Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
84. Bangun Tidur


__ADS_3

Milla mengerjapkan mata perlahan-lahan. Saat kesadarannya masih setengah, ia merasakan sebuah tangan menghimpitnya. Dan saat ia meraba sisi sebelah tempat ia tidur, ia merasakan gumpalan otot dan hembusan nafas mengenai kepalanya. Seketika itu juga kesadarannya langsung terkumpul sempurna.


Dirinya tak menyangka kalau semalaman ini di habiskannya dengan tidur bersama Deka dalam satu ranjang yang sama untuk kedua kalinya. Meski cukup terkejut, Milla tetap bersikap santai. Dia meraba-raba bagian tubuh Deka hingga ia sampai ke bagian wajahnya.


"Hhhmm,,, apakah ini wajahnya?" Batin Milla saat tangan menjelajahi wajah Deka perlahan-lahan agar Deka tidak bangun. Saat menyentuh bagian bibir, wajah Milla langsung memerah. Kejadian semalam tiba-tiba terbayang di otaknya.


Bagaimana gentle nya Deka menciumnya kembali terbayang dalam benaknya. Lalu, dia juga terbayang bagaimana kalanjutan setelah itu yang membuat hati Milla langsung berbunga-bunga seketika itu juga. Sudah lama rasanya dia tidak merasakan hal seperti ini.


Saking malunya, Milla menarik tangannya. Dia takut semakin lama dia meraba, semakin salah tingkah dia nantinya. Jadi, Milla memutuskan untuk membenamkan wajahnya ke dada bidang Deka. Pria itu nampak masih tertidur menghadap ke arah Milla.


"Dasar pria nakal," Gumam Milla memeluk Deka setelahnya. Milla akhirnya memilih untuk ikut berbaring lagi menemani Deka dengan perasaan yang dirinya sendiri bahkan binggung perasaan apa ini. Apapun perasaan yang bersemayam ini, Milla tak peduli. Intinya pagi ini, dia merasakan moodnya sangat bagus.


Tak lama berselang, Milla ikut tertidur kembali dengan posisi saling memeluk satu sama lain antara dirinya dan Deka. Keduanya nampak seperti sepasang kekasih yang sebenarnya.


Namun di saat yang bersamaan, di meja makan, Eny terlihat tengah sibuk menyiapkan sarapan untuk yang lain. Dia di tolong oleh dua orang pembantu yang tengah terlihat sedang di dapur menuangkan beberapa hidangan lain di atas piring.

__ADS_1


Meski sudah tak muda lagi, Eny masih tetap cantik dan bersemangat dalam hal memasak. Baginya memasak untuk keluarga adalah segalanya. Jadi, itulah alasan kenapa dia tetap membantu di dapur meski sudah punya dua pembantu.


Tapi meski semua hidangan sudah hampir siap, belum ada tanda-tanda yang lain akan menghampiri. Hal itu membuat Eny tersenyum senang.


"Aih, dasar pengantin baru. sudah jam segini masih belum bangun juga?" Gerutu Eny selesai menata semuanya di atas meja.


"Tolong, sisanya urus ya. Saya mau panggil yang lain dulu." Titah Eny pada dua orang pembantunya.


"Baik, nyonya." Balas kedua pembantu itu melanjutkan aktifitas mereka.


Tok, tok, tok.


Eny mengetuk pintu kamar anaknya. Namun tak ada respon yang di dapatkan. Terpaksa dia membuka pintu yang kebetulan tidak dikunci dan masuk ke dalam kamar anak laki-lakinya. Kamar yang luas itu terlihat sangat berantakan dari saat terkahir kali ia ke sana. Namun dia mencoba untuk menghiraukan semua itu sesaat ini saja. Tujuannya saat ini adalah membangunkan El.


"Kak, ayo bangun. Udah siang." Ucap Eny sembari mengambil beberapa barang yang jatuh dari atas meja. Kamar El benar-benar terlihat seperti kapal pecah. Semua benda berserakan di atas lantai.

__ADS_1


"El,,,,,!" panggil Eny lagi, kali ini sedikit lebih keras. Dia mencoba membangunkan anak laki-lakinya itu. Namun yang di atas kasur tak bergeming sama sekali. tak kehabisan akal, Eny membuka gorden agar cahaya dapat masuk ke dalam. Lalu, menggerakkan tubuh El yang ada di baling selimut.


"El,,,, Ayo bangun,,,!" Usaha Eny mendapatkan kemajuan. Terlihat pergerakan pada bagian dalam selimut.


'Iya,,,,, m,,,aaa,,,. Hoooaaam,," Jawab El dari balik selimut. Pria itu masih berada didalam selimut enggan keluar dari sana. Nampaknya dia sudah sangat bersahabat dengan selimut itu.


"Hadeh,,,, pantesan kamu jomblo terus, kalau bangun pagi aja susah. Keburu diambil orang lain tuh cewek-cewek," Ungkit Eny memancing anaknya agar bangun.


Hal itu ternyata efektif. Tak butuh waktu lama, El langsung duduk meski wajahnya masih terlihat mengatuk.


"Ayo, buruan,,,, mama udah masak itu. Keburu dingin ntar. Ayo!" Eny menarik lengan putranya agar keluar dari kasur. Layaknya kukang, El perlahan-lahan turun dari kasur dan mengikuti mamanya menuju meja makan.


"Hoooamm,,,,," El mengerak-gerakkan badannya agar tidak kaku sembari mengekor pada sang mama. Keduanya melewati kamar yang tempati oleh Milla dan Deka. Dan bertepatan saat itu juga, pintu kamar itu terbuka.


"Pagi, tante." Sapa Deka saat membuka pintu sudah ada Eny dan El di hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2