
Sesampainya di kediaman Bachsmid, Milla dan Deka langsung kena semprot Eny.
"Waduh, gimana sih kalian berdua ini. Malah hujan-hujanan. Kayak anak kecil aja." Eny berdecih. Geram sekali dia melihat pakaian Deka dan Milla basah kuyup.
"Anu, tante, tadi kita lagi jalan kaki, eh, tiba-tiba hujannya deras. Jadinya basah kuyup, deh." Milla mencoba membuat alasan agar tantenya tidak mengomeli mereka terus.
"Banyaklah alasanmu, Milla. Deka, ngapain kamu malah senyum-senyum terus." Heran Eny melihat Deka malah senyum-senyum gak jelas.
"Ah, gak papa, tante. Cuman kedinginan aja ini." Deka berkelit. Mana mungkin dia jujur kalau dia senang dalam kondisi mereka saat ini. Baginya mereka yang di omelin saat ini sangat lucu. Dia jadi ingat kenangan masa kecilnya yang juga sering diomelin.
"Ah, sudahlah. Kesal tante lama-lama lihat kalian. Pergi ke kamar sana, bilas pake air hangat biar gak masuk angin." Eny menyuruh Milla dan Deka untuk segera mandi dengan air hangat agar tak masuk angin sementara dirinya lanjut lagi membersihkan rumah. Ya, tak hanya menyiapkan makan untuk keluarganya, Eny juga tetap membersihkan rumah meski sudah punya pembantu.
Deka sendiri langsung mengajak Milla kembali ke kamar. Tadi sebelum sampai ke kediaman Bachsmid, Deka segera menyuruh para anak buahnya untuk pergi dan dia membawa sendiri mobil yang awalnya dipakai untuk berangkat ke kantor.
__ADS_1
"Hah, maaf, kamu malah ikut diomelin gara-gara aku." Ungkap Milla saat naik tangga.
"Pfftt, hahaha, gak usah minta maaf. Tapi bagiku hal ini malah hal yang lucu."
"Hah, lucu?"
"Iya, soalnya kejadian ini mengingatkan ku pada masa lalu. Dulu sewaktu aku masih kecil, aku sering diomelin sama ibuku. Dan beberapa kali juga sama persis seperti kita barusan." Deka terbanyang raut wajah ibunya waktu mengomelinya. Itu adalah momen bahagia yang takkan pernah Deka lupkan.
"Ah, ternyata kamu juga nakal ya." Balas Milla saat tahu ternyata perilaku mereka saat kecil gak jauh beda.
Setelah menaiki tangga, Deka langsung menuntun Milla masuk ke dalam kamar. Baik Deka maupun Milla merasa menggigil saat ini. Begitu masuk kamar, Deka tak langsung menyalakan AC. Tentunya karena mereka sudah kedinginan.
"Kamu mandi duluan saja." Ucap Milla mengalah. Hanya ada satu kamar mandi di kamar mereka. Jadi, saah satu diantara mereka harus mengalah.
__ADS_1
Mendengar hal itu malah membuat Deka tertawa.
"Hahaha, kenapa harus gantian kalo bisa bersama?" Dengan sigap Deka kembali menggendong Milla ala bridal style masuk ke dalam kamar mandi. Sebelum masuk, Deka tak lupa mengunci pintu kamarnya.
"Dek, deka?!" Panik Milla saat tubuhnya tiba-tiba diangkat. Lagi dan lagi Milla tak melawan. Dia merasa panik dan malu, tapi batinnya tak menolak perlakuan Deka sama sekali.
Deka menyalakan shower dan mulai membasahi tubuh keduanya dengan air panas. Dia menurunkan Milla. Namun, baru sepersekian detik Milla merasa lolos, saat itu juga Deka menghimpit tubuh Milla ke tembok. Milla merasakan dua tangan kokoh menghimpitnya agar tak kabur.
"Deka, apa maksudnya ini?!" Tanya Milla ketakutan. Dia takut Milla berbuat macam-macam padanya.
Tapi Deka malah tak membalas. Pria itu terdiam membiarkan air panas shower mengguyur tubuh mereka.
cup, Deka mencium kening Milla.
__ADS_1
"Mari kita berendam sebentar." Ajak Deka membuat Milla terkejut.