
"kak, tolong jangan kasar seperti itu." Milla langsung menengahi Deka dan El agar keduanya tidak bertengkar. "yang dikatakan Deka memang benar. Aku dan dia memang sudah menikah."
Milla mengangkat jarinya yang tersematkan oleh sebuah cincin. Selama ia menikah dengan Deka, wanita itu memang tidak pernah sekalipun tidak memakai cincin itu. Pria yang ada di depannya langsung mematung tak mampu berbicara apapun. Fakta yang ada di depannya langsung menguncangnya.
"Ta-tapi kapan itu? Kamu gak pernah bilang ke aku, Milla." El mencoba agar kenyataan bahwa Milla sudah menikah adalah kebohongan.
"Aku sudah mengatakannya pada paman, kak. Aku gak bisa hubungin kakak secara langsung karena bukannya kakak sendiri yang bilang kalau ada apa-apa bilang saja ke paman."
Selintas bayangan ucapan beberapa tahun lalu lewat dalam benak El. Di mana saat itu ketika ia hendak berangkat pergi ke luar negeri untuk melanjutkan kuliahnya.
Sebelum berangkat dia sempat berpesan pada Milla untuk jangan menghubunginya dengan maksud membuat Milla galau atas kepergiannya. Sebab pada saat itu hubungan keduanya sedang kurang baik karena dia kecewa pada yang Milla malah berpacaran dengan orang lain.
Tapi ternyata rencananya gagal total. Pilihannya untuk tidak menghubungi Milla malah membuat Milla memilih pria lain. Bahkan memilih pria yang tidak ia kenal.
"Dia benar, El. Pria itu adalah suaminya." Ucap seseorang dari belakang.
Orang itu berjalan medekat bersama dengan seorang wanita dan dua orang pria.
"Paman!" Panggil Milla antusias. Meski tidak bisa melihat siapa yang datang, Milla sudah mengenali milik siapa suara berat itu.
Perempuan yang tadinya berjalan di samping Bachsmid langusng berlari ke arah Milla dan memeluknya.
__ADS_1
"Halo, Milla. Aku sungguh bersyukur kamu baik-baik saja." Perempuan itu langsung menangis sembari mengusap belakang kepala Milla.
"Tante Eny," Balas Milla membalas pelukan perempuan itu.
Bachsmid mendekat kearah istrinya dan Milla. Dia terlihat senang melihat Milla baik-baik saja. Bachsmid kemudian melanjutkan langkahnya ke depan Deka. Dia langsung memeluk Deka.
"Terima kasih banyak. Jika tidak ada kamu, aku pasti akan menyesal seumur hidupku." Ungkap Bachsmid tanpa bisa menahan air matanya. Deka yang awalnya terdiam, menepuk-nepuk punggung Bachsmid.
"Anda tak perlu berterima kasih kepada saya. Ini memang hal yang harus saya lakukan." Balas Deka.
Bachsmid melepaskan pelukannya dengan perasaaan lega.
Sementara itu, Eny memeriksa anggota tubuh Milla satu persatu dengan seksama.
"seperti yang tante lihat saat ini, aku baik."
Eny menghembuskan nafas lega. Dia menoleh ke belakang.
"Gimana kalau dilanjut didalam saja?" Saran Eny mengajak Milla untuk masuk ke area cafe yang tak jauh dari sana.
"Boleh, biar aku ajak Deka juga ke sana."
__ADS_1
"tak perlu. Biarkan dia bersama pamanmu dan El saja."
Milla mengiyakan dan mereka pun berjalan ke arah cafe terdekat. Deka yang melihat pergerakan Milla langsung mengisyaratkan untuk Leo dan dua orang anak buahnya yang tadi ikut bersama dengan kedua wanita itu.
"Tak perlu khawatir, di sini aman." ucap bachsmid yang melihat anak buah deka tiba-tiba bergerak mengikuti langkah istrinya dan Milla.
"Hahaha, kita tidak ada yang tahu." Balas Deka tak beranjak dari tempatnya. Deka merasa dia dibutuhkan dalam percakapan kedua pria di depannya itu.
Setelah Milla, Eny, Leo dan bawahan Deka berjalan cukup jauh, Deka berjalan mendekati El.
"Sudah tenang sekarang. Apa ada yang ingin kau sampaikan?" Tanya Deka pada El tepat di depan mukanya. Alasan Deka tidak ikut dengan Milla tak lain karena pria bernama El ini. Semenjak Milla dan bahsmid mengatakan bahwa Deka dan Milla sudah menikah, pria ini langsung mengubah caranya memandang Deka.
"Baj*ngan!" Umpat El sembar melesatkan satu pukulan ke wajah Deka.
Namun deka bukanlah tipikal orang yang mudah untuk dipukul. Dengan satu elakan, Deka dapat menghindari pukulan El dan malah mengembalikan pukulan itu dengan tangan kirinya.
Bugh, satu pukulan Deka tepat mengenai pipi kiri El membuat pria itu langsung mengambil jarak dari Deka.
"El!!!" teriak bachsmid menghentikan perkelahian keduanya. "Apa kamu gak malu! Dia adalah orang yang nyelamatin Milla, ini balasan yang kamu kasih?"
Bachsmid memang sudah menduga kalau anaknya itu sangat marah pada Deka. Tapi dia tidak kepikiran sampai anaknya itu berani menonjok Deka meski tidak kena.
__ADS_1
El yang mendengar teriakan dari ayahnya tiba-tiba saja lemas. Pria itu langsung terduduk di atas tanah. Seketika itu air matanya mengalir.
"Sialan! Kenapa? Kenapa aku selalu terlambat mendapatkanmu, Milla?!" Batin El patah hati yang paling dalam.