
"Bisa ceritakan sedikit tentang Bachsmid ini padaku?" Tanya Deka saat dirinya dan Milla berada dalam mobil menuju tempat Bachsmid berada. Sementara itu, Leo bertugas jadi supir yang membawa mobil mereka.
"Sebenarnya kalau soal paman, aku gak terlalu kenal. Tapi, aku lebih kenal dengan kak El." Jaeab Milla dengan pandangan lurus ke depan.
Deka mengernyitkan dahinya sambil menatap wajah Milla. Baik tadi sampai sekarang, tatapan Deka tak pernah lepas dari wanita itu.
"El? siapa lagi itu?"
Sebenarnya Deka bisa tahu semua info itu dari Leo. Tapi menurutnya mendengar langsung dari Milla akan lebih baik.
"Dia adalah teman kecilku sekaligus kakaku satu-satunya."
"Bukannya kamu anak tunggal?"
"Maksudku bukan secara darah, tapi aku sudah menganggapnya seperti kakak sendiri. Kami sering main bareng waktu aku masih kecil."
Deka melihat pancaran wajah bahagia saat Milla menceritakan tentang si El ini.
"Kak El ini, anaknya paman Bachsmid. Kami bertemu saat ulang tahunku yang ke-7. Dan sejak saat itu kami sering main bersama. Kami juga sempat satu sekolah meski akhirnya kak El memutuskan pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya." Sambung Milla menceritakan kedekatannya dengan El.
"Oh, sebatas teman kecil saja." Ucap Deka mencoba menahan sesuatu dalam dirinya.
__ADS_1
Leo yang mendengar jawaban Deka seakan-akan tahu apa yang di pendam bosnya itu. Dia hanya bisa tersenyum melihat kondisi itu.
"Aih, kukira bos itu monster. Ternyata masih seorang manusia, ya." Batin Leo yang yakin kalau Deka cemburu dengan pria bernama El ini.
Milla kembali menceritakan beberapa hal tentang El dan keluarganya. Dia menceritakan semuanya dengan semangat menggebu, seolah certanya layak untuk di dengar. Padahal Deka malah muak mendengarnya. Entah kenapa dia merasa ingin memukul pria yang diceritakan olehe Milla jika dia ada di depannya saat ini.
"Ehm, nampaknya kita sudah sampai." Ucap Deka memotong cerita Milla. Tanpa basa-basi pria itu membuka pintu mobil sebab mobil itu memang sudah sampai di tempat tujuan mereka. Tempat mereka berhenti adalah sebuah rest area yang terletak tak jauh dari apartemen Deka.
Deka turun terlebih dahulu baru ia mengenggam tangan Milla untuk menuntun wanita itu turun dari mobil.
Sesaat Milla menapakkan kedua kakinya keluar dari mobil. Sekelibat bayangan dengan cepat berlari ke arah Milla dan langsung memeluknya.
Deka yang ada di sebelahnya lansung terkejut. Tangannya yang satu sudah reflek mencengkram kuat bahu pria itu.
"kak EL?" Balas Milla yang membuat Deka langsung melotot dan melepaskan cengkaramannya dari bahu pria itu.
"Iya, Milla. Ini aku. Maaf aku selalu saja datang terlambat." balas El yang tanpa sadar menitikkan air mata.
Milla membalas pelukan El. Baginya ini seperti sebuah reuni. Sudah berapa tahun mereka berdua tidak bertemu. Dan hal itu membuat Milla ikut larut dalam kesedihan.
"Kakak gak usah minta maaf. Aku baik-baik aja, kok." Milla tahu kalau El ini orang yang sangat sibuk. Jadi, dia tidak mau menyalahkan El yang merupakan sahabatnya tidak ada disaat ia butuh bantuan.
__ADS_1
Saat keduanya menangis dalam pelukannya, Deka malah merasa aneh. Rasanya dia sangat tidak suka melihat pemandangan itu. Padahal hal itu seharusnya wajar terjadi karena menurut cerita Milla saat di mobil mereka belum bertemu sekitar 3 tahunan. Tapi Deka tetap tidak suka saja melihatnya.
Sementara itu, Leo yang ada di samping Deka hanya bisa terkekeh.
"Wih, kapan lagi nih bisa bos kayak gini," Batin Leo menahan suara tawanya takut Deka tahu kalau ia sedang memperhatikannya.
El melepaskan pelukannya. Rasanya kurang etis jika mereka menangis terus. Seharusnya dia membuat Milla tertawa bukan bersedih.
"Sud-"
"Sudah jangan menangis lagi," Deka memotong ucapan El dan bahkan menarik Milla agar berpindah ke dalam pelukannya, seakan sedang menenangkan Milla.
"Hei, siapa kau?!" Tanya El memberikan raut wajah tak suka pada Deka.
Deka yang mendengar itu tersentil emosinya. Bisa-bisanya pria itu menaikkan nada suaranya di dekatnya.
"Ah, maaf-maaf, aku kira kau sudah tahu siapa aku, jadinya aku lupa untuk memperkenalkan diri. Perkenalkan, aku Deka, suaminya Milla."
Deg, jantung El terasa mau copot. Jawaban Deka membuat dirinya syok.
"ja-jangan bercanda! Dasar orang asing! Jika berani bicara omong kosong akan ku potong lidahmu!"
__ADS_1