
Setelah beberapa menit berkutat di dapur, akhirnya semua masakan Eny rampung juga. Dia dan satu pembantu menyiapkan semuanya ke atas meja makan. Dan satu pembantunya lagi naik ke atas untuk memanggil semua anggota keluarganya untuk turun.
Bachsmid dan El nampak turun pertama secara bersamaan. Mereka terlihat mengobrol sepanjang perjalanan. Eny langsung mengajak mereka ke meja makan Dan Langsung melayani keduanya.
Tak lama berselang, Deka turun menghampiri meja makan. Kali ini dia hanya sendirian tanpa Milla.
"Loh, Deka, Milla mana?" Tanya Eny saat melihat Deka turun tanpa membawa Milla disampingnya.
"Em, itu tante, dia udah tidur, aku coba bangunin cuma katanya masih kenyang." Jawab Deka sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal.
Sebenarnya alasan kenapa Milla tidak ikut bersama Deka karena kejadian yang beberapa saat yang lalu. Saat Mereka berdua berendam. Deka ternyata enggan melanjutkan kegiatan itu, setelah Milla berhasil keluar untuk yang pertama kalinya. Tentunya Milla sangat kesal karena hal itu. Dia merajuk dan Langsung pergi tidur. Saat Deka coba ajak makan malam, Milla tak meresponnya sama sekali.
Memang terkesan jahat, tapi Deka melakukan itu untuk kebaikan mereka berdua. Deka takut melakukan hal itu lagi pada Milla. Dia takut Milla akan hamil anaknya. Kalau saja hal itu terjadi, maka Deka mau tak mau harus bertanggung jawab. Dan hal itulah yang Deka takutkan. Dia takut akan mengekang masa depan Milla. Deka tak mau hal itu terjadi. Dia mau Milla bisa mendapatkan jodoh yang lebih baik dari dirinya.
"Oh ya sudah, gapapa. Nanti kalau semisal Milla lapar, Tante sudah siapin makanan di kulkas." Eny tak memperpanjang pertanyaannya. "Ayo, kita makan malam. Tante sudah masakin kamu steak. Soalnya tante takut kamu ternyata gak suka seafood."
"Terimakasih banyak, tante. Masakan tante memang enak semua kok." Jawab Deka ikut nimbrung di meja makan. Di depannya sudah ada El. Pria itu nampak tak suka kehadiran Deka. Tapi tak terlalu ditampakkannya karena ada orang tuanya.
Setelah itu, semuanya mulai makan malam. Tidak banyak percakapan yang terjadi di antara mereka kecuali pembahasan tentang rasa masakan buatan Eny malam itu. Beberapa menit berlalu, makan malam itu berakhir. Satu persatu dari mereka kembali ke aktifitas masing-masing. El langsung kembali ke kamarnya. Bachsmid kembali ke ruang kerjanya. Dan Eny nampak masih membersihkan sisa makan malam mereka bersama pembantunya.
Deka awalnya ingin membantu Eny membersihkan piring-piring kotor itu. Tapi Eny langsung menolak semua itu mentah-mentah. Dia menyuruh Deka untuk langsung beristirahat saja. Alasannya karena tak baik membiarkan seorang istri tidur sendirian. Dan kini Deka sudah kembali di dalam kamar. Di atas kasur terlihat Milla tengah tertidur.
Dia tak mau membangunkan Milla. Jadi, Deka memilih untuk duduk-duduk sebentar di sofa. Deka membuka laptop yang tadi sempat ia minta dari Clio. Pria itu berencana melihat-lihat berita dan laporan dari Leo.
Deka mengecek ke arah email. Di sana dia dapat melihat banyaknya laporan dari Leo. Sebagian besar isi dari email-email itu tentang perusahaan Milla. Hanya dalam beberapa jam saja, Leo sudah dapat informasi yang sangat banyak. Saking banyaknya, Deka sampai tak sadar kalau ternyata sudah tengah malam saja.
__ADS_1
Pria itu melirik ke atas kasur. Entah kenapa perasaan Deka mengatakan kalau Milla tidak tidur. Deka jadi merasa bersalah. Tapi di sisi lain, dia merasa apa yang dilakukannya sudah benar. Sudah seharusnya dia melakukan hal itu. Hubungan mereka tidak sedekat itu. Di sini posisi Deka hanyalah orang asing yang ingin menolong Milla.
Merasa tak ada tanda-tanda Milla akan bangun, Deka memutuskan untuk turun ke bawah sebentar. Deka pergi ke arah dapur. Awalnya dia hanya ingin mengambil minum saja, tapi saat teringat tentang Milla yang belum makan, Deka memutuskan untuk memasak pasta untuk wanita itu. Untungnya semua bahannya lengkap di dapur. Jadi, Deka tak perlu repot-repot keluar untuk membeli bahannya.
Cukup butuh lima belas menit, pasta buatan Deka sudah siap. Deka membuat pasta yang cukup banyak karena ternyata dirinya juga mau memakan masakannya ini. Kemudian Deka langsung membawa hasil masakannya bersama air minum ke kamar.
Deka duduk kembali ke atas sofa. Dia melirik ke arah tempat tidur memastikan apakah Milla tidur atau tidak.
"Milla, kamu sudah bangun?" Tanya Deka seperti merasa kalau Milla sudah bangun. Tapi Milla tak membalas pertanyaan Deka. Pria itu beranggapan kalau Milla masih tidur. Deka mulai menyantap pasta yang tadi ia bawa. Jika Milla bangun, mungkin dia akan langsung memberikan pasta itu untuknya.
Kriuk, kriuk, Deka mendengar suatu suara dari arah kasur meski samar-samar. Hanya ada satu kesimpulan yang bisa Deka dapatkan, yaitu Milla tidak benar-benar tertidur.
Deka berjalan dan duduk di pinggiran kasur. Tak lupa membawa pasta tadi.
"Milla, ayo bangun, kamu belum makan daritadi siang. Ini aku buatkan pasta untukmu." Ucap Deka berharap Milla bangun. Deka kira Milla tidak akan membalas ucapannya. Tapi ternyata Milla malah langsung bangun. Wanita itu langsung mengubah posisinya menjadi duduk.
Deka yang melihat itu tersenyum senang. Ternyata perasaan tak salah. Milla memang terbangun dari tadi. Dan Deka yakin Milla pasti menahan rasa laparnya daritadi cuman karena kesal dengannya.
"Mau aku suapin?" Tawar Deka memancing Milla agar tidak terus-terusan marah padanya.
"Haih, gak usah. Aku bisa sendiri." Tolak Milla langsung.
Deka langsung menyerahkan mangkok berisi pasta buatannya itu ke Milla. Tanpa ada rasa malu, Milla langsung melahap pasta buatan Deka. Melihat wanita itu begitu lahap membuat Deka terkekeh. Dia yakin wanita itu pasti sudah menahan rasa laparnya daritadi.
Tak sampai lima menit, pasta buatan Deka sudah habis oleh Milla. Padahal tadi Deka masak dengan porsi yang cukup banyak. Mungkin cukup untuk 2 orang atau lebih.
__ADS_1
"ini sudah habis." Milla menyodorkan mangkok yang sudah kosong. Deka segera mengambilnya.
"Mau minum?"
"Hhmmm,,," Balas Milla cuek.
Deka menaruh mangkok kosong itu ke atas meja depan sofa dan mengambil segelas air yang tadi ia bawa. Diberikannya air itu untuk Milla.
"Ini, minumlah." Deka memberikan air itu untuk Milla.
Dalam beberapa tegukan, Milla sudah menghabiskan air minum itu. Saat gelasnya kosong, Milla memberikan kembali gelas itu pada Deka. Setelahnya Milla kembali membaringkan tubuhnya dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Mau langsung tidur? Gak baik loh habis makan langsung tidur." Ucap Deka.
Namun Milla tak mengubrisnya. Deka ingin tertawa rasanya saat itu juga. Wanita di hadapannya sungguh lucu.
"Oh, iya, besok aku akan kembali ke kantormu. Ada beberapa kerjaan di sana. Kamu boleh ikut kalau kamu mau." Ujar Deka.
Tapi nampaknya Milla masih kekeh tak mau membalas perkataan Deka.
"Satu lagi, mulai besok aku akan tempatkan satu orangku disampingmu. Dia akan bertugas membantumu saat kamu butuh bantuan." Sambung Deka.
Milla masih tak mengubrisnya.
"Hhm, ya sudah kalau kamu sudah tidur. Aku akan tidur di sofa. Kalau butuh apa-apa bisa langsung panggil aku." Deka meninggalkan Milla sendiri di atas kasur sementara dirinya kembali ke arah sofa.
__ADS_1
"Ah, pria bajing*n. Kenapa jadi cowok gak peka banget, sih!" Umpat Milla dalam hati.