Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
45. Tuan Putri


__ADS_3

"Ingat pesanku tadi," Titah Deka sembari keluar dari mobil.


"Baik, bos. Jaga diri anda selalu."


Begitu Deka keluar, mobil itu langsung pergi meninggalkan tempat itu. Sementara Deka kembali ke mansion dengan cara berjalan kaki.


Sudah beberapa jam berlalu sejak Deka meninggalkan mansion. Deka jadi sedikit khawatir tentang orang-orang yang mencurigainya. Jadi Deka sedikit mempercepat langkahnya menuju ke mansion.


Beberapa menit kemudian Deka akhirnya sampai di mansion. Meski harus keluar keringat lagi, itu tak masalah. Hal penting saat ini adalah agar tidak ada orang yang curiga atas kepergiannya, terutama orang-orangnya Agatha.


Begitu sampai di pintu gerbang mansion Deka bersyukur masih bisa bernafas lega. Tidak ada seseorang pun yang curiga akan dirinya. Mungkin karena semua orang sudah kelelahan jadi wajar kalo tidak ada yang memperhatikan gerak geriknya Deka.


"Cih, aku kira akan ada yang sadar kalau aku pergi terlalu lama. Tapi nampaknya mereka bukan orang yang terlalu harus aku khawatirkan." Decih Deka dalam hati. Ada sedikit penyesalan dalam hatinya, yaitu kenapa ia harus terburu--buru kalau tahu tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

__ADS_1


lantaran semuanya aman-aman saja, Deka memilih untuk langsung kembali ke kamarnya saja. Dirinya ingin segera mandi pagi. Badannya sudah lengket dengan keringat.


Sesekali Deka melirik ke arah aula mansion. Kamarnya yang ada di lantai atas membuat Deka bisa melihat sedikit aula mansion dari kejauhan. Sejauh pandangan Deka, semua dekorasi pesta semalam sudah bersih. Para pelayan cukup gesit melakukan pekerjaan mereka. Hanya butuh beberapa jam saja aula mansion sudah kembali sedia kala. Walaupun Deka tidak terlalu peduli dengan hal itu. Namun tiba-tiba saat memegang ganggang pintu kamarnya selintas wajah melintas dalam pikiran Deka.


"Oh, iya, bagaimana kabar wanita itu?"


...****************...


Di depan panggung, para tamu tampak memegang gelas mereka masing sambil berbincang satu sama lain. Mereka membentuk koloni masing-masing, seperti semut yang berkerumun. Pembicaraan mereka tak jauh soal materi dan bisnis, tentunya karena alasan itu pula pesta ini di adakan. Mungkin itu terkecuali seorang wanita yang dituntun oleh wanita lainnya hanya bisa mematung mendengarkan keramaian yang terjadi. Wanita itu tak lain adalah Milla. Di di sana hanya untuk menunggu Agatha sebagaimana janji pamannya itu tadi sore.


Pria itu beramah tamah pada semua orang yang hadir. Sesekali ia memberikan jokes sebagai selingan dalam ucapannya. Dan terakhir ia tutup secara singkat yang disambut tepuk tangan yang meriah dari para tamu yang datang. Selesai dengan pidatonya, pria itu langsung turun menghampiri Milla.


"Oh, tuhan. Apakah aku sedang melihat bidadari di depanku?" Tanya pria itu saat menghampiri Milla.

__ADS_1


Milla membalasnya dengan senyuman.


"Terimakasih, paman. Semua ini karena paman yang sudah dengan baik hati mau menolongku. Btw, pidato yang bagus paman. Tak kusangka yang datang ke mari sangat banyak."


"Ah, tentu. kalau tidak ramai dan mewah bukan Agatha namanya."


Pria bernama Agatha itu memberikan isyarat mata kepada wanita yang di sebelah Milla untuk menyingkir. Milla yang tiba-tiba sadar tangannya tidak di genggam menoleh ke samping meski ia tak bisa melihat ke mana orang itu.


Tapi dengan sigap Agatha berpindah ke samping Milla dan mengenggam tangannya.


"Tak perlu takut. Malam ini aku sendiri yang akan membantumu."


"Te-terimakasih, paman."

__ADS_1


Meski sudah beberapa kali tangannya di genggam oleh Agatha, tetap saja Milla merasa sedikit risih. Namun Milla tak melepaskan genggaman itu, baginya hanya Agatha yang bisa menolongnya saat ini.


"Aih, tak perlu berterima kasih. Sebab malam ini kamu tuan putrinya." Balas Agatha dengan senyum aneh yang terpasang di wajahnya.


__ADS_2