
"Valeene, apa benar aku sudah cantik?" tanya Milla untuk kesekian kalinya pada Valeene.
Mereka berdua sedang menaiki sebuah mobil yang akan mengantarkan mereka ke tempat makan malam bersama Agatha diselenggarakan.
"Iya, nona. Anda sudah sangat cantik. Kombinasi warna gelap dari dress anda dengan kulit anda membuat penampilan anda lebih menarik. Tidak perlu khawatir, anda adalah tuan putrinya malam ini." Jawab Valeene mengamati penampilan Milla dari ujung kaki hingga ujung rambut.
Seharian ini Valeene sudah menemani Milla berdandan dan membeli pakaian untuk malam ini. Meski terkesan melelahkan tapi Valeene tetap bersyukur. Karena dari pekerjaan mengawal Milla ini dia bisa dapet tunjungan liburan gratis dari bosnya. Tentu hanya menjadi pengawal adalah hal sepele.
"Anda memang cantik, nona. Sayangnya malam ini adalah malam terakhir kita bertemu. Terimakasih sudah sempat menghubungi bos genit itu, aku jadi bisa liburan sejenak." Batin Valeene kegirangan membanyangkan liburan gratis yang menantinya.
Lamunan Valeene sayangnya harus terhenti karena ternyata mereka sudah sampai di lokasi tujuan. Keduanya langsung turun dari mobil memasuki sebuah lobi hotel bintang lima. Di dalam mereka langsung di sapa oleh para karyawan dengan ramah. Valeene yang tak mau membuang waktu langsung meminta salah seorang karyawati mengantarkan Milla ke tempat janjiannya dengan Agatha.
"Kamu tidak ikut Valeene?" Heran Milla saat tahu Valeene hanya mengantarnya sampai lobi saja.
__ADS_1
"iya, nona. saya mohon maaf tidak bisa mengantarkan nona sampai ke atas. Saya tidak diperkenankan ikut pertemuan itu, nona." Jawab Valeene dengan senyum lega.
"Tapi bohong, hahahaha. Buat apa aku mengatarmu sampai sana. Lebih baik aku istirahat untuk keberangkatan liburan ku besok." Batin Valeene.
"Baiklah, hati-hati di jalan Valeene." Balas Milla seraya melanjutkan langkahnya mengikuti arahan karyawati disampingnya.
"Tentu, nona."
Milla sendiri sudah berada di lift bersama karyawati tadi. Milla sempat bertanya tadi, ternyata mereka akan pergi ke lantai 7, lantai paling atas, tempat restoran bintang lima milik hotel ini. Saat dalam lift itu tiba-tiba Milla teringat sesuatu. Dia lupa tak mengabari Deka. Mungkin lebih tepatnya tak sempat kerena seharian ini dia fokus bersolek dan tak sempat balik ke mansion. Tapi yasudahlah, lagipula Milla hanya akan membahas bisnis di sini lalu pulang.
Teng, Pintu lift terbuka. Karyawati itu membawa Milla berjalan masuk ke dalam restoran. Saat masuk ke dalam sana Milla tak mendengar suara orang-orang makan atau kebisingan layaknya warteg tempo hari. Rasanya restoran ini begitu sepi. Namun saat mesuk lebih dalam, barulah Milla mendengar beberapa suara tawa. Ada suara yang sangat familiar di telinganya.
"Permisi, tuan. Saya membawa nona Milla kemari," Ucap karyawati yang mengantar Milla saat berada di sebuah meja berbilik yang ada di ujung resotran itu.
__ADS_1
"Ha-halo," Sapa Milla menahan perasaan gugupnya.
Semua orang yang duduk di sekitar meja itu terdiam memandangi Milla. Dress hitam yang Milla pakai benar-benar berhasil membuat orang-orang itu terpukau.
"Ah, terimakasih, ini tip untukmu." Ucap salah seorang pria yang sangat dikenali suaranya oleh Milla sembari memberikan sejumlah uang pada karyawati itu.
"Selamat malam, paman Agatha." Sapa Milla terlebih dahulu. Karyawati tadi mengambil uang itu dan pergi meninggalkan Milla.
"Malam juga, Milla. kemarilah, kami semua sudah menunggumu." Agatha berdiri dari kusrsinya dan mengarahkan untuk Milla duduk di kursi yang tadi ia duduki.
Posisi duduk yang sedikit memanjang membuat tempat duduk Milla menjadi sorotan utamanya. Bahkan seseorang yang dari tadi mengamati dari jauh langsung mengambil langkah mendekati Milla.
"Baiklah sebelum kita santap hidangan utamanya, bagaimana kalau kita minum dulu," Ungkap Agatha pada orang-orang yang hadir di sana sembari mengangkat gelas mereka.
__ADS_1