
Dengan perasaan kesal bercampur malu, Dhea memalingkan pandangannya dari Deka. Dia terlalu malu karena menunjukkan rasa khawatirnya tentang suatu hal sepele. Tak lupa ia mengembik seperti kambing karena merasa dipermainkan.
"Hahahaha, senangnya. Yasudah, kita damai ya?" Ucap Deka mengangkat tangannya dan membentuk jarinya seperti huruf V. Namun, Dhea masih memberikan wajah kecutnya karena masih kesal pada Deka. "Hei, ayolah adikku yang manis,,, Lebih baik temani aku minum kopi daripada terus-terusan ngambek."
Dengan acuh-tak acuk Dhea duduk menemani Deka di sana. Dia bahkan sampai lupa tujuan utamanya ke sana. Apapun tujuannya, terlupakan begitu saja begitu melihat kakak sepupunya yang sangat berbeda dengan dari Altan. Karena memang sepanjang hidupnya, terhitung baru 3 kali mereka bertemu. Satu, ketika Deka pertama kali datang ke rumahnya setelah kematian orang tua Deka, sekitar 15 tahun yang lalu yang kemudian Deka minggat pada hari itu juga. Lalu yang kedua adalah tadi malam, dalam pembicaraan mengenai pernikahan Deka. Dan yang terakhir, saat ini. Ketika mereka tidak sengaja bertemu di cafe ini.
"Kamu enggak kuliah?" Tanya Deka mencoba membuat topik pembicaraan di antara keduanya. Tetapi respon Dhea malah membuat Deka kaget. Dengan menepuk dahinya secara sepontan, Dhea mengumpat sambil mengambil ponsel yang ada di kantong celananya. Dan Deka hanya bisa melihatnya, tanpa bisa berbicara karena Dhea nampak sangat panik.
"Ada apa?" Kini Deka mencoba bertanya setelah Dhea mengangkat telponnya ke samping telinganya.
"Hush, tidak usah mengganggu." Kesal Dhea tanpa menatap wajah Deka.
"Heh, nanya aja salah?"
"Iya, salah!" Emosi Dhea begitu meluap sampai ia tidak sadar ternyata ponselnya sudah terhubung dengan orang yang ia telpon.
"....."
"Eh, maaf, Fir. Gua lagi ngomong sama orang ngeselin soalnya." Terang Dhea kepada temannya yang ada di ujung telpon.
"....."
"Oh, iya gua udah di lokasi."
"......."
"Lah, bukannya di cafe deket gedung baru?"
"......."
"Mampus gua. Iya deh gua ke sana sekarang!"
"......"
"iya, iya." Ucap Dhea sambil menutup panggilannya.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Deka selesai menyeruput kopi miliknya.
"Apa urusan lu? Nanya mulu kayak emak-emak," Protes Dhea yang kemudian ia beranjak dari tempat duduknya. Namun belum sempat melangkah, tangannya sudah ditahan oleh Deka. "Apaan sih?"
Deka hanya menggeleng dengan maksud menahan Dhea di sana. Bukan Dhea namanya jika tidak memberikan perlawanan. Gadis yang di cap tomboy itu berusaha menarik tangannya dari Deka. Bahkan ia mencoba dengan menggunakan tangan satunya untuk melepaskan diri. Tapi sayangnya, usahanya tidak membuahkan hasil. Tangan deka masih mencengkram tangannya tanpa merasakan gangguan. Sehingga Dhea terpaksa melayangkan jurus terakhir yang bisa ia lakukan, apalagi kalau bukan menggigit.
"Eits, galak bener." Kata Deka yang melihat mulut Dhea mendekati tangannya yang bermaksud untuk menggigit.
"Cih, lagian gak jelas." Balas Dhea yang mulai berjalan meninggalkan Deka.
"Eh, tunggu." Kali ini Deka menahan adik sepupunya dengan badannya sendiri sebagai tameng.
"Apalagi?!" Dengan malas Dhea menanggapi Deka.
"Hehehe, aku antar yah."
"Eh, gak, gak usah sok baik. Gak butuh."
Dhea melanjutkan langkahnya melewati Deka dari arah samping. Tetapi Deka tetap bersikukuh dalam menahan Dhea.
"Gua anter atau gak sama sekali," Tegas Deka menahan bahu Dhea dengan kedua lengannya. Lantas karena hal itu Dhea sekali lagi terpana. Tubuhnya seolah dihipnotis sehingga tanpa sadar ia mengangguk berarti setuju.
"Eh, iya! Loh kok, lu, maksudku, kakak yang mimpin." Ujar Dhea sambil membuang halusinasi liar yang ada di benaknya. Dia segera menyusul Deka yang sedang mengambil motor milik Altan yang tadi ia pinjam.
Mereka berdua pun Akhirnya berkendara di tengah kota yang cukup padat kendaraan. Deka mengikuti arahan Dhea menuju ke tempat yang Dhea dan temannya rencanakan.
10 menit berselang, motor yang nereka kendarai sampai di sebuah cafe yang cukup ramai.
"Kamu lama gak ketemuannya?" Tanya Deka ketika sedang melepaskan helm di kepalanya.
"Kenapa emangnya?" Dhea malah balik bertanya.
"Tolong anterin aku. Kamu tahu sendiri aku mau nikah, jadi harus ada persiapan. Dan juga potong rambut."
"Pergi aja sendiri. Punya kaki kan?"
__ADS_1
"Ye,, adek durhaka emang. Abangnya mau nikah, bukan dibantu malah di tinggalin."
Namun Dhea malah menghiraukan ucapan Deka barusan dan memilih untuk masuk ke cafe duluan. Dhea langsung menuju ke tempat teman-teman berada. Terlihat dua orang wanita melambaikan tangan ke arahnya.
"Dhea,, lama amat sih lu!" Ketus salah satunya yang duduk paling dekat dengan Dhea.
"Sorry, Fie. Gua kira di cafe yang satunya. Ternyata malah di sini." Balas Dhea sambil memeluk kedua sahabatnya.
"Oke, deh. Tapi itu siapa ya?" Tanya wanita yang kedua.
"Maksudnya siapa?" Heran Dhea kepada kedua sahabatnya.
"Itu dibelakang kamu." Sontak Dhea menoleh ke belakang.
"Kak Deka!" Kaget Dhea setelah tahu ternyata Deka datang mengikutinya.
"Hallo semuanya. Aku Deka kakak sepupunya Dhea. Salam kenal ya." Sapa Deka kepada dua sahabat Dhea. Ia menghiraukan Dhea yang menatapnya dengan tatapan sebal.
"Oh, kakak sepupunya Dhea. Kenalin kak, aku Sofie." Sofie menjulurkan tangan ke depan Deka.
"Oh, Sofie. Kalau kamu?" Deka menyambut uluran tangan Sofie dan melirik ke arah wanita di sampingnya.
"Hallo kak. Nama aku Iris. Sahabatnya Dhea." Spontan Iris menjulurkan tangannya juga. Deka membalas juga uluran tangan Iris. Dan Dhea hanya bisa pasrah dengan prilaku Deka.
"Kalian mau ngapain di sini?" Tanya Deka setelah selesai berkenalan dengan kedua sahabatnya Dhea.
"Kami gak mau ngapa-ngapain, kok." Kini Dhea yang menjawab dengan cepat, seolah-olah agar kedua sahabatnya tidak menjawab. Ia juga memberikan kedipan mata kepada sahabatnya agar menurut saja dengan perkataannya.
"Eh, Dhea. Lu kok labil sih? Bukannya tadi ngajakin jalan-jalan ke mall?" Protes Iris dengan polosnya.
"Tahu lu, Dhea." Nampaknya kedua sahabatnya ini tidak tahu maksud dari kode yang di lemparkan oleh Dhea. Dan Dhea hanya bisa pasrah dengan kepolosan dan kebodohan kedua sahabatnya itu.
"Serah lu pada, deh. Males gua jadinya." Malas Dhea sambil meminum minumannya yang baru saja sampai.
"Kok, jadi salah kita." Ucap Iris entah karena masih binggung dengan sikap Dhea atau benar-benar bodoh.
__ADS_1
"Tahu, lu." Ternyata Sofie juga tidak jauh beda dengan Iris. Sama-sama tidak mengerti kode dari Dhea.
"Hahahaha,,, Sahabatmu menarik semuanya ya, Dhea." Tawa Deka menghiasi meja tempat mereka duduk. Ketiga tidak bisa berbohong kalau mereka terpana dengan ketampanan pria itu. "Boleh aku ikut kalian? Aku butuh guide buat nyari tempat potong rambut yang bagus."