalas kata-kata yang diucapkan Bintang.


"Ada apa lagi?" tanya Bintang jengah.


"Terimakasih sudah menolongku" ucap Berlian di iringi senyum yang tulus. Bintang sempat terpaku melihat senyum Berlian yang paling manis yang pernah dia lihat.


"Aku tidak butuh ucapan terimakasih kamu . Aku tahu persis seperti apa wanita seperti kamu" Bintang kembali bersikap arogan.


Berlian benar-benar harus menahan emosinya.


Bintang pun masuk dan kembali menjalankan mobilnya. Lewat kaca spion, Bintang tak henti memandangi gadis itu yang hanya diam di tempat menatap kosong kearah mobilnya.


"Berlian..." ucap Bintang panik ketika melihat tubuh gadis itu merosot jatuh ke aspal jalanan yang sepi. Bintang spontan memundurkan mobilnya dan segera turun.


"Hei....kamu kenapa ?" Bintang mengangkat kepala Berlian dan berkali-kali menepuk wajah gadis itu, tapi dia tetap tak sadarkan diri dan Bintang baru menyadari betapa pucat nya wajah Berlian saat itu. Tanpa berpikir panjang lagi, Bintang mengangkat tubuh Berlian masuk ke dalam mobil. Tak lupa Bintang pun membawa sepeda Berlian dan menaikkan nya ke atas mobil.

__ADS_1


...****************...


Sepeninggal putranya, Mama Farida menyibukkan diri menyirami bunga kesayangannya yang tumbuh subur di taman samping rumah. Sibuk dengan kegiatannya, dia di kaget kan dengan suara deru mobil yang datang memasuki pekarangan rumah.


"Itu kan suara mobilnya Bintang?. Kenapa dia cepat sekali baliknya?. Apa ada yang ketinggalan ?" Mama Farida yang penasaran langsung meninggalkan kesibukannya dan bergegas menuju teras rumah.


"Berlian..." ujar mama farida kaget melihat putranya turun dengan membopong tubuh seorang gadis yang tidak sadarkan diri.


"Bin, Lian kenapa?. Kenapa dia bisa pingsan begini?" tanya Mama Farida kaget bercampur panik.


"Mama tanya-tanya nanti saja, kita harus segera menolong Berlian"


"Kamu bawa Lian masuk ke kamar mama" mama farida membukakan pintu rumah dan berjalan mendahului putranya.


"Kamu bawa Lian masuk. Mama mau menghubungi dokter Hendra dulu supaya datang memeriksa keadaan Lian" ujar wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan segar itu setelah membukakan pintu kamar pribadinya yang terletak di lantai bawah.


Mama Farida berjalan menuju ruang tengah sementara Bintang bergegas masuk dan merebahkan tubuh Berlian dengan hati-hati ke atas tempat tidur. Bintang diam terpaku ketika melihat linangan kristal membasahi kedua sudut mata Berlian.


"Pingsan begini, dia masih sempatnya menangis" gumamnya tak habis pikir. Entah alasannya apa ada sesuatu yang mendorong Bintang menghapus linangan kristal itu dengan lembut. Kelegaan tersirat dari wajahnya ketika air mata itu sudah tak lagi membasahi kedua sudut mata sendu itu.


"Kamu mau tahu kenapa mama begitu ngotot menjodohkan kamu dengan Lian?"


"Mama!!" muka Bintang memerah ketika sadar mamanya ternyata sudah sejak tadi memperhatikannya dari depan pintu.


"Kita sudah pernah membahas masalah ini. Bintang sudah tidak mau lagi mama menyebut-nyebut masalah perjodohan itu" Bintang kembali bersikap normal seperti biasanya, dia yang dingin dan kaku.


"Dengarkan mama sekali ini saja, nak. Setelah mama menceritakan apa alasannya mama menjodohkan kamu dengan Berlian, terserah kamu mau menolak atau menerima perjodohan itu . Mama janji, setelah itu mama tidak akan pernah mengungkit-ungkit masalah perjodohan itu lagi" mama Farida memberikan sebuah pilihan yang menurut Bintang cukup menguntungkan dia karna tidak ada hal yang bisa meluluhkan kerasnya pendiriannya.


"Baik, Bintang pegang janji mama"jawabnya mantap.


"Nanti mama cerita setelah dokter Hendra datang memeriksa keadaan Berlian" kata mama Farida sambil melirik Berlian dengan tatapan sayangnya. Melihat raut Berlian yang lelah dan pucat membangkitkan memori lama mama Farida pada sosok yang begitu mirip dengan Berlian.

__ADS_1


__ADS_2