
"Baguslah," Deka bersyukur Milla suka masakannya.
"Nyam,, nyam,,, oh, iya, apa yang tadi siang kamu bicarakan sama paman?" Tanya Milla sembari mengunyah makanan dalam mulutnya.
Deka tak mengubris pertanyaan Milla dan malah lanjut menyuapi Milla. Sampai tiga kali suapan Deka diam saja. Merasa diacuhkan, Milla menutup mulutnya rapat-rapat tak mau menerima suapan Deka.
"Jawab dulu, baru aku mau makan lagi."
Deka sedikit terhibur dengan kalakuan Milla. Baginya ancaman Milla malah membuat wanita itu terlihat menggemaskan.
"Kalau lagi makan gak boleh ngomong." Deka mencari alasan lain agar tidak menjawab pertanyaan Milla.
"Ih, ngeselin!" Milla melipat kedua tangan di dada.
Melihat itu malah membuat Deka cekikikan. Ada rasa kesenangan tersendiri saat menganggu wanita itu.
"Malah ketawa lagi, gak lucu tahu!" Kesal Milla.
"Iya, iya. Aku cerita nih."
__ADS_1
Milla langsung kembali antusias.
"Tapi habisin dulu nasi gorengnya." Sambung Deka membuat Milla lemas kembali. Tapi walau begitu, Milla tetap lanjut makan bahkan sampai nasi gorengnya habis. Deka yang awalnya hanya bercanda langsung mati kutu. Dia kira Milla bakal berhenti saat setengah porsi piring. Tapi wanita itu ternyata lebih tangguh daripada yang Deka bayangkan. Milla sanggup menghabisi satu piring penuh nasi goreng buatan Deka.
"Mana lagi?" Tanya Milla saat Deka tak menyuapinya lagi.
"Huh, udah habis." Deka membenturkan sendok dengan piring agar Milla percaya kalau piring ditangannya sudah habis.
"eh, dikit banget kamu masaknya." Andaikan Milla melihat satu porsi yang tadi Deka buat, wanita itu pasti akan merasa malu.
"Mau aku masakin lagi?"
Deka menaruh piring yang ia pegang ke atas meja.
"Aku cuma ngomong mau bantu kamu dapetin perusahaan kamu. Itu aja sih kayaknya."
"Eh, tahu dari mana?"
Milla terkejut saat tahu, ternyata Deka tahu kondisi perusahaannya. Sebenarnya Milla ingin minta tolong Bcahsmid perihal perusahaannya. Soalnya Milla tidak terlalu paham masalah hal seperti ini. Dan siapa sangka kalau Deka malah mengajukan diri.
__ADS_1
"Hanya sekedar alibiku. siapa sangka kalau itu benar." Deka sedikit berbohong karena aslinya di tahu itu semua dari Leo.
"Apa yang mau kamu lakukan? Tidak mudah mengembalikan perusahaan itu. aku sudah kehilangan kontak dengan para petinggi perusahaan. Dan kuyakin ada beberapa investor yang mencabut sahamnya dari perusahaan." Milla terdengar sangat pesimis dalam urusan ini.
Bagaimana tidak pesimis, Milla saja tidak punya basic dalam memimpin perusahaan. Setelah lulus SMA, Milla tak pernah belajar dari ayahnya cara mengatur perusahaan. Jadi, semenjak ayahnya meninggal dan dirinya mengalami kebutaan, Milla menyerahkan semuanya kepada Albert.
"Hhmm, aku punya beberapa rencana. Jadi, kamu gak perlu khawatir." Balas Deka yang sudah tahu garis besar kondisi perusahaan Milla saat ini.
"Kamu yakin?"
Deka tersenyum. Saat orang lain meragukannya, itulah saat yang Deka sukai. Dia jadi terpacu untuk membuktikannya.
"Tentu, Milla. Aku berjanji akan mengembalikan perusahaan kamu seperti semula." Deka memegang tangan Milla seakan tengah memberikan aura percaya diri dalam dirinya.
Milla membalas genggaman tangan Deka.
"Terimakasih banyak, Deka. Kamu sudah menolongku berkali-kali. Aku gak tahu apa jadinya, kalau gak ada kamu di sini."
"Tak masalah. Aku hanya merasa memang harus melakukan ini."
__ADS_1