
"Dari mana kau tahu itu, kalau tidak mencobanya. Jika kita menghubunginya bisa jadi kita langsung dapat tahu lokasi paman George. Bahkan bisa jadi paman George sendiri yang akan menghampiri kita. Bukannya dia punya banyak anak buah?" Tukas Milla.
Deka menatap ke arah Milla. Sungguh keras kepala wanita di depannya ini.
"Huh, kau benar-benar gigih. Bagaimana jika kita bertaruh saja?" Balas Deka memberikan solusi lain sebab ia tipe orang yang tak suka cari masalah.
"bertaruh apa?"
"Jika tebakanku yang benar, kau harus menuruti satu permintaanku. Dan jika kamu yang benar, aku akan bersumpah setia jadi bawahanmu."
Kalimat Deka terdengar tidak main-main di telinga Milla. Sebuah taruhan yang tidak buruk. Toh tentu yang pasti Milla. Dia yakin paman George akan langsung menolongnya.
"Bagimana? Bukankah tidak buruk." Tanya Deka lagi memastikan jawaban Milla.
"Hhhhm, siapa takut. Tapi, karena pasti aku yang benar, akan ku tambahkan satu lagi permohonanmu. Jadi, ada dua permohonanmu yang akan ku kabulkan jika tebakanku salah."
Deka tersenyum. Dia tidak menyangka wanita ini benar-benar percaya diri.
"Kita deal?" Gantian Milla yang bertanya sembari mengangkat tangan hendak berjabat tangan sebagai simbol taruhan mereka.
"Tentu saja," Jawab Deka menmbalas jabat tangan Milla.
"Baiklah, mari lanjut makan. Kita butuh tenaga untuk hidup." Sambung Deka melanjutkan makannya.
Berbeda dengan Milla, dia malah terdiam.
__ADS_1
"Ehm, apa tidak ada lauk lain?"
...****************...
"Jadi, bagaimana strategimu menghubungi menghubugi paman mu?" Tanya Deka saat mereka kembali ke dalam kosan. Deka sengaja tak menginap di apartemen atau hotel. Selain karena ia tak membawa uang banyak, keamanannya lebih terjaga karena para penjahat itu tidak mengira mereka menginap di sini.
Milla merenung. Dia seperti sedang berpikir.
"Mana ponselku?" Tanya Milla setelah terdiam beberapa menit.
Deka menyerahkan ponsel yang diminta.
"Coba hubungi nomer ini." Milla membacakan nomer untuk Deka hubungi.
"Ini," Deka memberikan ponsel yang masih kondisi memanggil itu pada Milla.
"Cih, hanya terhubung saja belum tentu benar itu pamanku." Batin Deka kesal.
"Halo?" Ucap seseorang dari arah ponsel.
"Yey,,,," Teriak Milla spontan. Dia merasa sudah menang dari Milla.
"Halo?"
"Ah, iya, maaf."
__ADS_1
"Dengan siapa ini?"
"Ini dengan Milla. apa benar ini nomer paman Bachsmid?"
"...."
"Halo?"
"Oh, nona Milla. Iya, benar, ini nomer tuan Bachsmid. Aku adalah sekretaris beliau. Tapi beliau sedang sibuk sekarang. Mungkin jika ada yang ingin disampaikan, nona bisa titipkan pada saya."
"Oh, begitu. Aku hanya perlu bertemu paman Bachsmid. Bisakah kamu sampaikan pada paman, kalau aku butuh bantuan?"
"Tentu, nona. Apa kami boleh tahu nona sedang di mana?"
Milla membeberkan lokasinya pada orang yang ia telpon dan beberapa tambahan informasi lalu mengakhiri panggilan tersebut tanpa curiga sedikit pun.
"Lihatkan, aku benar. Kita tidak akan tahu sampai kita mencobanya." Ucap Milla sombong.
"Kau belum menang." Balas Deka tak berselera meladeni Milla.
"Huh, belum menang? Jelas-jelas aku sudah bisa menghubungi paman kenalanku."
"Kau benar. Kau berhasil menghubungi seseorang. Tapi apa kau yakin itu bawahan orang tersebut." Deka sempat menyimak percakapan Milla barusan.
Terlihat Deka sedang mengisi amunisi sebuah pistol. Waktu kelauar dari mansion, Deka tidak jadi membawa senjata lain selain pistol karena beratnya akan menghalangi mereka kabur. Jadi, total pistol otomatis di tangan mereka ada dua, satu yang Deka bawa semalam dan satu lagi yang diberikan kepada Milla semalam.
__ADS_1
"Baiklah karena kau sudah bertekad, kita harus mulai bergerak bukan?" Ucap Deka yang nampaknya hanya bisa pasrah menerima rencana Milla.