
Wanita itu semakin ketakutan. Sebenarnya dia sudah menerima uang lembur untuk kerja hari ini dari para atasan. Tapi kini melihat emosi Deka begitu meluap-luap membuat dia tak mampu melawan.
"Baik, pak. Segera saya sampaikan." Jawab wanita itu lemas. Wanita itu langsung izin meninggalkan ruangan tersebut untuk menyampaikan yang diminta Deka.
Milla yang tengah duduk hanya bisa terdiam. Mendengar Deka murka seperti itu membuat bulu kuduk Milla merinding. Sisi Deka yang seperti ini tidak pernah bisa Milla bayangkan.
"Leo, siapa di antara para muse yang ada di sekitar sini?" tanya Deka pada Leo yang berdiri dibelakangnya dari tadi.
"Mungkin hanya ada dua saja, bos. Tapi jika bos mau menunggu sebentar, kita bisa memanggil semuanya." Jawab Leo yakin. Tidak seperti biasanya yang menyepelekan beberapa hal. Kali ini Leo terlihat sangat serius. Tentunya adalah karena Deka tiba-tiba mengatakan Muse padanya.
Muse adalah sembilan orang petinggi yang memegang kekuasan penuh dalam organisasi El Scorpio rojo. Tak hanya petinggi, meereka adalah teman sedarah dan seperjuangan Deka yang akan selalu setia pada Deka. Oleh karena itu, saat Deka berkata tentang muse, Leo langsung serius. Jabatan para muse ini hampir setara dengan Deka dalam organisasi.
"Tidak, panggil saja yang bisa kemari. Aku akan tunggu di sini." Ucap Deka sembari memberikan kode tangan seakan menyuruh Leo untuk menunggu diluar. "Kabari aku kalau mereka sudah datang."
"Baik, bos." Leo langsung keluar meninggalkan Deka dan Milla di dalam sana.
__ADS_1
"huh, maaf aku menunjukkan kemarahanku di depanmu." Ucap Deka sembari berjongkok di depan Milla. Deka mencium punggung tangan Milla.
Sontak Milla langsung salah tingkah dibuatnya.
"Ya tuhan, kenapa pagi ini jadi seperti ini? Kenapa dia manis sekali?!" Batin Milla tak bisa berkata-kata membalas perlakuan Deka. Milla merasa menjadi ratu saat ini. Dia merasa Deka sangat memperhatikannya bahkan meminta maaf dengan cara seperti ini.
"Albert tidak datang. Nampaknya dia sudah kabur. Para petinggi lain juga menghilang. Maaf aku tadi kelewatan, tapi bisakah kita pecat mereka semua?" tanya Deka menyesali apa yang dikatakan beberapa saat yang lalu.
Milla semakin salah tingkah dibuatnya. Entah kenapa terasa panas sekali rasanya.
"Terimakasih. Kamu gak perlu khawtir, posisi merek akan segera tergantikan. Tak apa kan menaruh orang-orangku di perusahaanmu? Ini hanya sementara saja sampai perusahaanmu mulai normal lagi."
"tentu, aku percaya padamu." bagi Milla, mungkin ini adalah satu-satunya cara agar perusahaannya dapat kembali normal. Dia memang tidak pernah mendengar Deka menjalankan perusahaan. Tapi, setidaknya Milla percaya Deka tulus menolongnya.
Deka tersenyumnya. Kali ini Milla tidak meragukannya. Hal itu membuat Deka tersentuh. Mungkin kedepannya, secara perlahan Deka akan mengungkapkan jati dirinya.
__ADS_1
"Ekhm, bos, maaf mengganggu, tuan Clio dan tuan Erato. sudah di bawah. Langsung suruh naik saja?" Leo memastikan.
Deka yang mendengar itu langsung berdiri.
"Tentu, bawa mereka ke sini." Jawab Deka menyuruh Leo untuk membawa mereka masuk.
Leo mengangguk dan langsung turun ke bawah mengerjakan apa yang Deka suruh.
"Siapa mereka?" Tanya Milla penasaran.
"Ah, mereka anggota keluarga ku." Jawab Deka penuh arti.
Tak lama, Leo sudah kembali dengan dua orang pria membututinya.
"Salam Hormat untuk Rey Del Desierto." Ucap dua pria yang berjalan di belakang Leo.
__ADS_1