Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
116. Hukuman


__ADS_3

Pria itu terlihat basah kuyup karena keringat. Mungkin tadi dia berlari untuk sampai di sini. Dan Milla sangat mengenal suara itu.


“Eh, Deka?!” Raut wajah Milla langsung mendadak panik. Dia binggung kenapa bisa ada Deka di sana.


“Apa benar Deka punya meeting di sini? Tapi kenapa di bar seperti ini? Lagipula kenapa harus malam-malam seperti ini. Apa mereka tidak punya waktu dan tempat lain?” Batin Milla bertanya-tanya. Saat Maya bilang Deka punya meeting malam ini, Milla sama sekali tidak percaya. Tapi ternyata kenyataannya malah seperti ini.


“Hey, aku pesan lantai dua.” Ucap Deka enteng pada bartender yang berdiri di balik meja.


“Eh, maaf, pak. Kami tida-“


Deka melemparkan dua lembar kartu pada bartender.


“Ambil ini. Dan berikan ini pada manajermu, dia pasti tahu apa yang harus dilakukannya.” Balas Deka.


Meski heran, bartender itu coba melakukan apa yang Deka mau.


“Baik, pak biarkan saya menghubungi manajer kami.” Bartender itu membawa satu kartu black card dan kartu nama milik Clio.


Setelah ditinggal oleh bartender, Deka mengalihkan pandangannya pada Milla.


“Mau apa kamu? Ah, ternyata semua cowok sama aja!” bentak Milla tiba-tiba. Milla mengira kalau Deka ingin bermain-main dengan banyak wanita sampai harus memesan satu lantai.

__ADS_1


“Hey, yang seharusnya marah itu aku bukan kamu.” Ucap Deka mencoba untuk sabar.


“Hah? Kau lucu. Yang jadi bangsat siapa, yang disalahin siapa. Sudahlah aku mau pulang.”


Deka menahan tangan Milla untuk pergi. Hal itu bertepatan dengan Maya yang baru selesai dari kamar mandi.


“Aw, sakit.” Ucap Milla karena tarikan Deka begitu kencang dan kuat.


Milla yang melihat kejadian itu langsung putar arah.


“Hey, Maya, mau kemana kamu!” Tegur Deka yang ternyata tahu Maya ada di sana.


“Besok pergi menghadap Leo. Terima hukumanmu. Jangan harap ada kelonggaran.” Titah Deka yang langsung membuat Maya menciut. Mau berapa kali Maya bertemu dengan Deka, tetap saja dia menganggap Deka adalah orang yang kejam. Dan entah kenapa tadi saat merencanakan ini dia malah lupa sekejam apa Deka itu.


“hukuman? Kenapa kamu menghukumnya? Dia tidak bersalah.” Bela Milla tak terima Maya akan diberi hukuman.


“Kamu Tanya apa? Dia sudah berani mengajak kamu ke tempat seperti ini. Dan karena hal itu dia harus dihukum. Dia melanggar tugasnya untuk menjagamu. Jika saja aku tidak terlambat tadi, mungkin sudah ada puluhan pria menghampirimu, kau tahu?!” Deka sedikit tersentil emosinya.


“Terus kenapa? Apa urusannya denganmu? Lagipula aku yang mengajaknya kemari.” Meski sebenarnya takut, Milla tetap mencoba melawan.


“Tentu saja itu urusanku. Aku sudah berjanji akan menjagamu, bagaimana bisa aku membiarkanmu di tempat ini! Kamu mau aku biarkan dirimu menjadi pelacur? Begitu?!” Ucap Deka dengan sedikit berteriak. Dia sudah tak bisa mengontrol emosinya.

__ADS_1


“Bodo amat dengan janjimu aku tidak peduli! Ini kehidupanku!” Entah datang dari mana datangnya keberanian itu, Milla Nampak tak takut sama sekali pada Deka.


“Arghhh,,,,,” Deka melirik ke arah lain. Ternyata perdebatan keduanya sudah menjadi pusat perhatian di sekitar mereka. Bahkan manajer bar yang baru datang itu sampai tak berani menyela perdebatan keduanya.


“Kau manajernya?" Deka menunjuk ke arah salah satu pria. Dan pria itu mengangguk.


“Berikan aku lantai dua.” Titah Deka seakan semuanya harus patuh padanya.


“Te-tentu, tuan.” Pria itu menyanggupi permintaan Deka.


“Maya, ayo kita pulang!” Milla dengan beraninya melepaskan tangannya dari genggaman Deka dan berdiri dari kursinya.


Sontak Maya yang mendengarnya mendongak melihat ke arah Milla. Tapi sedetik kemudian Maya menunduk kembali. Matanya bertatapan dengan Deka. Seperti sedang menatap singa di gurun pasir, mengerikan.


Melihat Milla yang menolaknya, Deka berjalan ke arah Milla dan langsung menggendongnya ala bridal style.


“Apa maumu! Lepaskan aku!! Maya, bantu aku!” Teriak Milla meronta-ronta agar Deka menunrunkannya. Dia memukul-mukul dada bidang Deka.


Kini keduanya malah menjadi pusat perhatian satu bar. Semuanya menoleh ke arah mereka.


“Maya, panggil Clio atau siapapun itu untuk mengurus orang yang melihat ini!” Bentak Deka sembari membawa kucing kecil yang mengeong-ngeong dalam gendonggannya.

__ADS_1


__ADS_2