
"Silahkan, Tuan." pria itu mempersilahkan Deka untuk duduk di sofa.
"Anda ingin minum apa? Biar saya buatkan." Imbuh si pria.
"Hhmm, kopi hitam saja." Jawab Deka.
Pria itu mengangguk lalu meninggalkan Deka di sana untuk membuat kopi sesuai pesanan Deka.
Sembari menunggu, Deka membuka ponselnya dan berselancar bebas di dunia internet. Tak terasa ia sudah bermain ponsel selama 15 menit. Kopi yang dibuat oleh pria tadi saja sudah hampir setengahnya habis.
"Mau sampai kapan aku harus menunggu? Hanya mengganti pakaian saja selama ini?" Batin Deka lantaran sudah sangat bosan.
Deka memang tipikal orang yang tidak suka diam terlalu lama. Dirinya selalu terdorong untuk bergerak. Bahkan saat dalam penjara saja ia selalu meminta beberapa hal yang bisa ia kerjakan meski itu selalu ditolak oleh para sipir.
Namun, layaknya keinginan Deka, akhirnya terdengar suara langkah yang nampak mendekat ke arahnya.
Milla dan seorang pria membuka pintu ruangan itu. Tanpa berkata satu kata pun, si pria menuntun Milla untuk duduk di sofa depan Deka.
Mata Deka pun mengamati situasi yang ada didepannya itu.
"Wah, mau berapa kali pun kulihat wanita ini, parasnya memang tidak bisa membuatku berhenti takjub!" Batin Deka, terpukau dengan kecantikan Milla.
__ADS_1
"Terimakasih, Albert. Aku bisa sendiri," Ucap Milla saat dirinya hendak duduk. Pria yang bersama Milla barusan ternyata adalah Albert, sekretaris Milla yang pernah bertemu Deka tempo hari.
Setelah Milla duduk, Albert ikut duduk disamping Milla.
"Hhmm, apa-apaan ini? bukannya mereka hanya teman kerja? tapi kenapa mereka nampak dekat sekali?" Deka bertanya-tanya tentang sikap Albert kepada Milla. Nampak seperti bukan kerja sama antara bawahan dan atasan pada umumnya.
"Ekhem," deham Milla membuat Deka berfokus padanya.
"Jadi, aku mau membahas tentang kita untuk kedepannya." Terang Milla pada deka.
Awalnya Deka hanya mengangguk sebagai jawaban. Tapi nampaknya Deka sudah lupa, bagaimana bisa Milla melihat respon Deka jika hanya anggukan saja.
"Jadi, Albert, tolong jelaskan rinciannya."
Albert langsung membacakan sesuatu dengan lantang kepada Deka sesuai perintah Milla. Isi yang dibaca Albert kurang lebih sama seperti yang tempo hari diungkapkan olehnya. Namun, hanya diperjelas dibeberapa bagian.
"Kau paham?" Tanya Milla setelah Albert selesai membacakan semua yang diperintahkan.
"Iya," Deka sudah menebak hal ini. Jadi, dia hanya perlu mengikuti kemauan mereka.
"Hah?! serius dengan ucapan pria ini barusan? dia terima begitu saja semua peraturan ini?" Heran Milla dalam batinnya. Padahal menurut Milla Deka akan tidak setuju dengan semua peraturan yang dibuat olehnya.
__ADS_1
"Kalau begitu, semu,," Ketika Albert hendak menyelesaikan kesepakatan di antara mereka, tangan Milla menghentikandia untuk lanjut.
"Kau serius dengan ucapanmu barusan?" tanya Milla penasaran.
"Iya," Jawab Deka singkat.
Milla dibuat geleng-geleng kepala.
"Peraturan dari kesepakatan ini banyak yang tidak menguntungkanmu. Biar kupertegas, dalam pernikanahan ini, kita berdua tetap akan menjadi orang asing. Kau tidak akan mendapatkan keuntungan dariku. Karena yang kuinginkan di sini hanyalah bantu perusahaan pamanmu saja di sini." Tekan Milla mencoba menjelaskan pada Deka bahwa tidak ada keuntungan untuknya dalam pernikanahan mereka.
"Ya, aku tahu itu." Balas Deka tidak mempermaslahkan satu hal pun.
Milla nampak sedikit jengkel mendengar nada Deka yang nampak mengentengkan peraturan yang dibuat olehnya. Dia ingin kembali mempertegas kepada Deka namun ditahan oleh Albert.
"Nona, biarkan saja pria itu seperti ini. Toh, yang untung kita." Ucap Albert meski ia juga sebal dengan sikap Deka yang terkesan angkuh itu.
"Baiklah, tuan Deka. Silahkan ikut kami, kami akan mengantarmu ke mansion di mana kamu harus tinggal."
Deka mengangguk dan beranjak mengikuti Albert dan Milla. Deka awalnya agak kesal tentang Albert yang menuntun Milla untuk berjalan. Padahal yang menjadi suaminya adalah dirinya bukan Albert. Namun, perasaan itu segera ia buang jauh-jauh.
"Yah, tak masalah. Setidaknya aku jadi bebas berman sesukaku." Batin Deka menghiraukan perasaan cemburu atas dua insan yang berjalan didepannya.
__ADS_1