Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
27. Butuh Bantuan


__ADS_3

kret, kret, Milla mematikan keran shower. Dia mengambil sebuah tongkat yang ia letakkan tak jauh darinya. Dan keluar dari kamar mandi.


Milla mengambil handuk di atas kasur yang sudah disiapkan oleh Nana beberapa saat yang lalu sebelum ia mandi dan kemudian mengusap badannya yang masih basah. Meskipun buta, Milla sangat tidak suka menerima bantuan orang lain. Untuk itu, setiap kali akan mandi, dia akan menyuruh semua pelayan keluar. Dia bisa menyelesaikannya sendiri meski akan memakan waktu lebih lama.


Selesai handukan, Milla meraba-raba kasurnya. Di sana sudah ada piyama yang di siapkan oleh Nana. Milla pun mengenakan piyama tersebut.


"Lebih baik aku mengeringkan rambutku dulu," Batin Milla sembari berjalan ke arah meja rias di kamarnya. Milla cukup hafal letak kamarnya jadi tidak terlalu susah baginya untuk mengeringkan rambutnya.


Saat mengeringkan rambut, Milla mendengar suara langkah kaki yang cukup banyak sedang naik tangga. Dirinya nampak berpikir. Sepertinya suara langkah kaki itu bukan langkah kaki para pelayan. Langkahnya terdengar kasar. Saat sedang berpikir, sebuah suara tembakan terdengar di telinga Milla. Sontak Milla terkejut.

__ADS_1


"Ti, tidak mungkin itu suara tembakan bukan?" Tanya Milla panik. Ini bukan pertama kalinya ia mendengar suara seperti itu.


Milla langsung berlari ke arah pintu kamarnya. Meski sempat tersandung, Milla berhasil sampai di depan pintu dengan cepat. Dia kemudian mengunci pintu kamarnya dengan rapat. Kepanikan melanda perasaannya setelah itu. Ia binggung harus berbuat apa. Dirinya yakin suara langkah kaki yang menaiki tangga adalah orang-orang yang mengincar nyawanya.


"Aku harus lari! Tapi, kemana? A, aku tak bisa melihat jalan dengan benar." Batin Milla.


Air mata MIlla jatuh ke pipi Milla. Rasa takutnya begitu besar. Dirinya tak mau mati dengan cara seperti ini. Banyak hal yang harus ia lakukan. Tak boleh. Milla sadar jika ia mati di sini maka orang-orang yang berbuat jahat padanya tidak akan jera. Wanita itu menghapus air matanya. Dia sudah bertekad, dia harus selamat.


Cekrek, gagang pintu kamar milla nampak bergerak. Orang-orang tadi sudah ada di depan kamar Milla. Terdengar orang diluar berbincang-bincang. Milla sadar pintu kamarnya tidak akan bertahan lama. Mereka pasti bisa menerobos masuk.

__ADS_1


Kamar mandi. Itu tempat yang bisa Milla gunakan untuk bersembunyi sembari menunggu bantuan. Ya, Milla harus bersembunyi di sana. Meski masih panik, Milla berjalan menuju kamar mandi sembari menggenggam ponsel miliknya.


Di dalam kamar mandi milla mengunci pintu kamar mandi. Meski kamar mandi itu besar disertai AC, Milla tetap merasa panas berada di sana. Setelah mengunci Milla meraba sekitarnya. Seingatnya ada sebuah lemari berisi alat mandi miliknya. Rupanya itu benar. Ada sebuah lemari yang cukup besar di sana.


Milla pun mendorong lemari itu untuk dijadikan penahani pintu kamar mandi. Butuh tenaga yang banyak, tapi Milla berhasil membuat pintu itu tepat dibelakang pintu. Dan sepertinya itu semua cukup untuk mengulur waktu. Selesai dengan lemari, Milla langsung membuka ponselnya.


Karena Milla tak mampu melihat, ia mengganti model ponselnya. Ia menggunakan ponsel model ketikan yang hanya dia gunakan di saat genting saja. Menurutnya lebih mudah ponsel ini daripada ponsel pada umumnya.


"Ayo dong angkat! Please, aku mohon. Please," Mohon Milla saat nomor telpon sudah ia dial.

__ADS_1


Sayangnya panggilannya tidak ada yang tersambung. Hanya terdengar suara operator yang membalas. Namun Milla tak berhenti, ia tetap hal itu berulang kali. Dirinya butuh bantuan.


"Tuhan, kumohon bantu aku, please! Ak, aku takut. Hiks," Isak tangis Milla meledak seketika panggilan tak kunjung tersambung.


__ADS_2