Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
67. Para tahanan


__ADS_3

Drrttt, drrrttt, sebuah jam weeeker berbunyi. Sebuah tangan meraba-raba jam itu agar bisa segera berhenti. Setelah bergulat cukup lama, akhirnya jam itu berhenti berbunyi dan sayangnya hal itu juga meembuat orang tadi terbangun.


Deka mengerjapkan matanya. Tangan kanannya terasa keram seperti habis tertindih sesuatu, Saat Deka menengok ke sebelah kanan, dia langsung terkejut. Dia baru sadar kalau semalaman ini ia habiskan dengan wanita yang sedang memeluknya ini.


Pria itu terseenyum bahagia. Ini adalah pengalaman pertama dalam hidupnya dan ia rasa, dia tak menyeesali perbuatannya semalam. Lagipula Milla sudah memberikannya izin. Jadi, tak masalah. Deka menatap wanita yang masih terlelap itu. Tangan Deka menggeser poni yang menghalangi wajah si wanita. Memandanginya membuat Deka selalu terkesima.


"Aih, aku masih tak percaya semalam aku menghabiskan malam dengan bidadari sepertinya." Gumam Deka sembari terkekeh. Bayangan tentang malam panasnya terlintas dalam benaknya. Dia tak habis pikir kalau wanita yang itu bisa sangat kuat semalam.


"Gadis kuat sepertimu memang pantas jadi istriku." Ungkap Deka pelan masih memndangi wajah Milla.


Dari tidurnya, Deka tahu kalau wanita itu pasti sangat kelelahan. Tentunya karena malam panjang yang mereka berdua lewati. Oleh karena itu Deka tak mau membangunkan Milla meski sekarang sudah mau siang.


Deka mengecup kening Milla. Lalu pelan-pelan ia melepaskan diri dari pelukan Milla. Ada hal yang harus dilakukan olehnya. Setelah berhasil lepas dari peluka Milla, Deka terkejut dengan penampakan sekitar kasur. Begitu berantakan. Baju dan celana yang tadi ia kenakan berserakan tak karuan.


"Ais, brutal sekali aku semalam." Pikir Deka menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


Deka beranjak dari kasur menuju sebuah lemari pakaian yang tak jauh dari sana. Dia mengambil sebuah bathrobe dan langsung mamakainya. Kemudian Deka mengambil ponselnya yang semalam jatuh ke atas lantai.


Saat membuka ponsel, terlihat beberapa panggilan terlewat dari Leo semalam. Deka langsung menghunbungi kembali Leo. Dia ingin tahu kondisi orang-orang itu. Sembari menunggu panggilannya di angkat, Deka berjalan ke arah dapur. Dia hendak membuat secangkir kopi.


"Selamat pagi, bos. Ekhm, bagimana malam indahnya?"-Leo.


"Hei, hei, apa lidahmu ingin kubelah jadi dua?"-Deka.


"Hahahaha, ampun, bos. Aku hanya bercanda. Lagipula kemana saja anda semalaman? Menelpon saya, tapi tiba-tiba menghilang."-Leo.


"Itu bukan urusan mu. Bagaimana keadaan bajingan-bajingan itu?"-Deka.


"Aman, bos. Semuanya sudah kami tahan di kepolisian terdekat."-Leo.


"Hhmm, berapa orang totalnya?"-Deka.

__ADS_1


"Ada 25 orang, bos."-Leo.


"Apa mereka orang-orang si Agatha?"-Deka.


"Benar, bos. Kita menahan lima orang yang dekat dengan Agatha. Satu orang, kami tahan di rumah sakit orang yang anda beri kesempatan untuk hidup. Sisanya adalah karyawan hotel."-Leo.


"Bagus. Apa mereka melawan saat kamu bawa?"-Deka.


"Iya, bos. Terutama si Agatha dia orang yang paling tidak terima. Sesaat kami membawanya ke kantor polisi, pria itu mengancam akan menuntut kita."-Leo.


Deka mengaduk gelas kopinya sembari berjalan ke arah balkon. Dia membuka pintu balkon dan duduk di kursi yang ada di sana.


"Untuk hukumannya, Kita apakan mereka? Apakah pakai cara biasa?"-Leo.


Cara biasa yang Leo maksud di sini adalah menyiksa orang-orang itu sampai mereka sendiri yang minta untuk dihabisi. Menyiksanya pun bisa dengan berbagai macam cara. Tentunya setiap caranya memiliki tingkat sakit yang berbeda.

__ADS_1


"Tak perlu. Kita bukan sedang berhadapan dengan para mafia dunia bawah. Akan terlalu nyaman bagi mereka jika kita melakukan itu. Kita bebaskan saja mereka 1x24 jam."-Deka.


"Oke, bos. Nanti langsung saya ekse- Eh, apa saya gak salah dengar, bos? membebaskan mereka begitu saja?"-Leo.


__ADS_2