
Agatha menuntun Milla menuju ke rumah kaca yang sebelumnya tempat Milla dan Deka bertemu. Dalam perjalanan ke rumah kaca, beberapa kali kedua berhenti untuk menyapa orang-orang yang ada di sana. Pria itu bahkan mengenalkan Milla pada orang-orang itu.
Tentunya hal itu dilakukan agar Milla dapat lebih dikenal oleh orang-orang di sana sebab kebanyakan tamu yang hadir di sana adalah orang-orang besar di negara ini. Tapi tentunya tokoh intinya tidak ada di sekitar aula itu. Agatha sudah mengatur untuk mempertemukan para tokoh penting di tempat yang lebih mewah. Dan itu ada di rumah kaca yang saat ini Milla dan Agatha masuki.
Semua orang yang ada di dalam rumah kaca itu seketika berdiri begitu melihat Agatha datang. Mereka juga menundukkan kepala sedikit untuk pria itu. Di dalam sana sudah di siapkan beberapa sofa untuk para tamu VVIP itu duduk. Agatha sendiri duduk di salah satu sofa yang sudah di sediakan bersama dengan Milla. Saat Agatha duduk, barulah orang-orang itu duduk kembali. Nampaknya semuanya yang hadir di sana sangat segan kepada Agatha.
Tanpa ada aba-aba, para pelayan mulai berdatangan memberikan beberapa minuman dan makanan kecil di meja yang ada. Jika melihat dari sudut pandang orang awam, pertemuan mereka seperti pertemuan beberapa petinggi negara yang sedang menentukan nasib bangsanya masing-masing. Hal itu terlibat dari beberapa orang yang terlihat menonjol dibandingkan orang yang di sebelahnya. Secara keseluruhan terlihat ada Lima petinggi yang di sana, terkecuali Agatha dan Milla.
"Wah tak kusangka semuanya bisa hadir kemari. Bukan kah ini seperti deja vu beberapa tahun silam?" Ucap Agatha membuka percakapan awal di antara mereka.
Sontak semuanya tertawa renyah.
"Ah, apakah kau sedang mengejekku?" Tanya balik seorang pria tua yang duduk tepat di depan Agatha. Semuanya menimpalinya dengan tawa kembali.
"Ayolah, pak tua. Kami tahu kau yang paling sibuk di sini. Yah, mengurus para abdi negara memang sangat merepotkan belakangan ini." Timpal seorang pria muda yang duduk disebalahnya.
__ADS_1
"Hei, hei, bukannya kamu yang paling sibuk? Chat ku saja belum di read sampai sekarang." Kali ini giliran seseorang wanita di sebelah kanan Agatha yang menimpali.
Melihat perdebatan kecil itu membuat yang lain tertawa kembali.
"Hahaha, kenapa setiap kalian bertiga bertemu tidak pernah akur, sih? Apakah ini cinta segitiga?" Timpal pria lain di sebelah si wanita itu.
"Hei, jaga. Omonganmu. Mana mau aku sama om-om dan adek kecil seperti mereka. Huh, membuat aku geli saja." Balas si wanita tak terima.
"Eh, walau sudah berumur aku masih kuat loh." Pria tua itu menimpali balasan si wanita.
"Ah aku percaya kau sangat perkasa paman." Pria yang di ledek adek kecil itu malah mendukung si pak tua. Mereka tertawa kembali untuk kesekian kalinya.
"Ah, kalian berlima ini tidak pernah berubah ya." Kali giliran Agatha yang berkomentar.
"Bukan begitu, Joe?" Sambung Agatha sembari melirik ke arah pria di sebelah kirinya.
__ADS_1
Pria yang dipanggil Joe itu tersenyum tipis pada Agatha.
"Hhmm, ku rasa kau benar, tapi nampaknya kaulah yang paling berubah saat ini. Eh, atau tidak berubah sama sekali?" Joe berbalik memandang Agatha.
Mereka berdua saling bertukar pandangan. Hingga akhirnya kedua tertawa bersama.
"Aih, sejak kapan aku pernah berubah, Joe?"
"Benarkah? Lalu?"
Nampaknya Joe sedang menyindir Agatha tentang sesuatu yang ada pada dirinya.
"Aku serius. Tapi jika kalian bertanya siapa bidadari ini? Maka akan ku jawab,,," Agatha mengelus pelan punggung tangan Milla sebagai isyarat.
"Perkenalkan, nama saya Milla Tabitha Eleanor."
__ADS_1