Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
100. Sterilisasi


__ADS_3

Milla yang daritadi menyimak, berdecak kagum. Dia tidak menyangka kalau Deka bakal setegas itu dengan para karyawan.


"Aih, ternyata dia punya sisi seperti ini juga." Batin Milla tak percaya. Meski hanya sekedar mendegarkan saja, Milla bisa tahu aura yang dipancarkan Deka tadi. Mungkin jika dia diposisi resepsionis itu, dia pasti akan ketakutan tak bisa melawan.


"Di sini kan kantornya?" Tanya Deka saat mereka naik ke lantai kelima, lantai paling atas sekaligus kantor Milla. Saat Deka bertanya seperti itu, dia melihat sebuah papan nama yang bertuliskan nama Milla di sana. Berarti benar itu memang kantornya.


"iYa, kalau ini lantai lima, seharusnya benar." Jawab Milla sekenanya. Semenjak mengambil alih perusahaan ayahnya, dia tak pernah tahu bagaimana kondisi dan rupa kantornya. Selebihnya di serahkan pada Albert.


Deg, mengingat nama Albert, Milla jadi merasa ada yang aneh. Sewaktu masih di kediaman Agatha, Milla mencoba menghubungi Albert, namun anehnya Albert seperti menjauh darinya. Bahkan sampai sekarang dia belum bertemu Albert.


Deka yang sadar Milla nampak berpikir keras, mencubit pipi Milla.


"Serius banget mikirnya." tukas Deka menyadarkan Milla dari lamunannya.


"Ih, sakit. Deka!" Milla langsung menghempaskan tangan Deka dari pipinya. Sebenarnya tidak begitu terasa, tapi karena kaget, Milla mengatakan kalau itu sakit.


"Hahaha, maaf, maaf. Lagian kamu mikirin apa sih?"


Deka mengajak Milla duduk di sofa yang ada di kantor Milla.


"Em, itu tentang asistenku."


"Si Albert itu?"

__ADS_1


Milla mengangguk.


"Hhhmm, kamu binggung kemana perginya dia?"


Milla mengangguk lagi.


"Sebentar lagi kita akan tahu jawabannya. Jika dia tidak hadir saat rapat, semuanya jelas."


"Jelas gimana maksudnya?"


"Jelas kalau dia mengkhianatimu."


Milla langsung terkejut mendengarnya.


"kalau gak percaya, lihat aja nanti pas rapat. Lagipula kamu tahu kondisi kantormu saat ini?"


Milla menggeleng. Mana mungkin dia bisa tahu.


"Kantormu terlihat seperti tidak pernah di gunakan orang beberapa hari. Meja tempat dudukmu terlalu bersih untuk seorang CEO perusahaan ini."


"Bisa jadi dia mengerjakan semuanya di rumah." Milla terlalu takut pada kenyataan.


"Yah, percuma aku banyak komentar kalau tak punya bukti. Kita lihat saja nanti saat rapat. Sebelum itu, Biarkan aku memangil bawahanku, Leo."

__ADS_1


Deka langsung menelpon Leo untuk datang. Tak sampai sepuluh menit, Leo sudah sampai di kantor Milla. Lima menit lagi, rapat akan dimulai seperti yang Deka mau tadi.


Ketiganya langsung berjalan ke ruangan lain yang digunakan sebagai tempat rapat. Di dalam ruangan, Deka lagi-lagi dibuat terkejut.


"Bajingan," Umpat Deka.


Leo yang berjalan dibelakang Deka ikut terkejut. Dia tidak menyangka perusahaan ini sudah separah ini. Saat CEO menyuruh rapat penting, malah tidak ada satupun yang datang. Ruangan itu kosong melompong hanya ada seorang wanita resepsionis yang tadi ada dibawah. Raut wajahnya sudah pucat pasi.


"Kenapa, Deka?" Tanya Milla binggung. Tiba-tiba saja Deka mengumpat.


"Milla, boleh percayakan perusahaanmu padaku? Biar aku bereskan semuanya." Balas Deka menghiraukan pertanyaan Milla. Amarah sudah menggebu-gebu sekarang.


"Eh, bukannya aku sudah bilang semalam. Kalau kamu mau bantu silahkan. Aku akan mendukungmu. aku percaya kamu. Soalnya kamu tahu kan, aku gak bisa ngatur perusahaan."


"Bagus, kamu duduk dulu di sini " Deka menuntun Milla untuk duduk di salah satu kursi yang ada.


"Kamu, kemari." Panggil Deka pada wanita yang daritadi menunduk.


"Ma-maaf, pak. Saya sudah hubungi semuanya tapi semuanya gak bisa hadir." Wanita itu langsung menjelaskan tanpa Deka suruh.


Deka tak berkata-kata. Dia menghembuskan nafas kasar.


"Hubungi mereka lagi, dan bilang mereka semua dipecat. Begitu pun dengan karyawan yang membolos hari ini. lakukan hal yang sama." Titah Deka pada wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2