Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
93. Nasi goreng


__ADS_3

Deka berjalan masuk ke dalam kediaman Bachsmid. Setelah berbincang dengan bachsmid tadi pagi, Deka tak langsun pulang ke kediaman ini, melainkan pergi menemui Leo. Dan dia baru balik ke rumah tepat pada tengah malam. Terlalu banyak perbincangan yang harus dia bahas dengan Leo sampai baru bisa pulang larut malam begini.


Pria itu langsung saja berjalan ke kamarnya. Dia merasa butuh istirahat malam ini karena besok pagi dia harus ke kantor, pergi ke kantor Milla lebih tepatnya. Pembahasan Deka dan Leo tadi adalah pembicaraan tentang perusahaan Milla. Dia berencana mengembalikan nama Milla dalam perusahaannya itu. Tempo hari saat Deka dan Milla masih ada di apartemen, Leo memberi tahu Deka kalau ternyata setelah penyerangan mansion Milla, perusahan Milla mulai masuk ke dalam ambang kritis.


Tiba-tiba saja banyak investor besar mencabut saham mereka pada perusahaan atas nama Milla tersebut. Tak hanya itu, para petinggi perusahaan juga ikut bergerak seperti sedang merencanakan sesuatu. Itulah alasan kenapa beberapa hari yang lalu Milla kesulitan menghubungi orang-orang perusahaannya. Jadi, Deka memutuskan untuk terjun langsung besok pagi untuk membereskan semua itu.


Saat sampai di depan pintu kamar, Deka langsung membuka pintu tersebut dengan anggapan kalau Milla pasti sudah tidur. Benar saja, Deka melihat Milla tertidur sangat pulas di atas ranjang. Deka mendekati Milla.


"Apa dia langsung tidur saat sampai kamar?" gumam Deka saat mendapati Milla tertidur tanpa memakai selimutnya. Saat Deka hendak menarik selimut, tiba-tiba tangannya dihempaskan oleh Milla.


"Jangannn,,,,,!!!!!! Aku mohon jangan!!!!" Teriak Milla tiba-tiba dalam keadan terpejam. Nafasnya tiba-tiba menjadi tidak karuan.


"Milla?! Milla?!" Deka yang menyaksikan itu langsung panik. Di cengkramnya bahu Milla berharap wanita itu dapat segera bangun. Benar saja, Milla lang terbangun dengan nafas terengah-engah layaknya orang yang habis lari marathon.

__ADS_1


Milla tercengang. Dia seperti orang linglung. Deka langsung memeluk Milla. Mencoba menenangkannya.


"Tenanglah. Itu hanya mimpi saja." Ucap Deka sembari mengelus punggung Milla. Nafas wanita itu masih terdengar tidak karuan. "Cobalah untuk mengambil nafas dalam-dalam dan keluarkan secara perlahan."


MIlla mengikuti arahan Deka. Dia perlahan-lahan tenang.


"Merasa lebih baik?" Tanya Deka melepaskan pelukannya dan beralih menatap wajah Milla.


Milla mengangguk sebagai jawaban. Dia sudah cukup tenang. Tapi bekas mimpinya masih sedikit membekas dipikirannya.


Wanita itu menggeleng.


"Mau makan malam bersama? Biar aku masakkan."

__ADS_1


"ka-kamu, bisa masak?" Akhirnya Milla bersuara.


"Yah tidak begitu mahir, tapi cukup untuk makan sehari-hari." Jawab Deka tersenyum. Dia sadar kalau wanita di depannya adalah manusia normal. Trauma pasti akan dialaminya. Memang wanita ini tak menampakkan dalam kesehariannya melainkan melalui mimpinya. Sudah dua kali Deka menyaksikan Milla mimpi buruk. Dan Deka yakin Milla pasti mengalami ini hampir setiap malam.


"Kalau begitu, boleh." Balas Milla menyetujui ajakan Deka untuk makan malam bersama.


"Ayo," Ajak Deka menuntun Milla untuk turun ke bawah.


Keduanya berjalan ke arah dapur. Sudah tidak ada siapa-siapa di sana. Jadi, Deka bebas menggunakan dapur itu untuk memasak. Di jam segini semua orang pasti sudah pada tidur.


Deka menyuruh Milla untuk duduk di meja makan selagi menunggu dia memasak di dapur.


"Kamu mau masak apa?" Tanya Milla pada Deka.

__ADS_1


"Hhmm, kamu mau makan apa?" Tanya balik Deka sembari membuka kulkas untuk mencari apa yang bisa dia olah. Saat membuka kulkas, Deka mendapati banyak sekali bahan makanan yang bisa dia olah, terutama hidangan seafood terlihat lengkap di dalam sana.


"Bagaimana kalau nasi goreng saja." jawab Milla dengan alasan agar Deka mampu membuatnya.


__ADS_2