
"Hei tidakkah kau mend-"
Bruak, pintu kamar terbuka. Sepersekian Detik, Deka dan tiga orang dikamar itu saling tatap. Tangan Deka reflek terangkat.
Dor, dor. Dua peluru langsung melesat ke arah dua pria yang berhadapan langsung dengan Deka. Belum sempat sadar akan situasinya, satu orang langsung terkapar. sementara pria di sebelahnya terjatuh memegangi kakinya.
"Aaaaaa,,,,,,kakiku!" Teriak pria itu saat darah mengalir dari kakinya. Sementara satu pria lagi yang berada di atas kasur langsung tiarap ke bagian kasur yang berseberangan dengan Deka.
Tanpa ada rasa takut, Deka berjalan mendekati pria yang kesakitan itu.
"Kak-"
Dor, Sebuah peluru melesat tepat mengenai tempurung kepala pria itu. Namun tiba-tiba sebuah vas bunga terlempar ke arah Deka. Deka reflek menghindari vas itu ke arah samping. Tapi nampaknya itu bukan sebuah serangan utama. Pria yang tadi bersembunyi di sebelah kasur, melompat ke arah Deka.
Deka yang tak sempat menghindar menahan pria itu dengan tubuhnya sendiri. Terjadilah tabrakan antara keduanya. Baik Deka dan pria itu sama-sama terjatuh di lantai. Pistol yang tadi Deka pegang terlempar cukup jauh dari Deka. Sadar akan kesempatan, pria itu berinisiatif menyerang Deka duluan.
__ADS_1
Sesaat keduanya baru berdiri, sebuah jap lurus di layangkan pria itu. Namun Deka berhasil membaca pergerakannya sehingga mampu ia hindari. Saling adu pukulan pun terjadi. Dari lima pukulan yang Deka layangkan, hanya dua yang mengenai pria itu. Sedangkan dari 7 pukulan pria itu, tak ada satu pun yang mengenai Deka.
Seakan tahu kalah teknik dengan Deka, pria itu mengambil jarak antara dirinya dan Deka. Saat jarak terbuat, pria itu memegang hidungnya. Terlihat darah segar menempel tangannya. Dua serangan Deka tadi ternyata berhasil membuat hidung pria itu mengeluarkan darah.
"Bos," Teriak dua anak buah Deka dari luar kamar. Dari suaranya terdengar seperti mereka sedang berjalan mendekat.
Melihat celah fokus Deka yang terbagi, pria itu kembali bergerak. Kali ini ia tidak menyerang Deka. Dia malah berlari ke arah samping. Nampaknya pria itu berusaha mengambil pistol Deka tadi yang sempat terlempar.
Bukannya berusaha menghentikannya, Deka malah mengambil sebuah pemanas air di sebalahnya. Dilemparnya pemanas itu sambil bergerak mendekati si pria. Seakan tak pernah gagal, pemanas itu berhasil mengenai kepala pria itu. Hal itu membuat si pria terdiam di tempat sebentar. Dan sepersekian detik kemudian, Deka sudah berhasil berada dalam jangkauan tinjunya. Satu buah jap keras coba Deka layangkan.
Dan saat yang sama, dua anak buah Deka sudah masuk ke dalam kamar. Mereka langsung berjaga di sisi Deka mengacungkan senjata mereka ke arah si pria.
Meski sempat kehilangan keseimbangan akibat tendangan Deka barusan, Pria itu mampu berdiri kembali. Terlihar bibirnya juga mengeluarkan darah.
"Cuih," Pria itu membuang darah yang ada di mulutnya.
__ADS_1
"Sial*n! Siapa sih kalian ini?! Datang-datang langsung main asal menyerang saja. Kalian tidak tahu siapa aku? Aku jen-"
"Aaaaa,,,,, Mataku!!!!" Teriak pria itu sebelum sempat melanjutkan. perkataannya.
Sebuah pisau menancap tepat di mata kiri pria itu. Terlihat tangan Deka menjulur ke depan tepat sebelum kalimat pria itu rampung. Hebatnya Deka melempar pisau itu tanpa perlu melihat wajah pria itu. Sebab pandangan Deka terfokus pada sosok yang ada di atas kasur.
Sesuatu yang membuat Deka benar-benar murka. Bahkan dua bawahan Deka reflek mundur satu langkah saat Deka melempar pisau itu tiba-tiba. Tanpa babibu Deka mengambil alih pistol yang dipegang anak buah di sebelahnya.
Dor, dor, dor. tiga peluru melesat mengenai kaki si pria.
"AAAAAAaaaaa,,,, Anj*ng lu. Bangs*t, sakit!" Teriak pria itu memaki-maki Deka.
"Lumpuhkan Dia. Pastikan dia tetap HIDUP! Jika dia mati, kalian akan menyusulnya." Ucap Deka dengan penuh penekanan lalu mengembalikan pistol itu dan berlari ke sisi kasur.
Perasaan marah yang tadi timbul pada Deka perlahan lenyap. Ada hal yang lebih penting dari itu. Di atas kasur Deka melihat kondisi Milla yang hanya mengenakan paikain dalam saja. Deka langsung sigap mengambil selimut untuk menutupi tubuh wanita di depannya. Tanpa pikir panjang, dia langsung menggendong wanita itu dan berjalan keluar.
__ADS_1