Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
77. opsi


__ADS_3

"Kalian bisa tidur di sini." ucap Eny menunjukkan sebuah kamar yang cukup besar pada Milla dan Deka. Selain cukup besar, di dalam kamar itu juga sudah terdapat kamar mandi dan satu kasur besar untuk dua orang.


"Terimakasih, tante."


Milla memeluk Eny. Siapa sangka kalau dia ternyata masih punya orang-orang yang mau menolongnya. Padahal dia kira, Deka akan menjadi satu-satunya harapannya.


"Tak masalah, cantik. Beristirahatlah, tante tahu kamu pasti capek." Eny mengusap kepala bagian belakang Milla pelan. Dia merasa seperti sedang memeluk anak sendiri. "Deka, kamu juga istirahatlah. Jika kamu lapar atau butuh sesuatu, kamu bisa turun ke bawah."


"tentu, tante." Balas Deka menghargai jamuan dari Eny, sang pemilik rumah.


Berbeda dengan mansion Milla dan Agatha, rumah milik Bachsmid yang Deka singgahi ini terkesan futuristik tapi tidak terlalu mewah. Hanya terdapat dua lantai di rumah itu. Di mana lantai kedua digunakan sebagai kamar tidur.


"Kalo gitu, tante tinggal dulu ya. Tante mau lihat El dulu, udah pulang atau belum."Eny melepaskan pelukan Milla.


"Iya, tante. Hati-hati." Ucap Milla saat hawa keberadaan Eny lenyap dari hadapannya.

__ADS_1


Sesudahnya, Milla terlihat meraba-raba sekitar untuk dijadikan pegangan. Dengan sigap berada di samping Milla. Di raihnya tangan Milla dan menuntunnya masuk ke dalam kamar. Deka menuntun milla ke arah kasur. Di dudukannya Milla di ujung kasur sementara Deka berbalik menutup pintu kamar.


"Apa kamu gak masalah kalau kita menginap di sini?" Tanya Milla meminta pendapat dari Deka. Entah kenapa perasaan Milla mengatakan bahwa kali ini dia harus meminta pendapat dari Deka.


"Kurasa tidak masalah. Lagipula sikap tante dan pamanmu itu terlihat tulus ingin menolongmu." jawab Deka sembari berjalan ke arah jendela kamar yang tertutup. Dibukannya jendela kamar itu agar udara dan matahari dapat merambat masuk ke dalam kamar.


"Huh, baguslah kalau begitu. Aku takut kamu tidak menyukai mereka."


Deka tersenyum simpul.


Deka mendekati Milla. Dia duduk tepat di samping Milla.


"Lalu, bolehkah aku bertanya kepadamu?"


Milla mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


"Jika kamu diberikan kesempatan untuk melihat kembali, apakah kamu akan mengambilnya?" tanya Deka membuat Milla langsung bergetar.


"maksu-"


"Yah, kau tahu, di dunia ini tidak ada yang mustahil. Semua hal bisa saja terjadi. Bahkan keajaiban bisa muncul dari mana saja." Deka menjeda ucapannya. Dia melirik ke arah Milla ingin melihat reaksi wanita itu. "Dan jika ada sebuah kemungkinan untuk kamu bisa melihat kembali bagaimana? Kamu akan mengambilnya, kan?"


Milla tertegun. Memorinya tentang pertama kali mengalami kebutaan ini terbayang dalam benaknya. Kala itu dia baru sadar dari tidurnya. Namun saat ia membuka mata, dunia tampak begitu gelap. Sekuat apapun ia mencoba, hasilnya sama saja. Dia tak mampu melihat apapun. Hanya ada kegelapan yang menyelimutinya.


Dia berteriak sekencang mungkin. Rasa takut dan tak terima pada kondisinya ia layangkan. Tapi tetap saja tidak mengubah fakta bahwa penglihatannya menggelap. Sampai seseorang berjalan mendekatinya. Dia adalah seorang dokter. Sembari menenangkan dia berkata.


",,, kecelakaan itu berakibat fatal pada bagian kornea mata anda. Kami sudah berusaha semampu kami, tapi hasilnya tetap saja. Mohon maaf, anda mengalami kebutaan."


Ucapan dokter itu sudah melekat dalam benak Milla. Selalu saat sebelum tertidur dia berharap omongan dokter itu adalah kebohongan. Meski itu semua sia-sia.


Melihat Milla yang tak mampu menjawab pertanyaannya, Deka mengenggam satu tangan Milla.

__ADS_1


"Jika kamu bersedia, aku bisa membantumu. Aku punya kemungkinan kalau kamu bisa melihat lagi." Ucap Deka tulus untuk Milla.


__ADS_2