
Deka melanjukan motor yang ia pinjam dari Altan menyelusuri jalan kota yang tidak begitu padat. Sudah lama sekali dirinya tidak pergi keluar seperti ini. Mengenakan Hoodie berwarna hitam membuat sirinya tampil lebih casual dan tentunya dapat membuat para wanita jatuh dalam pesonanya.
Dengan kecepatan sedang, Deka berhenti di sebuah cafe di tepi jalan. Dia segera memarkirkan motornya dan segera masuk ke dalam. Ia segera memilih tempat duduk yang dirasa nyaman. Karena masih sangat pagi, ia memilih untuk memesan secangkir kopi hitam tanpa gula di dalamnya. Kemudian ia diam di sana melihat ponselnya, lebih tepatnya ponsel pemberian tantenya. Dan sebuah notifikasi muncul pada layar ponselnya.
-Aku akan tiba dalam lima menit.-
-Baik, kau bisa langsung menemukanku begitu masuk cafe. Aku menggunakan jaket hoodie warna hitam.-
Deka membalas chat tersebut sambil menikmati kopinya yang baru sampai di mejanya. Tak perlu menunggu lama, seorang pria berjas hitam datang menghampirinya.
"Apa benar ini dengan tuan Deka," Sapa pria itu dengan sopan kepada Deka. Dia menilai perwakan Deka secara kasar.
"Iya, saya Deka. Dan apa benar ini dengan sekretaris nona Milla?" Balas Deka menyodorkan tangannya, hendak bersalaman. Pria itu membalas jabatan tangan Deka dan mulai menilai perawakan Deka.
'Hhmm, meski benci kuakui, tapi dia tampan. Walaupun perawakannya seperti bukan orang baik. Bahkan auranya lebih mendominasi, apa dia akan mengacau untuk ke depannya? Ah, sudahlah. Aku kan pintar, mana mungkin kalah dengan pria preman sepertinya.' Batin pria itu melepaskan jabatan tangannya dengan Deka.
Penilaian pria itu tentang Deka yang seperti preman memang tidak sepenuhnya salah, khususnya bila dalam pandangan pria. Deka yang memiliki tubuh kekar dan atletis membuat dirinya terlihat sebagai preman di kalangan pria. Namun dalam pandangan banyak wanita, Deka begitu eksotis dan menggiurkan. Selain tubuh yang hampir mendekati sempurna, dia juga memiliki rambut tipis di bagian dagu sehingga menambah nilai ketampanan untuknya. Bahkan dia lebih mirip dengan para aktor luar negeri, seperti Chris Hemsworth yang memainkan peran sebagai thor dalam film Thor.
"Jadi, bisa kita mulai? Atau mungkin kamu mau memesan sesuatu?" Tawar Deka memutuskan keheningan di antara mereka. Dari pakaian yang dikenakannya, Deka dapat menebak pria ini memiliki sebuah jabatan yang cukup bagus di perusahaan calon istrinya.
"Tidak perlu, aku sudah sarapan tadi. Jadi mari kita mulai saja." Tolak pria itu halus. Dia mengambil ponselnya dari balik jasnya. "Baiklah, tuan Deka. Di sini saya Albert sebagai sekretaris nona Milla, akan membacakan beberapa ketentuan yang harus anda pahami sebelum menjadi suami nona Milla."
Deka mengangguk mempersilahkan Albert melakukan tugasnya.
"Baiklah, Deka. Ada beberapa peraturan yang harus kamu ketahui sebelum menikahi nona Milla.
pertama, kamu dan nona Milla tidak akan bertemu sampai pernikahan selesai berlangsung.
Kedua, selama pernikahan tidak ada kontak fisik yang terjadi.
__ADS_1
Ketiga, selama pernikahan kamu diwajibkan untuk tinggal bersama nona Milla.
Keempat, tidak mengganggu urusan masing-masing.
Kelima, yang paling penting, perusahaan pamanmu harus menyongkong perusahaan nona Milla selama pernikahan masih terjadi. " Terang Albert membacakan ucapan bosnya.
"Okey, aku setuju." Jawab Deka singkat. Sebenarnya, semalam dia sudah diberitahu oleh pamannya tentang kesepakatan yang mungkin terjadi. Terlebih pasal nomor 5 yang tepat seperti pamannya katakan. Jadi, deka tidak mempunyai masalah apapun dengan aturan itu.
"Kamu yakin menerima semua peraturan ini begitu saja?" selidik Albert karena tak percaya Deka akan begitu mudahnya menerima aturan ini. Padahal ia sudah siap menyingkirkan Deka bila tak setuju.
"Iya. Bagiku itu semua tidak masalah, jika nona Milla yang meminta."
"Hah, oke, oke. Baguslah kalau kamu gampang menerimanya. Tapi biarkan aku tekankan padamu, jangan berharap apapun dalam pernikahan ini!" Tegas pria itu yang entah mengapa terlihat kesal di mata Deka.
"Apakah itu juga perintah nona Milla?"
Entah mengapa mendengar ucapan pria itu membuat Deka hendak tertawa lepas. Dia paham betul bagaimana penilaian pria itu terhadap dirinya. Deka yakin pria itu beranggapan bahwa dirinya memiliki maksud tersembunyi dalam pernikahan ini. Padahal dia sendiri menyetujui pernikahan ini lantaran terpaksa oleh keadaan.
"Hei, kenapa kamu tertawa? apakah ada yang lucu?" Pria itu tidak terima melihat wajah Deka yang menahan tawa, dia mengira Deka sedang menghinanya.
"Heh apakah aku tertawa?" Tanya Deka karena pasalnya dia tidak tertawa, melainkan menahan tawa. Pria itu hanya menatap Deka tak suka. Entah apa yang membuatnya begitu, tapi Deka sangat yakin pria ini bukan orang baik. "Baiklah, maaf, bila itu mengganggumu. Lalu, apakah ada hal lain yang bosmu ingin sampaikan?"
Deka lebih memilih mengalah. Melawan pria seperti ini hanya membuang tenaganya saja. Jadi lebih baik meminta maaf. Dan bukannya merespon, pria itu malah berdiri dari tempat duduknya.
"Ku harap kau pahami posisimu, jika ingin hidup nyaman di masa depan." Ancam pria itu meninggalkan Deka begitu saja. Dia berjalan dengan perasaan kesal sampai menabrak seorang wanita. Namun bukannya menolong ia malah melanjutkan langkahnya keluar dari Cafe itu.
"Pria brengs*k, bukannya nolongin malah kabur. Dasar sial*n." Umpat wanita itu kepada angin yang lewat karena pria yang ia umpati sudah menjauh. Deka yang sempat melihat kejadian itu, berinisiatif menolong si wanita.
"Hei, kamu enggak apa-apa?" Tanya Deka menjulurkan tangannya membantu wanita itu berdiri. Lantas wanita itu menengok ke arah Deka.
__ADS_1
"Hah, pria tampan!" ucap wanita itu refleks. Dia segera menutup mulutnya begitu menyadari perkataannya kurang sopan. "Ma, maksudku kak Deka?"
"Loh, Dhea?" Deka terkejut ketika sadar ternyata wanita itu adalah adik sepupunya sendiri. Semenjak perkenalan semalam, mereka belum sempat mengobrol dikarenakan Maria menyuruh Deka untuk segera istirahat. Sewaktu pagi pun mereka tidak bertemu karena Deka keluar terlalu pagi dan Dhea belum terbangun dari mimpi indahnya. "Kamu sendirian ke sini? Gak bareng temen?"
Deka membawa adik sepupunya itu untuk duduk bersamamya. Dan kejadian semalam pun terulang kembali. Dhea hanya terdiam dan menunduk tanpa berani menatap wajah Deka.
"Kamu mau makan?" Sambung Deka melihat adik sepupunya masih canggung dengannya. Namun usahanya hanya dihadiahi gelengan semata dari sang adik. "Atau mau aku cium?"
Sontak Dhea terperanjat dan memelototi kakak sepupunya. Meski Deka yang mengucapkannya, tapi Dhea yang merasa malu. Hal itu nampak pada kulit wajahnya yang mulai bersemu kemerahan.
"Hahahaha, bercanda, bercanda. Tapi kalau mau serius enggak apa-apa," Canda Deka diakhiri dengan tawanya yang membuat Dhea sekali lagi terpana. Rasanya sejuk sekali melihat tawa kakak sepupunya. Dan Deka dengan gemasnya mencubit pipi Dhea yang chubby menyadarkan Dhea dari tatapannya.
"Aw, sakit." Ucap Dhea memegangi pipinya.
"Bohong, masak gitu aja sakit." Deka masih mencoba membuat Dhea lebih santai ketika berbicara padanya.
"Ih, ini sakit. Gak ngerasain mana tahu!" Dhea yang tak terima akan cubitan barusan membalas Deka dengan mencubit baliknya dirinya di bagian lengan.
"Aw, aw, ampun, ampun." Rintih Deka memegangi lengannya yang dicubit. Sedangkan Dhea merasa puas melihatnya.
"Rasain." Balas Dhea sambil menjulurkan lidahnya. Meski kesakitan, Deka cukup bersyukur karena akhirnya adik sepupunya mau bicara dengannya. Dengan senyum yang mengembang Deka memegangi tangannya seperti mengalami sakit yang parah.
"Aw, aw." ujar Deka masih dalam posisi memegangi tangannya dalam kondisi terduduk di kursi.
"Heleh bohongan," Dhea tak percaya dengan kelakuan Deka yang masih seperti itu. Namun sedetik, dua detik berlalu, Deka masih dalam posisi yang sama. Hingga Dhea mulai khawatir. "Aduh kak, maaf kalau Dhea nyubitnya kekencengan. Maaf, kak. Mana sini kak coba Dhea liat."
Dengan panik Dhea mencoba melihat tangan Deka. Tetapi bukannya mendengar suara rintihan kesakitan, Dhea malah mendengar suara tawa dari kakak sepupunya.
"Hahahaha, selamat anda kena prank." Kata Deka dengan puasnya begitu melihat muka adik sepupunya yang panik. Beginilah Deka jadinya jika bersama dengan orang yang tepat, konyol dan humoris. Akan berbanding terbalik jika bertemu dengan rekan bisnis.
__ADS_1