Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
115. Clubbing


__ADS_3

Setelah merasa penampilan Milla sangat perfect, Maya langsung mengajak wanita itu untuk pergi. Sebelum pergi Maya diam-diam memfoto Milla. Saat turun ke lantai satu, Milla langsung panik. Dia takut bertemu dengan tantenya saat dia mengenakan pakaian seperti ini. Tapi kepanikan Milla hanya tinggal kepanikan biasa. Sampai dia masuk ke dalam mobil, dia tak bertemu dengan tantenya maupun dengan pamannya. Maya ikut masuk ke dalam mobil. Dia yang akan menjadi supir Milla malam ini.


Sebenarnya semua rencana ini sudah direncanakan semuanya oleh Maya. Wanita itu sudah izin pada Eny dan Bachsmid akan mengajak Milla makan malam bersama Deka diluar saat Milla tengah mandi tadi. Jadi malam ini Milla punya kebebasan sepenuhnya. 


“Apa tempatnya jauh?” Tanya Milla. Dia dulu sering diajak ke tempat seperti ini oleh teman-temannya. Tapi kedua orang tua Milla selalu menolaknya. Mereka mengatakan tempat itu bukan tempat yang baik. 


“hhmm, tidak jauh, kok. Palingan sepuluh menit lagi kita sampai.” Balas Maya mengambil ponsel dari celananya. 


Saat di lampu merah, Maya dengan cepat membuka ponselnya dan mengirimkan foto Milla tadi kepada Deka dengan caption “Kami clubbing sebentar, Nona Milla butuh hiburan. Bar Olympic.”


Tak sampai beberapa menit, ponsel Maya langsung bordering. Tapi tak Maya angkat karena lampu merah sudah berganti hijau. 


“Tak kamu angkat?” Tanya Milla mendengar panggilan suara dari ponsel Maya. 

__ADS_1


“Eh, bukan orang penting.” Jawab Maya berbohong. Tentu saja panggilan itu berasal dari bosnya. Panggilan itu terjadi terus menerus hingga akhirnya Maya memutuskan untuk mematikan ponselnya. 


“Angkat aja gapapa, Maya. Takutnya penting. Kita menepi sebentar.” Ucap Milla takut kalau panggilan itu penting karena dari tadi ponsel Maya berbunyi terus saat Maya tak mau mengangkatnya. 


“Ah, gak perlu. Itu cuman teman aku aja. Lagi jahil dia soalnya gak aku ajak.” Balas Maya mencoba mencari alasan yang paling logis. 


“Hhmm, kenapa gak ajak dia sekalian, bukannya, semakin ramai semakin bagus?” 


“Eh, Gak usah, Nona. Eh, maksudku, Milla. Gak usah diundang dia. Nanti dia malah ngerusuh di sana. Nanti kamu malu sendiri.” Maya kembali berbohong pada Milla. 


Tak terasa mereka sudah sampai saja di depan bar yang mereka tuju. Maya langsung memarkirkan mobilnya. 


“Kita sudah sampai?” Tanya Milla saat tidak mendengar suara ramai jalan raya. 

__ADS_1


“Iya, Milla. Kita sudah sampai.” Setelah memarkirkan mobil, Maya segera keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Milla. Layaknya ratu yang turun dari kereta dalam cerita dongeng, Milla turun dengan begitu elegan. Beberapa orang yang juga memarkirkan mobilnya memuja penampilan Milla malam ini.


Maya menghiraukan semua tatapan pria lapar yang mengarah kepada orang disampingnya sembari tetap berjalan masuk ke dalam bar. Tempat itu cukup ramai malam ini padahal jam masih belum menunjukkan waktu yang tengah malam. 


Begitu melangkahkan kaki di sana. Beberapa pria langsung terpesona akan kecantikan Milla. Ada yang terang-terangan melirik Milla, ada juga yang sembunyi-sembunyi melakukannya. Dan hal itu membuat Maya terkekeh. 


“Hehehe, dasar mata jelalatan. Lihat saja saat pawangnya datang. Bagaimana reaksi kalian, hahahah.” Batin Maya membawa Milla ke meja bartender untuk memesan minum. 


“Duduk di sini dulu ya, Milla. Aku mau ke toilet sebentar,” Bohong Maya untuk kesekian kalinya. Belum sempat Milla membalas, Maya sudah langsung pergi.


“Aku ikut,,” balas Milla tak berhasil menggapai apapun. Maya sudah lebih dulu pergi. 


Sesaat itu juga Milla panilk. Dalam kondisinya yang sekarang dia takut jadi bulanan lelaki hidung belang. Milla mengumpati Maya dalam hati. Harusnya dia tidak mengikuti rencana Maya kalau tahu begini jadinya. Dia benar-benar ketakukan saat ini. Saat ketakukannya memuncak, sebuah kain jatuh mengenai pahanya. 

__ADS_1


“huh, huh, huuh, dasar gadis nakal!” Umpat seorang pria yang berdiri dihadapan Milla.   


__ADS_2