
Deka membuka pintu balkon yang terbuat dari kaca. lalu ia masuk ke dalam balkon. Dia mengambil sebuah rokok dan membakarnya untuk ia nikmati.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan. Sudah banyak tamu yang berdatangan ke dalam mansion itu. Dari balkon itu Deka bisa melihat beberapa tamu yang datang. Tentunya dengan gaya glamor mereka masing-masing.
"Hhhffuftth,,," Deka menghembuskan asap rokoknya perlahan.
Jika ini ada dalam negeri dongeng, mungkin party ini akan disebut sebagai undangan dari pihak kerajaan. Dan bisa ditebak kalau isi dari party ini banyak unsur-unsur rahasia. Deka bahkan sempat melihat beberapa tokoh penting negara datang masuk ke dalam mansion. Mobil tamu juga ada beberapa yang menggunakan plat-plat khusus.
"Heh, apakah ini pesta yang menentukan perang ke antar negara?" celetuk Deka sembari memperhatikan setiap orang yang datang.
Deka sendiri sudah siap untuk menghadiri pesta itu meski sebenernya ia enggan. Bahkan ia menentang Milla untuk ikut dalam pesta ini. Tapi wanita itu nampaknya sudah mulai mendapatkan power di sini.
Beberapa menit yang lalu,,,
di kamar yang sama Deka tempati, Milla datang dengan maksud membicarakan tentang rencananya untuk ke depannya.
"Jadi, kau akan ikut dalam pesta ini?" Tanya Deka.
"Iya, aku rasa aku bisa dapat koneksi di sini dan bisa melawan balik."
Deka yakin jawaban Milla itu atas kesadarannya sendiri. Bukan ada pengaruh orang lain.
__ADS_1
"Kau yakin?"
"Iya, Deka. Aku berpikir untuk memperbanyak koneksi dulu. Setidaknya sampai aku tahu siapa lawanku sekarang sekaligus memperbanyak sekutu."
"Hhmm, oke."
"Ka-kau, tak masalah?"
"Tentu. Jika itu keputusan mu maka aku akan mengikutinya."
"Fiuh, kukira kau bakal menolak ide ku ini mentah-mentah."
"It, itu, bagaimana kau tahu?"
"Tak jadi masalah aku tahu atau tidak. Tapi aku hanya mau kau berhati-hati. Baik lawan atau sekutu itu dekat. Mereka benar-benar dekat sampai kita kadang salah."
...****************...
"Tuan Deka, pestanya akan di mulai beberapa menit lagi. Anda bisa bergabung sekarang." Ucap Valeene dari luar kamar.
"Iya, satu batang lagi aku keluar."
__ADS_1
"Baik, saya tunggu di sini."
"Hah," Decih Deka pelan. Dia merasa jadi anak kecil sampai harus di tunggu oleh seorang wanita.
Deka langsung mematikan putung rokok di tangannya dan membuangnya ke tempat sampah. Ia mengambil jas yang ada di kursi dan membuka pintu kamarnya menghampiri Valeene.
"Ah, cep-"
Valeene mematung melihat penampilan Deka yang sekarang. Meski hanya mengenakan kemeja putih polos dan celana hitam, penampilan terkesan sungguh memukau. Mungkin terkesan melebih-lebihkan, tapi Valeene hanya bisa berkata 'ganteng banget pria ini!'
"Hei,,," Deka melambaikan tanggannya ke wajah Valeene.
"Ah, iya maaf." Valeene langsung tersadar dari lamunannya.
"Mari ikut aku, biar aku tunjukkan jalannya."
"Aku? Ada apa dengan wanita ini? Kenapa dia tiba-tiba bicara santai denganku?" Batin Deka yang heran dengan perubahan sikap Valeene yang tiba-tiba terjadi.
Tapi Deka menghiraukan ini. Baginya itu tidak penting. Yah, sama tidak pentingnya dengan pesta ini. Untuk itu Deka langsung meminta untuk menikmati pestanya dengan caranya sendiri.
"Eh, gak bisa. Nona Milla bilang ia mau bertemu dengan mu sebelum pestanya di mulai." Tahan Valeene saat tahu Deka ingin membaur dengan tamu lain.
__ADS_1